Vaksin Corona Dijual di Situs Gelap, Belinya Pakai Bitcoin


281 view
Foto: Agung Pambudhy
Vaksin Corona 
Jakarta (SIB)
Studi yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap bahwa vaksin virus Corona (Covid-19) beredar di "dark web" atau situs gelap.

Dilansir CBS News, Selasa (9/3), penjual di 15 situs gelap yang berbeda telah menyebarkan ratusan dosis yang mereka duga adalah vaksin Covid-19.

"Ada bukti yang menunjukkan bahwa beberapa penjual ini memberikan dosis nyata," kata Dmitry Galov, peneliti di Kaspersky yang memimpin studi penjualan vaksin online terlarang.

"Ada gambar kemasan dan sertifikat medis. Sepertinya beberapa dari orang-orang ini memiliki akses di dalam ke institusi medis," sambungnya.

Harga vaksin dibanderol hingga US$ 1.200 per pop. Peneliti Kaspersky yang menyelesaikan studi mereka dua minggu lalu mengatakan beberapa penjaja vaksin telah menyelesaikan sebanyak 500 transaksi.

Galov mengatakan, harga vaksin di situs gelap mengalami kenaikan baru-baru ini dan semua penjualan dilakukan menggunakan uang kripto alias cryptocurrency seperti bitcoin sehingga membuatnya sulit dilacak.

Tetapi setidaknya beberapa penjual mengklaim bahwa mereka berada di Amerika Serikat (AS) berdasarkan penelitian tersebut. Penjual lain mengatakan mereka berbasis di Eropa.

Salah satu iklan vaksin yang ditemukan peneliti Kaspersky menyatakan bahwa mereka tidak menjual vaksin tetapi menerima sumbangan sebagai ganti dosis.

"Donasi Anda akan membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa, jadi tolong tunjukkan kemurahan hati Anda," demikian tertera dalam penawaran tersebut.

Mereka juga menginstruksikan pendonor untuk mengirim US$ 81 dalam bentuk bitcoin per dosis yang diminta dimuka, bersama dengan nama, alamat, dan penyakit atau kondisi medis yang diketahui untuk mendapatkan pengiriman vaksin. Penjual juga menyatakan bahwa persediaan terbatas.

"Kami dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa secepat mungkin," sebut iklan tersebut.

Tak Masuk RI
Sementara itu, Otoritas di China dan Afrika Selatan beberapa waktu lalu melaporkan adanya sindikat pemalsu vaksin Corona. Dikutip dari BBC, ribuan dosis vaksin palsu yang dihasilkan diselundupkan ke luar negeri. Menanggapi hal itu, Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan, vaksin Covid-19 di Indonesia terjamin keasliannya. Ini karena vaksin diperoleh berdasarkan skema pemerintah ke pemerintah atau disebut juga "G to G", yang artinya vaksin berasal dari sumber resmi.

"Memalsukan vaksin Covid-19 adalah kejahatan yang membahayakan nyawa masyarakat di tengah pandemi. Hingga saat ini sindikat semacam itu tidak ditemukan di Indonesia," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Senin (8/3).

"Semua vaksin yang ada diperoleh berdasarkan skema G to G, jadi keaslian vaksin dijamin," lanjutnya.

Pemerintah disebut akan tetap memantau isu vaksin palsu ini. Pemerintah juga akan membantu mengedukasi dan berkoordinasi dengan perusahaan dalam program "Vaksinasi Gotong Royong" sehingga vaksin yang didapat merupakan barang asli.

"Jenis vaksin yang digunakan pastinya harus sudah mendapat izin penggunaan darurat atau nomor distribusi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI," pungkas Wiku.

Tak Percaya
Terpisah, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyebut ada sebanyak 17 persen masyarakat Indonesia yang masih tak percaya virus Corona Covid-19. Padahal, sudah banyak korban jiwa akibat penyakit ini.

"Orang tidak percaya Covid masih ada yang mengatakan 17 persen warga negara kita tidak percaya Covid, ini katanya rekayasa, ini katanya konspirasi," kata Doni dalam konferensi pers BNPB, Selasa (9/3).

"Padahal kenyataannya yang meninggal secara global sudah lebih dari 2 juta orang. Di negara kita sudah sudah 37 ribu orang saudara-saudara kita yang wafat," tambahnya.

Doni Monardo pun merasa geram dan mempertanyakan apa alasan mereka yang masih tidak mempercayai Covid-19.
"Apalagi alasannya untuk tidak percaya dengan Covid ini? Saya kebetulan salah satu penyintas. Saya bisa merasakan betapa ganasnya Covid ini," ujarnya.

Menurut Doni, apabila kita tidak berhati-hati dan secara tak sengaja menularkan virus Corona ke kelompok rentan, seperti lansia dan orang yang memiliki komorbid, itu bisa berbahaya bagi kesehatan mereka.

Doni mengatakan, sebanyak 85 persen orang yang meninggal akibat Covid-19 adalah mereka yang memiliki komorbid dan berusia di atas 47 tahun.

"Jadi kalau kita memahami bagaimana ancaman Covid, kemudian kelompok yang relatif muda ini bisa memisahkan diri dan tidak sering berhubungan dengan kelompok rentan, mereka terpapar Covid jadi OTG pada akhirnya akan pulih," ucap Doni.
"Tapi begitu menyerang mereka yang lansia dan punya komorbid risikonya sangat fatal, apalagi jika terlambat dibawa ke rumah sakit," tuturnya. (detikfinance/detikhealth/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Tag:Vaksin
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com