WHO Minta Seluruh Negara Tunda Booster Vaksin Covid-19, AS Menolak

* RI Negara ASEAN Pertama dengan Kematian Covid Tembus 100 Ribu

188 view
WHO Minta Seluruh Negara Tunda Booster Vaksin Covid-19, AS Menolak
(Foto : AFP)
BONGKAR: Petugas medis AS membongkar vaksin Covid-19 di Rumah Sakit Seychelles, Victoria. AS menolak permintaan WHO, Kamis (5/8) agar menangguhkan penyuntikan vaksin dosis ketiga (booster).
Jenewa (SIB)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta seluruh negara melakukan moratorium penundaan penyuntikan dosis penguat (booster) vaksin corona (Covid-19) hingga akhir September mendatang. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan alasan moratorium itu harus dilakukan sampai paling tidak sekitar sepuluh persen penduduk di setiap negara sudah disuntik vaksin corona.

"Saya memahami keinginan pemerintah di seluruh negara untuk melindungi penduduknya dari varian Delta. Namun, kami tidak bisa menerima ada negara yang tidak kebagian vaksin karena digunakan untuk itu (booster)," kata Tedros dalam jumpa pers di markas WHO di Jenewa, Swiss, seperti dilansir Reuters, Rabu (4/8).

Permintaan akan dosis ketiga atau penguat (booster) semakin meningkat terutama setelah terjadi lonjakan kasus Covid-19 di dunia akibat penyebaran virus corona varian Delta. Sejumlah negara melakukan uji coba dan meyakini suntikan dosis penguat vaksin itu bisa menambah efikasi.

Akan tetapi, hal itu memicu kenaikan permintaan vaksin Covid-19 dari negara-negara yang mampu membeli. Sedangkan bagi negara-negara yang kondisi keuangannya pas-pasan harus gigit jari karena kesulitan memenuhi target vaksinasi penduduk.

"Kita perlu fokus pada orang-orang yang paling rentan, paling berisiko terkena penyakit parah dan kematian, untuk mendapatkan dosis pertama dan kedua," kata Direktur Vaksin, Imunisasi dan Biologi WHO, Katherine O'Brien, kepada wartawan.

Berdasarkan data WHO, baru ada sekira 10 negara yang 75 persen penduduknya disuntik vaksin corona. Di negara-negara berpenghasilan rendah, hanya 1 persen penduduk yang sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin corona. Angka itu jauh lebih kecil dibanding dengan negara-negara berpenghasilan tinggi, yang tercatat setengah dari populasinya sudah divaksin.

WHO menargetkan pada pertengahan 2022 setiap negara sudah memvaksin penduduknya hingga 70 persen. Sementara itu, beberapa negara kaya ada yang sudah memulai penyuntikan vaksin booster.

Pekan lalu, Presiden Israel Isaac Herzog menerima suntikan ketiga vaksin Covid-19 sebagai bagian kampanye untuk memberikan dosis booster kepada orang berusia di atas 60 tahun. Langkah itu ditempuh Israel untuk menahan laju varian Delta yang disebut lebih menular. Sementara, Amerika Serikat menandatangani kesepakatan dengan Pfizer Inc., dan BioNTech asal Jerman untuk membeli 200 juta dosis tambahan vaksin Covid-19 guna membantu vaksinasi anak dan kemungkinan suntikan booster.

AS Menolak
Permintaan penundaan vaksinasi corona dosis ketiga oleh WHO langsung ditolak oleh Amerika Serikat. Menurut Pemerintah AS, mereka mampu melakukan vaksinasi dosis ketiga sembari memastikan negara-negara lain menerima dosis vaksin yang cukup. Juru Bicara Gedung Putih, Jen Psaki, Kamis (5/8) menegaskan bahwa mereka akan terus melanjutkan distribusi vaksin ke seluruh dunia.

“Kami percaya, kami akan mampu melakukan keduanya, dan kami tak perlu membuat pilihan itu [menangguhkan vaksinasi dosis ketiga],” ungkap Psaki seperti dikutip dari Anadolu Agency. “Kami akan memiliki suplai yang cukup untuk memastikan bahwa jika FDA memutuskan vaksin dosis ketiga direkomendasikan kepada sebagian dari populasi AS, kami akan menyediakannya,” imbuh Psaki.

