* 56 Negara Gagal Capai Target Vaksinasi 10 Persen

WHO: Orang yang Tidak Divaksin Mati Sia-sia

* Ribuan Warga “Daftar Hitam” Masih Nekat Masuk Mal-Toko

167 view
WHO: Orang yang Tidak Divaksin Mati Sia-sia
Photo by Fabrice Coffrini/AFP via Getty Images
Pimpinan teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove 
Jakarta (SIB)
Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa orang-orang yang tidak divaksinasi 'mati secara sia-sia' akibat Covid-19. WHO pun mengingatkan bahwa ketimpangan vaksin global sebagai salah satu hambatan utama untuk melawan virus Corona.

Dalam sesi tanya-jawab di saluran media sosialnya seperti dilansir CNBC.com, Rabu (6/10), para pejabat WHO menyampaikan bahwa sekitar 56 negara gagal mencapai tujuan target WHO dalam melakukan vaksinasi sebesar 10% dari jumlah populasi hingga akhir September.

Pimpinan teknis Covid-19 WHO, Maria Van Kerkhove mengatakan, meningkatkan akses vaksin akan membantu mengurangi kematian akibat Covid-19 dan rawat inap di saat dunia telah mencatat nyaris 5 juta kematian terkait virus tersebut.

"Tidak memenuhi target adalah hal yang menyedihkan; ini lebih dari menyedihkan, lebih dari frustrasi," tutur Kerkhove.
Lebih lanjut ia menambahkan, "Ini tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, saya harus mengatakan, karena jika kita telah menggunakan lebih dari 6 miliar vaksin yang telah diberikan hari ini dengan berbeda, kita akan berada dalam situasi yang sangat, sangat berbeda sekarang."

Menurut Kerkhove, data vaksin Covid-19 dengan jelas menunjukkan bahwa vaksin merupakan hal yang aman dan efektif untuk mencegah rawat inap maupun kematian.

"Vaksin-vaksin itu hanya perlu dapat diakses untuk lebih banyak orang," ucapnya. "Hasil dari ini (ketimpangan vaksin) adalah orang-orang yang mati sia-sia," imbuhnya.

Pernyataan Van Kerkhove menegaskan kembali pernyataan para pejabat kesehatan Amerika Serikat bahwa hampir semua kematian nasional karena Covid-19 terjadi pada pasien yang tidak divaksinasi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS pada 10 September lalu melaporkan orang yang tidak divaksinasi lebih rentan meninggal karena Corona dengan kemungkinan 11 kali lipat. Sementara itu, orang yang tidak divaksin 10 kali lebih mungkin memerlukan rawat inap untuk gejala yang dimiliki dan sekitar 4,5 kali lebih rentan tertular virus secara keseluruhan.

HERAN
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku heran masih banyak warga di Indonesia yang nekat masuk mal, toko, hingga perkantoran meski statusnya terkonfirmasi positif Covid-19 di PeduliLindungi. Hal ini menjadi catatan pemerintah untuk kemudian bisa memperbaiki strategi skrining tersebut.

"Dan ini sudah kita monitor dengan bantuan IT, jadi kita lihat untuk setiap aktivitas, di 6 aktivitas, berapa sih yang hitam (positif Covid-19)," jelas Menkes Budi dalam seminar online, Rabu (6/10).

"Kita kaget juga ternyata masih ada orang yang sakit masih nyelonong-nyelonong masuk mal masuk toko, masih masuk kerja, pabrik, industri perdagangan, itu yang kemudian nanti bisa kita perbaiki," jelasnya.

Berdasarkan catatan Kemenkes RI per 5 Oktober 2021, ada 9.865 status hitam yang masih bebas beraktivitas di mal, toko, hingga perkantoran. Orang yang teridentifikasi positif Covid-19 paling banyak mengunjungi mal, tercatat sebanyak 6.380 orang.

Disusul industri perdagangan atau pabrik sebanyak 1.068 orang. Sementara di sekolah, ditemukan 7 kasus.
Di antara mereka, adapula yang memasuki bioskop, yaitu 253 orang. Sementara di rumah makan dan restoran sebanyak 257 orang.

Peringkat Lima
Sementara itu, Indonesia dilaporkan menduduki peringkat kelima di dunia berdasarkan jumlah penduduk yang telah divaksin dan peringkat keenam berdasarkan jumlah dosis yang digunakan. Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate menuturkan ini membuktikan strategi percepatan vaksinasi pemerintah yang berkolaborasi dengan banyak pihak berjalan baik.

"Tentu hal ini tidak lepas dengan kolaborasi banyak pihak. Baik tenaga kesehatan, TNI, Polri, pemerintah daerah, pihak swasta, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan elemen masyarakat lainnya yang terus menerus berpartisipasi dalam percepatan vaksinasi," ujar Johnny dalam keterangan tertulis, Rabu (6/10).

Lebih lanjut Johnny menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya bagi masyarakat yang telah memiliki kesadaran tinggi untuk melakukan vaksinasi. Begitu juga dengan masyarakat yang mau mengajak keluarga, saudara, dan orang lingkungan sekitar untuk vaksinasi.

Selain itu, Johnny menegaskan Pemerintah mengapresiasi kerja keras semua pihak dalam program vaksinasi nasional yang secara harian mampu melampaui dua juta dosis per hari pada September 2021. Segala upaya yang dilakukan bersama, menurut Johnny, tentu amat berarti dalam menghadapi pandemi yang tengah melanda dunia seperti saat ini.

"Capaian ini meningkat dari sebelumnya Indonesia menempati peringkat keenam di dunia. Ini menunjukan upaya percepatan vaksinasi nasional berjalan dengan baik," ujar Johnny. (Detikhealth/c)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com