Senin, 20 Mei 2024 WIB
RI Bakal Cabut Status Darurat Covid-19, Vaksin Nantinya Berbayar

WHO: Silakan Hidup Normal Seperti Sebelum Covid

China Tetap Anggap Virus Covid Berbahaya
Redaksi - Minggu, 07 Mei 2023 09:02 WIB
1.170 view
WHO: Silakan Hidup Normal Seperti Sebelum Covid
Foto: Istimewa
Tedros Adhanom Ghebreyesus
Jakarta (SIB)
Indonesia bakal menyusul pencabutan status darurat Covid-19, pasca Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakhiri public health emergency and international concern (PHEIC)m Jumat (5/5). Juru bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) dr Mohammad Syahril belum bisa memastikan kapan pengumuman status darurat Covid-19 dicabut di RI.

Namun, sebagai gambaran, pasca status darurat Covid-19 dicabut, kemungkinan vaksinasi ke depan tidak lagi menjadi persyaratan perjalanan. Begitu pula dengan pembiayaan yang semula dianggarkan untuk perawatan Covid-19 serta vaksinasi, bakal beralih ke hal lain.

"Karena status darurat Covid-19 nya dicabut, tentu saja pembiayaan menggeser kepada pembiayaan-pembiayaan yang lain," bebernya saat dihubungi, Sabtu (6/5).

"Kalau vaksin misalnya dia BPJS, tentu masuk dalam cover BPJS. Tetapi kalau dia punya kemampuan, dia harus berbayar. Jadi tidak ada tanggungan lagi seperti dulu," sambung dia.


Tetap Waspada
Kemenkes RI mengaku menyambut baik keputusan WHO mencabut status darurat kesehatan global Covid-19.

Kendati demikian, Kemenkes meminta masyarakat tetap waspada. Pasalnya, meski status kedaruratan sudah dicabut, tak berarti virus Covid-19 hilang.

“Virus Covid-19 masih ada di sekitar kita, sehingga masyarakat harus tetap waspada," kata Mohammad Syahril.

Masyarakat, kata dia diimbau agar tetap memperhatikan dan menjalankan protokol kesehatan.

Syahir juga menekankan upaya vaksinasi Covid-19 terus dijalankan, utamanya untuk meningkatkan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling berisiko.

"Kelompok lansia dan pasien dengan penyakit penyerta masih memiliki resiko paling tinggi, sehingga vaksinasi harus tetap dilakukan," tegasnya.[br]


Tak hanya masyarakat, pemerintah pun tetap mengedepankan kesiapsiagaan dan kewaspadaan meski status kedaruratan global Covid-19 dicabut WHO.

Di antaranya dengan surveilans kesehatan di masyarakat dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan obat-obatan.

Lalu, mempersiapkan kebijakan kesehatan lainnya sebagai upaya ketahanan kesehatan nasional. Selain itu, kesiapsiagaan atas kemungkinan adanya pandemi di masa yang akan datang.


Siapkan Transisi
Pemerintah telah bersiap melakukan transisi dari pandemi ke endemi dengan berkonsultasi dengan WHO beberapa waktu lalu.

“Kami telah berkonsultasi dengan Dirjen WHO dan tim WHO baik di Jenewa dan Jakarta untuk Indonesia mempersiapkan transisi pandemi beberapa waktu lalu sebelum pencabutan status PHIEC diumumkan WHO,” kata Syahril.

Menurut WHO, persiapan Indonesia dipandang baik dalam menghadapi transisi pandemi ke endemi.

Pemerintah, ujar dia, juga terus mempersiapkan langkah langkah pencabutan status pandemi sesuai dengan Strategi Kesiapsiagaan dan Respon Covid-19 2023-2025 yang telah disiapkan oleh WHO sebagai pedoman negara-negara.


Dicabut
WHO resmi menyatakan status kedaruratan global Covid-19 berakhir seiring dengan tren kasus dan kematian yang menurun signifikan di hampir seluruh negara. Selama wabah merebak, ada 6,9 juta orang yang tewas usai tertular Covid-19.

Pertemuan mengenai dicabutnya status kedaruratan Covid-19 dibahas pada Kamis lalu, dengan rekomendasi PBB mendeklarasikan berakhirnya krisis virus Corona sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau PHEIC. Itu adalah tingkat kewaspadaan tertinggi.

Tedros mempersilakan warga untuk kembali menjalani hidup normal seperti sebelum Covid-19 mewabah.

"Tren ini telah memungkinkan sebagian besar negara untuk hidup kembali seperti yang kita ketahui sebelum Covid," kata Tedros, sembari menekankan risiko penularan virus masih tetap ada.

