Vaksin Corona Palsu di Meksiko Dijual Rp28 Juta, di Brasil Petugas Medis Suntikkan Jarum Kosong

* Sepertiga Tentara AS Tolak Vaksin Corona

138 view
iStockphoto/Vladans
Ilustrasi vaksin corona.
Jakarta (SIB)
Kepolisian Meksiko membekuk enam anggota komplotan penjual vaksin corona (Covid-19) palsu.

Dilansir Associated Press, Jumat (19/2), peristiwa itu terjadi di perbatasan negara bagian Nuevo Leon.

Menurut Wakil Menteri Kesehatan Meksiko, Hugo Lopez-Gatell, komplotan itu menjual vaksin corona Pfizer palsu seharga US$2000 (Rp28 juta) untuk setiap dosis. Padahal, vaksin itu hanya bisa diperoleh melalui program vaksinasi dari pemerintah.

"Anda tidak bisa main-main dengan kesehatan, apalagi di masa pandemi, tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan," kata Menteri Sosial Meksiko, Rosa Icela Rodriguez.

Para pakar sudah mengkhawatirkan kejadian seperti ini. Mereka cemas kelompok kejahatan yang ada di Meksiko berupaya mencuri, membajak atau menjual vaksin palsu di masa pandemi demi meraup keuntungan.

Sebab sebelumnya sudah terjadi tindak pencurian obat-obatan dan tabung oksigen.

Saat ini pemerintah Meksiko mempunyai persediaan satu juta dosis vaksin corona. Namun, sekitar 750 ribu dosis akan diprioritaskan bagi tenaga kesehatan yang menangani langsung pasien virus corona.

Jumlah kasus virus corona di Meksiko saat ini mencapai 2 juta. Sebanyak 177.061 pasien di antaranya meninggal.

Disuntik Jarum Kosong
Sementara itu, Kepolisian Brasil tengah menyelidiki dugaan penipuan vaksinasi corona di Kota Rio de Janeiro, Rabu (17/2).

Penyelidikan dilakukan setelah polisi mendapat laporan sejumlah foto yang memperlihatkan sekelompok petugas medis menyuntikkan jarum suntik dengan tabung kosong tanpa isi vaksin Covid-19 ke lengan beberapa lansia.

Kepolisian meminta petugas medis dan pemerintah daerah membantu mengklarifikasi dugaan tersebut. Polisi juga ingin memastikan apakah dosis-dosis vaksin yang telah disiapkan pemerintah selama ini benar-benar digunakan tepat sasaran.

Polisi setidaknya sudah menerima tiga laporan kasus serupa di Rio de Janeiro. Media lokal menggambarkan kasus itu sebagai kasus "shots of air" atau "suntikan udara" di mana para petugas medis memberikan suntikan palsu dengan tabung jarum suntik yang kosong.

Dikutip Reuters, sejumlah video beredar di media sosial menunjukkan bahwa petugas kesehatan menyuntikkan jarum suntik kosong ke lengan orang-orang.

Sementara itu, Dewan Keperawatan Rio de Janeiro mengatakan para petugas yang terekspos dalam video itu telah dipecat. Sementara itu, para lansia yang menjadi penipuan telah mendapat suntikan vaksin corona asli.

Jika penyelidikan kepolisian Brasil benar-benar menemukan tindak penipuan vaksinasi, para pelaku yang terlibat bisa dikenakan sanksi hingga 12 tahun penjara.

Tolak Vaksin
Terpisah, Pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat memaparkan sekitar sepertiga dari total personel militer Negeri Paman Sam menolak menerima vaksin corona. Padahal, tingkat penularan corona antar-personel AS cukup signifikan.

Hal itu diungkapkan oleh Mayor Jenderal Jeff Taliaferro dalam sidang Kongres Rabu (17/2). Ia menganggap keengganan para pasukan AS menerima vaksin itu disebabkan karena belum ada kewajiban dari Pentagon soal vaksinasi personel militer.

"Tingkat penerimaan vaksin sekitar dua pertiga. Angka tersebut didasari pada data survei awal," kata Taliaferro.

Sementara itu, secara terpisah, juru bicara Kemhan AS, John Kirby, mengatakan sejauh ini pihaknya tak memiliki data lengkap jumlah personel yang telah melakukan vaksinasi Covid-19. Namun, ia memperkirakan sejauh ini lebih dari 916.500 personel telah melakukan vaksinasi corona.

Kirby mengatakan tingginya penolakan terhadap vaksinasi corona di tubuh militer sama dengan tren yang terjadi pada masyarakat luas.

Selain tak ada kewajiban, Kirby menganggap ketersediaan vaksin yang masih terbatas juga menjadi salah satu faktor banyak personel militer yang belum melakukan vaksinasi.

"Di militer, kami pada dasarnya mencerminkan tingkat penerimaan masyarakat Amerika," kata Kirby kepada wartawan seperti dikutip AFP.

Selama ini, pemerintah menggandeng militer dan Garda Nasional membantu vaksinasi masyarakat umum.

Kirby mengatakan pada akhir pekan ini, lebih dari satu juta anggota militer akan melakukan vaksinasi corona. Ia mengatakan selama ini Pentagon mewajibkan para personel militer melakukan sejumlah vaksinasi penyakit lainnya.

Namun, karena vaksin Covid-19 masih dalam tahap penggunaan darurat, Kirby menuturkan pihaknya tidak bisa memaksakan inokulasi vaksin tersebut terhadap para personel militer.

"Ada batas nyata, secara hukum, yang kami miliki, untuk mewajibkan (vaksinasi) bagi pasukan dan keluarga mereka," kata Kirby.

Terlepas dari angka penerimaan vaksin, Kirby menekankan bahwa Menhan Lloyd Austin telah mendapatkan vaksinasi corona.

"Yang diharapkan Menhan adalah agar para pria dan wanita di kementeriannya membuat keputusan terbaik dan paling tepat untuk mereka dan kesehatan mereka serta keluarga mereka," ujarnya. (CNNI/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com