Taliban Masuk Kabul, AS Evakuasi Diplomat Pakai Helikopter

* Indonesia Pertahankan Kedutaan di Kabul

212 view
Taliban Masuk Kabul, AS Evakuasi Diplomat Pakai Helikopter
Foto: AFP
PEMERIKSAAN: Seorang aparat keamanan Afghanistan memberhentikan seorang warga saat akan melewati pos pemeriksaan di satu jalan akses menuju pusat kota Kabul. Gerilyawan Taliban memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul, saat Amerika Serikat sedang mengevakuasi diplomat dari kedutaannya menggunakan helikopter, Minggu (15/8).
Kabul (SIB)
Gerilyawan Taliban memasuki ibu kota Afghanistan, Kabul, saat Amerika Serikat sedang mengevakuasi diplomat dari kedutaannya menggunakan helikopter, Minggu (15/8). Salah satu pejabat kementerian dalam negeri mengatakan, Taliban muncul dari berbagai sisi, namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Istana Kepresidenan Afghanistan mengatakan tembakan terdengar di sejumlah titik di Kabul. Pasukan keamanan pemerintah pun bekerja sama dengan mitra internasional berusaha mempertahankan kota itu.

Salah satu pejabat Taliban menyatakan, pihaknya tidak ingin ada korban jiwa saat mengambil alih wilayah. Namun, hingga kini belum ada pengumuman terkait gencatan senjata.

Sementara itu, pejabat AS mengatakan diplomat sedang diangkut ke bandara dari kedutaan di distrik Wazir Akbar Khan. Sekira 5 ribu tentara dikerahkan untuk membantu evakuasi itu. Anggota tim inti AS mengarahkan warga AS dari bandara Kabul. Sedangkan pejabat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengaku telah memindahkan staf Uni Eropa ke lokasi yang lebih aman dan rahasia.

Masuknya Taliban ke kota Kabul jauh lebih cepat dari perkiraan intelijen AS. Sebelumnya, mereka mengira ibu kota negara itu akan dikepung dalam waktu 30 hari dan jatuh ke tangan milisi dalam waktu 90 hari. Namun, selang beberapa hari setelah merebut Kandahar dan Herat, Taliban berhasil merangsek ke Kabul.

Taliban semakin gencar melakukan serangan usai Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menarik pasukan dari negara tersebut pada Mei lalu.

Hari-hari setelah itu, Taliban semakin beringas. Penduduk banyak yang mengungsi untuk melindungi dari dari pertempuran. Sementara pasukan pemerintah terus berusaha mempertahankan kota-kota strategis, utamanya ibu kota negara, Kabul. Kelompok itu berambisi menguasai seluruh wilayah Afghanistan dan mendirikan negara Islam. Dalam hitungan jam saja, Taliban telah merebut dua kota tanpa perlawanan, yakni Mazar-i-Sharif dan Jalalabad. Hal itu membuat pemerintah Afghanistan semakin terpukul.

Keberhasilan itu membuat Taliban “memegang semua kartu” di setiap penyerahan ibu kota yang sudah dinegosiasikan. Namun demikian, pada Sabtu (14/8) kemarin Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani berjanji tidak akan ada pertumpahan darah ketika milisi itu mendekati Kabul. Ia berencana memobilisasi kembali militer sembari mencari solusi politik untuk krisis tersebut. "Seorang delegasi dengan otoritas harus segera ditunjuk oleh pemerintah dan siap untuk negosiasi," kata Ghani.

Situasi yang terus memburuk juga menjadi kekhawatiran pihak internasional. Selain AS, negara lain juga akan segera mengevakuasi para diplomatnya dari Afghanistan. Misalnya, Finlandia yang akan mengevakuasi hingga 130 pekerja lokal Afghanistan. Jerman juga akan mengurangi staf diplomatiknya di Kabul. Kemudian Denmark dan Norwegia akan menutup sementara kantor kedutaan mereka di Kabul.

