Varian Delta Mengganas, Jutaan Warga China Di-lockdown

* Corona Disebut Bocor dari Lab Wuhan Sebelum September 2019

255 view
Varian Delta Mengganas, Jutaan Warga China Di-lockdown
Foto:gettyimages/aa.com
LOCKDOWN: Petugas keamanan menjaga akses masuk saat petugas Covid-19 China melakukan lockdown di satu pemukiman di Kota Nanjing, Senin (2/8). Jutaan warga China diimbau untuk tetap berada di rumah masing-masing saat negara tersebut berupaya mengendalikan wabah baru virus corona varian Delta.
Beijing (SIB)
Jutaan warga China diimbau untuk tetap berada di rumah masing-masing saat negara tersebut berupaya mengendalikan wabah baru virus corona varian Delta. Otoritas China melakukan tes massal dan pembatasan perjalanan demi mengatasi wabah yang disebut yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Seperti dilansir AFP, Senin (2/8), otoritas China melaporkan 55 kasus penularan lokal terbaru dalam 24 jam terakhir, saat wabah varian Delta semakin meluas hingga ke lebih dari 20 kota dan belasan provinsi di wilayahnya. Pemerintah lokal di berbagai kota besar termasuk ibu kota Beijing melakukan tes corona massal terhadap jutaan warga, sambil menutup sejumlah kompleks permukiman dan menempatkan orang-orang yang terlibat kontak dekat pasien corona dalam karantina.

Kota Zhuzhou di Provinsi Hunan memerintahkan lebih dari 1,2 juta warganya mulai Senin (2/8) waktu setempat, untuk tetap berada di rumah selama lockdown ketat diberlakukan untuk tiga hari ke depan. Otoritas kota Zhuzhou juga melakukan tes dan vaksinasi corona massal terhadap seluruh warganya. "Situasinya masih suram dan rumit," sebut pemerintahan kota Zhuzhou dalam pernyataannya.

China sebelumnya membanggakan kesuksesan dalam mengendalikan kasus-kasus penularan lokal di wilayahnya sejak virus corona pertama terdeteksi di Wuhan pada akhir tahun 2019, sehingga memungkinkan perekonomiannya untuk pulih.

Namun kemunculan wabah terbaru beberapa waktu terakhir, yang terkait klaster penularan di Nanjing, Provinsi Jiangsu, di mana sembilan pekerja kebersihan bandara internasional dinyatakan positif corona pada 20 Juli lalu, mengancam kesuksesan itu. Lebih dari 360 kasus penularan lokal dilaporkan tercatat di wilayah China dalam dua pekan terakhir.

Di kota wisata Zhangjiajie, dekat Zhuzhou, wabah baru menyebar sejak bulan lalu di kalangan pengunjung pertunjukan teater yang tertular dan membawa pulang virus corona ke asal mereka di berbagai wilayah China. Otoritas kota Zhangjiajie juga menerapkan lockdown terhadap seluruh 1,5 juta warganya dan menutup semua daya tarik wisata sejak Jumat (30/7) lalu.

Otoritas setempat mencari orang-orang yang baru-baru ini bepergian ke Nanjing atau Zhangjiajie, dan mendesak para turis untuk tidak mengunjungi area-area dengan kasus corona tinggi.

Sementara di ibu kota Beijing, otoritas setempat melarang masuk para turis selama masa liburan musim panas. Hanya para 'pelancong esensial' dengan hasil tes PRC negatif yang diperbolehkan masuk, setelah terdeteksi sejumlah kasus corona di kalangan penduduk setempat yang baru pulang dari Zhangjiajie.

Para pejabat tinggi Beijing, pada Minggu (1/8) waktu setempat, menyerukan warga untuk tidak meninggalkan Beijing kecuali jika diperlukan. Pekan lalu, sedikitnya 41.000 warga yang tinggal di sembilan kompleks permukiman di distrik Changping, Beijing, di-lockdown.

Kasus-kasus baru corona juga dilaporkan pada Senin (2/8) waktu setempat di tujuan wisata populer Hainan dan Provinsi Henan yang baru saja diterjang banjir. Sementara pihak berwenang Wuhan langsung meluncurkan testing untuk seluruh penduduk usai kembali melaporkan infeksi virus corona.

Kasus tersebut merupakan penularan Covid-19 pertama dalam setahun. "Dengan cepat meluncurkan testing asam nukleat komprehensif untuk seluruh penduduk," ujar pejabat senior Wuhan, Li Tao dalam konferensi pers, dikutip AFP, Selasa (3/8).