Pencabutan status PHEIC ini sekaligus menjadi momen emosional dengan mengingat kilas balik bagaimana pandemi Covid-19 semula membuat banyak orang bahkan dokter kewalahan.

"Kita tidak bisa melupakan tumpukan api itu. Kita tidak bisa melupakan kuburan yang digali. Tak satu pun dari kita di sini yang akan melupakan mereka," kata pimpinan teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove.

Tingkat kematian akibat Covid telah melambat dari puncaknya lebih dari 100.000 orang per minggu pada Januari 2021 menjadi lebih dari 3.500 dalam seminggu hingga 24 April 2023. Menurut data WHO, ini terjadi berkat vaksinasi meluas, ketersediaan perawatan yang lebih baik, dan tingkat kekebalan populasi dari infeksi sebelumnya.

Mengakhiri keadaan darurat dapat berarti bahwa kolaborasi internasional atau upaya pendanaan juga diakhiri atau mengalihkan fokus, meskipun banyak yang sudah beradaptasi saat pandemi mereda di berbagai daerah.

"Pertempuran belum berakhir. Kami masih memiliki kelemahan dan kelemahan yang masih ada di sistem kami akan terpapar oleh virus ini atau virus lain. Dan itu perlu diperbaiki," kata direktur kedaruratan WHO, Michael Ryan.

"Dalam banyak kasus, pandemi benar-benar berakhir saat pandemi berikutnya dimulai," kata Ryan.[br]


Deklarasi WHO datang hanya empat bulan setelah China mengakhiri pembatasan Covid parah yang berkepanjangan dan dirusak oleh lonjakan kasus. Keputusan itu juga menunjukkan bahwa penasihat WHO percaya varian baru virus corona yang lebih berbahaya tidak mungkin muncul dalam beberapa bulan mendatang, meskipun virusnya tetap tidak dapat diprediksi.

"Saya tidak akan ragu untuk mengadakan komite darurat lain jika Covid-19 sekali sekali lagi menempatkan dunia kita dalam bahaya," kata kepala WHO Tedros.

Di banyak bagian dunia, angka testing telah berkurang secara dramatis, dan sebagian besar orang berhenti memakai masker. Di beberapa negara, aturan wajib pemakaian masker telah disetop. WHO menerbitkan rencana minggu ini untuk memberi nasihat kepada negara-negara tentang cara hidup dengan Covid-19 ke depan.

Covid akan terus menantang sistem kesehatan di seluruh dunia dalam jangka panjang, termasuk Long Covid, kata pakar penyakit menular.

"Tidak seorang pun boleh menganggap (ini) berarti Covid-19 tidak lagi menjadi masalah," kata Mark Woolhouse, seorang ahli epidemiologi di Universitas Edinburgh.

"Ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan tampaknya akan tetap menjadi masalah di masa mendatang. masa depan."


Tetap Berbahaya
Demikian halnya, Kepala Panel Pakar Respons Covid China Komisi Kesehatan Nasional, Liang Wannian mengatakan, virus Covid-19 tetap berbahaya.

Liang menyebut Covid-19 tetap berbahaya sehingga China akan terus memantau perkembangannya sembari meningkatkan vaksinasi terhadap kelompok-kelompok berisiko tinggi.

Pencabutan status darurat itu tidak berarti Covid akan hilang, tetapi dampak penyebarannya kini bisa efektif dikendalikan, kata Liang dalam wawancara bersama CCTV yang disiarkan Sabtu.[br]


Liang menambahkan bahwa China akan terus memantau mutasi virus, memperkuat vaksinasi di antara kelompok-kelompok berisiko tinggi, dan berupaya meningkatkan kemampuan pengobatan Covid.

China sejak lama mempertahankan kebijakan nol Covid setelah sebagian besar negara di dunia mulai hidup berdampingan dengan virus tersebut. Negeri Tirai Bambu itu baru mulai meninggalkan kebijakan pembatasan Covid-19 pada akhir 2022.

Pada Februari, para pemimpin tinggi China mengumumkan "kemenangan mutlak" melawan Covid dan tingkat kematian terendah di dunia, meskipun para ahli mempertanyakan data Beijing tersebut. (detikHealth/KompasTV/Reuters/Antaranews/d)




Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Yusrizal Dilantik Jadi Sekda Aceh Tenggara Definitif
Akhirnya! Bobby Resmi Kader Gerindra
Pengurus KONI Tapsel 2023-2027 Dilantik
Jangka Waktu Pelaksanaan Proyek Pemeliharaan Berkala Jalan Rp7,5 Miliar di Sibolga Tinggal 1 Bulan Lebih
SMA Negeri 1 Girsang Sipanganbolon Buka PPDB Tahun Ajaran 2024-2025
Rutan Labuhan Peringati Harkitnas
komentar
beritaTerbaru