Sementara itu, bagi penduduk yang tinggal di ibu kota Afghanistan, dan puluhan ribu orang yang mencari perlindungan di wilayah itu mengalami kebingungan dan ketakutan. Para warga tidak bisa membayangkan, jika Taliban berkuasa sebagaimana pada 1996-2001 lalu. Di bawah pimpinan kelompok itu, seluruh perempuan tidak boleh mendapat pendidikan dan dilarang bekerja. Masyarakat juga terkekang dan tidak boleh melakukan sejumlah aktivitas seperti main musik atau menonton televisi non-keagamaan.

Pertahankan Kedutaan
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI menegaskan akan tetap mempertahankan kedutaan di Kabul, Afghanistan. Kedutaan dipertahankan demi melanjutkan hubungan yang kuat antara kedua negara, meski situasi di Afghanistan tengah memburuk. "Mengenai misi diplomatik Indonesia di Kabul, belum terdapat rencana pemerintah untuk menutup misi tersebut," kata Dirjen Asia Pasifik-Afrika Kemlu, Abdul Kadir Jailani, Minggu (15/8).

Kadir melanjutkan, misi akan dioperasikan oleh tim esensial yang terdiri dari unsur diplomat maupun unsur keamanan. Pemerintah, kata Kadir, terus memantau situasi dan kondisi di lapangan serta melakukan komunikasi intensif dengan banyak pihak, terutama Pemerintah Afghanistan, Taliban, dan misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Afghanistan.

Selain berdasarkan analisa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), pantauan situasi dan kondisi di Afghanistan juga dilakukan melalui komunikasi dengan misi PBB di Afghanistan, perwakilan-perwakilan asing di Kabul, Pemerintah Afghanistan, dan pihak lain yang masih terkait.

Dengan pertimbangan situasi Afghanistan terkini, pemerintah Indonesia berencana melakukan evakuasi terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Afghanistan dalam waktu dekat. "Keselamatan dan kesehatan WNI, termasuk staf KBRI tentunya menjadi prioritas perhatian pemerintah," ujar Kadir.

Total WNI di Afghanistan saat ini berjumlah enam orang. Rinciannya, dua orang bekerja di PBB, dua ekspatriat, dan dua lainnya menikah dengan warga lokal Afghanistan.

Sebelumnya, salah satu juru bicara Taliban, Suhail Shaheen mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan delegasi Islamic Emirate of Afghanistan (IEA), Wakil Kepala Politik Taliban Maulvi Abdul Hanafi, dan perwakilan Kementerian luar negeri Indonesia, Abdul Kadir Jailani.

Dalam pertemuan itu, kata Suhail, mereka membahas proses perdamaian yang sedang berlangsung dan status quo Afghanistan. "Pak Abdul Kadir Jailani menegaskan kembali dukungan negaranya untuk proses perdamaian Afghanistan, dengan mengatakan, 'Kami akan mempertahankan kedutaan kami di Kabul untuk kelanjutan hubungan yang kuat antar kedua negara," tulis Suhail dalam akun Twitter miliknya, Sabtu (14/8). Sementara delegasi IEA, lanjutnya, tidak akan membuat masalah di misi diplomatik, lembaga swadaya masyarakat (LSM), staf lokal, dan asing mereka. Namun, mereka bermaksud menyediakan lingkungan yang aman baginya. "Kami telah memberikan keamanan yang diperlukan kepada mereka di kota-kota di bawah kendali kami," tegas Suhail.

Taliban semakin mengintensifkan serangan usai Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menarik pasukan dari negara tersebut. Kelompok itu berambisi menguasai seluruh wilayah Afghanistan dan mendirikan negara Islam.

Sejauh ini, sudah ada beberapa kota yang berhasil direbut Taliban. Diantaranya, Kandahar, Herat, Mazar-i-Sharif, dan Jalalabad. Kota-kota tersebut merupakan deretan kota terbesar di negara itu. Taliban juga dilaporkan menduduki 20 dari 34 provinsi di Afghanistan. Sementara itu, Pemerintah Afghanistan sendiri hanya menguasai beberapa provinsi di kawasan tengah, timur dan ibu kota Kabul. (Rtr/CNNI/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com