Metode Tes asam nukleat atau Tes Cepat Molekuler (TCM) menggunakan dahak dengan mengembangkan asam nukleat berbasis cartridge. Sementara, virus corona diidentifikasi pada RNA yang menggunakan catridge. Kemarin, Senin (2/8) pemerintah kota Wuhan mengumumkan tujuh kasus Covid-19 lokal, yang ditemukan di antara pekerja migran di kota itu.

Penemuan kasus itu memecahkan rekor Wuhan, yang selama setahun tidak menemukan kasus domestik. Nihilnya kasus di kota tersebut, lantaran Pemerintah Kota setempat melakukan penguncian yang ketat pada awal 2020, untuk menekan laju penyebaran virus corona. Wuhan menjadi kota pertama yang melaporkan kasus Covid-19 pada November 2019 lalu.

Kota itu juga sempat menjadi episentrum virus corona sebelum mengglobal seperti sekarang. Namun, dengan pembatasan yang super ketat, Wuhan berhasil meredam virus hingga tidak melaporkan kasus dalam kurun waktu satu tahun. Wuhan juga dilaporkan sudah bebas Covid. Masyarakat diperbolehkan tidak memakai masker dan berkumpul dalam jumlah besar.

Bocor
Sementara itu, satu laporan yang dirilis partai Republik Amerika Serikat memaparkan banyak bukti yang menyatakan virus corona berasal dari kebocoran laboratorium di Wuhan. Laporan itu bahkan menuturkan virus corona muncul dan menyebar dari Institut Virologi Wuhan (WIV) sebelum September 2019, beberapa bulan lebih awal dari kasus Covid-19 pertama dikonfirmasi China sekitar Desember 2019.

"Kami sekarang percaya sudah waktunya untuk sepenuhnya mengabaikan teori bahwa virus berasal dari pasar tradisional. Kami percaya banyak bukti yang membuktikan bahwa virus memang bocor dari WIV dan itu terjadi sebelum 12 September 2019," bunyi laporan panel Partai Republik tersebut.

Laporan yang dirilis politikus Partai Republik di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS, Mike McCaul, pada Senin (2/8) itu menuturkan banyak bukti yang menunjukkan para ilmuwan di WIV sedang melakukan penelitian memodifikasi virus corona agar dapat menular ke manusia, dan manipulasi semacam itu dapat disembunyikan.

Dikutip Reuters, laporan itu juga mengutip soal protokol keselamatan laboratorium WIV yang selama ini dinilai kurang disorot. Pada Juli 2019, beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19 muncul dan menyebar, WIV mengajukan permintaan perbaikan sistem pengolahan limbah berbahaya senilai US$1,5 juta. Padahal, sistem pengolahan limbah WIV masih berusia kurang dari dua tahun.

Asal usul virus corona yang telah menyebar dan menginfeksi hampir 200 juta orang di dunia itu memang masih menjadi perdebatan sengit, terutama antara Amerika Serikat dan China. AS berkeras China tidak transparan dengan data dan penanganan di awal kemunculan virus serupa SARS tersebut.

Sementara itu, China membantah tudingan AS dan banyak pihak soal upaya menutupi beberapa informasi penting terkait asal usul kemunculan virus SARS-CoV-2 itu. AS dan banyak negara menuntut penyelidikan lebih lanjut asal mula corona, terutama ke Institut Virologi Wuhan. Virus corona disebut muncul dan menyebar ketika laboratorium itu sedang melakukan penelitian tentang kelelawar.

Pada Februari lalu, tim yang dipimpin peneliti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghabiskan empat minggu di Wuhan untuk melakukan penelitian asal usul virus corona bersama dengan para peneliti China.

Dalam laporan bersama sebulan kemudian, tim WHO menyatakan bahwa virus itu mungkin ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain. Banyak pihak merasa kecewa dengan penyelidikan bersama WHO dan China itu lantaran dinilai tidak memberikan informasi baru dan berarti soal asal mula virus corona.

Kepala tim peneliti WHO dalam misi itu bahkan sempat mengeluh bahwa mereka kesulitan mendapat dan mencari data selama penyelidikan akibat dibatasi oleh pihak China. Baru-baru ini, WHO juga kembali mengajukan studi fase kedua soal asal usul corona di China, termasuk ke laboratorium Wuhan. Namun, China kembali menolak mentah-mentah usulan tersebut. (AFP/CNNI/dtc/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com