FDA adalah Badan Pengawas Obat dan Makanan AS yang saat ini sedang meninjau perlu atau tidaknya pemberian vaksinasi Covid-19 dosis ketiga bagi warga AS. Tiga merek vaksin Covid-19 yang digunakan di AS adalah Pfizer/BioNTech, Moderna, dan Johnson & Johnson. Ketiga vaksin ini baru menerima izin penggunaan darurat dan belum memperoleh izin penuh.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada akhir Juli mengatakan, mereka belum bisa memberikan rekomendasi pemberian vaksin dosis ketiga akibat status izin vaksin-vaksin itu. Tetapi, CDC menyatakan dukungannya dalam pemberian vaksin dosis ketiga bagi orang-orang yang mengidap penyakit autoimun. Diketahui pada Selasa (3/8), AS mengumumkan telah mendonasikan 110 juta dosis vaksin ke 60 negara di dunia. Jumlah ini, menurut data PBB, jauh lebih banyak dibandingkan total donasi seluruh negara di dunia.

Sebagian besar dari sumbangan dosis vaksin ini diberikan ke negara-negara benua Afrika dan negara-negara dengan jumlah kasus Covid-19 yang tinggi. AS mengirimkan hingga 3 juta dosis vaksin ke Brasil, 3,5 juta dosis ke Argentina, 4 juta dosis ke Meksiko, dan 5,5 juta dosis ke Bangladesh.

Tak luput, Gedung Putih mengumumkan bahwa donasi yang sekarang didistribusikan baru pada tahap awal. Mereka menargetkan pada akhir Agustus, sebanyak 500 juta dosis vaksin Pfizer/BioNTech akan disumbangkan ke 100 negara berpenghasilan rendah.

Negara ASEAN Pertama
Sementara itu, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama dengan total angka kematian akibat Covid-19 menembus 100 ribu pada Rabu (4/8). Angka tersebut didapat setelah Satuan Tugas Penanganan Covid melaporkan tambahan 1.747 orang meninggal dunia akibat infeksi corona pada Rabu.

Dengan demikian, Indonesia sudah mencatat 100.636 kematian akibat Covid-19 sejak pandemi virus corona melanda pada tahun lalu. Indonesia pun menjadi negara pertama di Asia Tenggara dengan total kasus kematian akibat Covid-19 mencapai 100 ribu.

Berdasarkan data Worldometer, total kematian Indonesia terpaut jauh dari negara yang menempati posisi kedua di Asia Tenggara, yaitu Filipina dengan total 28.381. Myanmar bertengger di posisi ketiga Asia Tenggara dengan 10.695 kematian, disusul Malaysia dengan total 9.855 orang meninggal dunia karena Covid-19. Secara keseluruhan, total kematian akibat Covid-19 di Indonesia sendiri melonjak sepanjang Bulan Juli, yaitu mencapai 35.274, naik 348 persen ketimbang Juni.

"Dari Juni ke Juli dalam waktu satu bulan terjadi penambahan kematian bulanan sebesar 27.409 kematian atau meningkat 348 persen atau 4 kali lipat lebih tinggi dari jumlah kematian di bulan Juni," kata Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Rabu (4/8).

Angka kematian sebenarnya sudah mulai meningkat pada Mei dengan penambahan 552 kasus atau 12,22 persen dibanding April. Data itu meningkat lagi pada Juni dengan penambahan 2.798 kasus atau 55,22 persen. Menurut Dewi, kasus kematian meningkat setiap pekan sepanjang Juli. Pada pekan terakhir tercatat rata-rata kasus meninggal per hari mencapai 1.582 orang.

Sebanyak 87,71 persen kasus meninggal bulan Juli disumbang oleh 10 provinsi, meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Kalimantan Timur, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Bali. Kenaikan persentase kasus meninggal paling banyak didapati di Kalimantan Timur, yakni meningkat 1.167,83 persen.

Bali meningkat 955,36 persen, Jawa Tengah melonjak 521,63 persen, Jawa Timur naik 512,62 persen, dan DI Yogyakarta meningkat 389,10 persen. Jika dianalisis berdasarkan kabupaten/kota, daerah yang menyumbang kasus meninggal terbanyak sepanjang Juli adalah Semarang, Jakarta Timur, Garut, Jakarta Barat, Karawang, dan Jakarta Selatan. (Rtr/CNNI/f)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com