WHO: Cacar Monyet Belum Perlu Vaksinasi Massal

* Bukti Virus Cacar Monyet Bermutasi Belum Ditemukan

235 view
WHO: Cacar Monyet Belum Perlu Vaksinasi Massal
Foto: Net
Ilustrasi sampel pengujian penyakit cacar monyet.

Jakarta (SIB)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, wabah cacar monyet (monkeypox) yang kini banyak terjadi di luar Afrika, belum memerlukan vaksinasi massal.


Gaya hidup sehat dan perilaku seksual yang aman, masih cukup efektif mengendalikan penyebaran cacar monyet.


Dalam wawancaranya dengan Reuters, Richard Pebody, Bos WHO Eropa yang khusus mengurusi ancaman patogen tingkat tinggi mengatakan, saat ini stok vaksin dan antivirus untuk cacar monyet relatif terbatas.


Komentar tersebut disampaikan Pebody, menanggapi pernyataan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), yang mengaku sedang dalam proses merilis beberapa dosis vaksin Jynneos, untuk penanganan kasus cacar monyet.


Senin (23/5) lalu, pemerintah Jerman mengumumkan, pihaknya sedang menguji berbagai opsi untuk vaksinasi cacar monyet. Sedangkan Inggris, sudah menawarkan vaksin cacar monyet ke kalangan petugas kesehatan.


Otoritas Kesehatan Masyarakat di Eropa dan Amerika Utara kini sedang menyelidiki lebih dari 100 kasus probable dan konfirmasi cacar monyet, yang merajalela di luar wilayah endemik Afrika.


Hingga saat ini, penyakit tersebut telah terlacak di 12 negara.


"Upaya pertama yang perlu dilakukan untuk memutus penyebaran cacar monyet adalah pelacakan kontak dan isolasi," kata Pebody, Selasa (24/5).


Menurutnya, virus cacar monyet tergolong tidak gampang menyebar, dan tidak mengakibatkan penyakit serius.


"Vaksin yang digunakan untuk memerangi cacar monyet, dapat memiliki beberapa efek samping yang signifikan," ungkap Pebody.


Hingga saat ini, para ilmuwan belum dapat memastikan, apa yang menyebabkan cacar monyet menyebar di sejumlah negara.


Mayoritas orang yang telah didiagnosis dalam wabah cacar monyet saat ini adalah pria yang berhubungan seks dengan pria (gay).


Terkait hal tersebut, WHO menilai, fakta ini mungkin saja mencuat karena kelompok demografi ini cenderung lebih banyak mencari nasihat medis, atau lebih gampang mengakses pemeriksaan kesehatan seksual.


"Sebagian besar kasus yang dikonfirmasi, belum dikaitkan dengan perjalanan ke Afrika. Sehingga, mungkin saja, ada banyak kasus yang tidak terdeteksi," beber Pebody.


Beberapa otoritas kesehatan bahkan menduga, kasus ini sudah menyebar secara komunitas.


"Yang kita lihat saat ini, hanyalah puncak gunung es," imbuhnya.


Cacar monyet yang terus menyebar, dan minimnya kejelasan tentang apa yang mendorong penularan penyakit tersebut, memicu kekhawatiran peningkatan jumlah kasus di tengah maraknya acara berskala besar dalam musim panas ini.


"Saya tidak meminta untuk stop bersenang-senang, atau tidak menghadiri acara ini itu. Yang paling penting, kita harus tetap menjaga protokol kesehatan. Jagalah perilaku seksual Anda, upayakan kebersihan, dan cuci tangan secara teratur. Semua itu dapat membatasi penularan virus cacar monyet," pungkas Pebody.


Bermutasi

WHO juga menyatakan belum menemukan bukti virus cacar monyet bermutasi. Menurut laporan Reuters, Senin (23/5), seorang eksekutif senior mengatakan virus penyakit menular yang telah mewabah di Afrika barat dan tengah itu cenderung tidak berubah.


Rosamund Lewis, kepala sekretariat cacar yang merupakan bagian dari Program Darurat WHO, mengatakan kemungkinan mutasi cenderung lebih rendah dengan virus ini. Meskipun demikian, urutan genom kasus akan membantu menginformasikan pemahaman tentang wabah saat ini.


Pakar kesehatan memperhatikan mutasi yang bisa membuat virus lebih mudah menular atau parah.


"Lebih dari 100 kasus yang diduga dan dikonfirmasi dalam wabah baru-baru ini di Eropa dan Amerika Utara belum parah. Ini adalah situasi yang dapat dikendalikan," khususnya di Eropa. Tapi kita tidak bisa mengabaikan apa yang terjadi di Afrika, di negara-negara endemik," kata Maria van Kerkhove, pemimpin penyakit dan zoonosis WHO dan pemimpin teknis Covid-19.


Wabah cacar monyet tergolong tidak biasa, menurut WHO, terjadi di negara-negara di mana virus tidak bersirkulasi secara teratur. Para ilmuwan sedang berusaha memahami asal usul kasus dan apakah ada yang berubah tentang virus tersebut.


WHO meminta klinik dermatologi dan layanan kesehatan primer, serta klinik kesehatan seksual, untuk waspada terhadap kasus-kasus potensial.


Sebagian orang yang telah didiagnosis dalam wabah cacar monyet saat ini adalah pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL).


Para pejabat mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan alasannya, tetapi demografi ini mungkin mencari nasihat medis atau memiliki akses ke pemeriksaan kesehatan seksual.


Cacar monyet biasanya tidak menyebar dengan mudah di antara orang-orang, tetapi dapat ditularkan melalui kontak orang-ke-orang yang dekat atau kontak dengan barang-barang yang digunakan oleh orang yang menderita cacar monyet, seperti pakaian, tempat tidur, atau peralatan makan. (RM/SP/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com