3 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Fasilitas Cuci Tangan di Rumah

UNICEF: Cuci Tangan Penting Perangi Penyakit Menular Termasuk Covid-19

* Indonesia Koordinasi dengan WHO Rencana Pelaksanaan Vaksinisasi

179 view
iStockphoto
Ilustrasi mencuci tangan
Jakarta (SIB)
Mencuci tangan dengan sabun sangat penting dalam memerangi penyakit menular, termasuk Covid-19. Meski begitu, ternyata miliaran orang di seluruh dunia masih belum memiliki ketersediaan akses untuk dapat melakukannya. Demikian disampaikan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada Kamis (15/10).

Menurut perkiraan terbaru UNICEF, 40 persen populasi di dunia, atau 3 miliar orang, tidak memiliki fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun di rumah. Angka ini jauh lebih tinggi di negara-negara kurang berkembang, di mana hampir tiga perempatnya tidak memiliki fasilitas tersebut.

Kelly Ann Naylor, Direktur Asosiasi Air, Sanitasi dan Kebersihan di UNICEF, mengatakan "tidak dapat diterima" bahwa masyarakat yang paling rentan tidak bisa menggunakan metode paling sederhana untuk melindungi diri mereka dan orang-orang yang mereka sayangi.

"Pandemi telah menyoroti peran penting kebersihan tangan dalam pencegahan penyakit. Ini juga menekankan masalah yang sudah ada sebelumnya bagi banyak orang, yakni mencuci tangan dengan sabun tetap berada di luar jangkauan bagi jutaan anak di tempat mereka dilahirkan, tinggal, dan belajar," ujar Kelly Ann Naylor seperti dikutip dari Xinhua, Jumat (16/10).

"Kita harus segera mengambil tindakan agar mencuci tangan dengan sabun dapat diakses oleh semua orang, di mana saja, baik sekarang maupun di masa depan," lanjutnya.

Situasi Mengkhawatirkan
Situasi ini juga mengkhawatirkan di sejumlah sekolah, dengan 43 persen sekolah secara global (70 persen di negara-negara kurang berkembang) tidak memiliki fasilitas cuci tangan dengan air dan sabun, yang memengaruhi ratusan juta anak usia sekolah, menurut perkiraan itu.

Dengan latar belakang ini, UNICEF, bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), meluncurkan inisiatif "Kebersihan Tangan untuk Semua" guna mendukung pengembangan strategi nasional untuk mempercepat dan mempertahankan kemajuan dalam menjadikan kebersihan tangan sebagai dasar dalam intervensi kesehatan masyarakat.

Upaya ini juga berarti meningkatkan akses ke fasilitas cuci tangan, air, sabun dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) di seluruh tempat dengan cepat, serta mempromosikan intervensi perubahan perilaku untuk praktik kebersihan tangan yang optimal, papar UNICEF.

Inisiatif tersebut mempersatukan mitra internasional, nasional, dan lokal, guna memastikan sejumlah produk dan layanan yang terjangkau tersedia dan berkelanjutan, terutama di komunitas-komunitas yang rentan dan kurang mampu.

Perkiraan itu dirilis pada Kamis, bertepatan dengan Hari Cuci Tangan Sedunia, yang berperan sebagai platform untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mencuci tangan dengan sabun.

Hari Cuci Tangan Sedunia jatuh pada 15 Oktober setiap tahun. Kampanye global tersebut didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran mencuci tangan menggunakan sabun sebagai faktor kunci dalam pencegahan penyakit.

Hari Cuci Tangan Sedunia diinisiasi oleh Kemitraan Cuci Tangan Global pada Agustus 2008 pada Pekan Air Sedunia tahunan di Stockholm, Swedia. Artinya, Hari Cuci Tangan Sedunia pertama berlangsung pada 15 Oktober 2008 dan tanggal tersebut ditetapkan oleh Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Koordinasi
Pada kesempatan terpisah, pemerintah menempuh berbagai upaya untuk memastikan ketersediaan vaksin corona bagi warga Indonesia.

Tercatat, Indonesia menjalin kerja sama dengan beberapa negara untuk mendapatkan vaksin. Salah satunya dengan produsen vaksin asal China Sinovac. Vaksin dari Sinovac kini tengah diuji klinis di Bandung.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan kerja sama dengan beberapa negara untuk menemukan vaksin corona tersebut dilaporkan kepada WHO. Hal itu diungkapkan saat Menlu Retno Marsudi berkunjung ke kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss.

"Delegasi Indonesia memberikan update mengenai pengelolaan Covid-19 di Indonesia. Dan kami juga menjelaskan upaya Indonesia untuk mendapatkan vaksin bekerja sama dengan beberapa negara," ujar Retno dalam konferensi pers pada Jumat (16/10).

"Kami juga menjelaskan mengenai rencana vaksinasi dan sepakat dengan WHO untuk terus melakukan koordinasi dan komunikasi, baik dalam persiapan maupun pelaksanaan vaksinasi," lanjutnya.

Tak hanya itu, Retno menyatakan pihaknya juga menyampaikan usaha peneliti Indonesia menciptakan vaksin merah putih.

Diketahui vaksin merah putih merupakan upaya peneliti Indonesia yang berupaya memproduksi vaksin dalam negeri sebagai langkah jangka panjang. Pengerjaan vaksin tersebut dikomandoi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan ditargetkan bisa tersedia pada 2022.

"Kami juga memberikan update mengenai upaya para ahli Indonesia mengembangkan vaksin nasional kita, Vaksin Merah Putih," kata Retno.

Dalam kesempatan itu, kata Retno, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juta mengapresiasi peran Indonesia dalam Foreign Policy and Global Health di mana RI sebagai Ketua.

Setelah pertemuan itu, Retno berharap pemerintah dan WHO sepakat untuk terus meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam pengelolaan pandemi dan kerja sama strategis lainnya di bidang kesehatan. (Liputan6.com/kumparan/d)
Penulis
: Redaksi