WNI Hidup Prihatin saat Inggris Krisis: Pakai Sweater, Bukan Heater


119 view
WNI Hidup Prihatin saat Inggris Krisis: Pakai Sweater, Bukan Heater
Foto : REUTERS/TOM NICHOLSON
Lokasi pasar bunga di London. 

London (SIB)


Warga negara Indonesia (WNI) membagikan cerita harus hidup prihatin saat Inggris diterpa krisis parah. Salah satu WNI, Muhammad Fahmi Ardi, mengatakan harus mulai 'kencangkan ikat pinggang' melakukan penghematan drastis karena inflasi gila di Inggris.

Di antara penghematan itu adalah memotong anggaran untuk konsumsi hingga sangat berhemat menggunakan listrik di apartemen.

"Memotong (biaya) konsumsi. Selalu cek-cek promosi diskon jika belanja di swalayan. Mengurangi makan di restoran atau kedai luar rumah," tutur Fahmi yang berprofesi sebagai arsitek lansekap di London kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/9).

Selain harga makanan yang melambung tinggi, tarif listrik juga naik gila-gilaan karena krisis parah di Inggris. Fahmi pun harus bersiasat 'putar otak' demi menekan tagihan listrik yang amat tinggi selama krisis.

Ia menyebut biaya normal listrik sekarang saat bukan musim dingin biasanya paling murah sekira lebih dari 100 pound sterling atau Rp1,6 juta per bulan. Tapi jika musim dingin bisa mencapai 250 pound sterling (Rp4 juta). Tarif itu untuk kalangan warga biasa dengan pemakaian daya minimal.

"Harus mengurangi penggunaan energi atau konsumsi listrik. Salah satu contohnya ketika cuci piring. Saya tak lagi menggunakan mesin cuci piring otomatis," ujarnya. "Cuci piring harus dikerjakan secara manual demi hemat listrik. Di sini juga siap-siap ganti provider listrik yang lagi promo kalau tagihan dari provider yang lama naik tinggi," kata Fahmi.

Penghematan listrik lainnya adalah seminimal mungkin menggunakan heater atau pemanas ruangan. Padahal, Inggris bersiap menyambut musim dingin saat diterpa krisis. "Kurangi pakai heater. Walaupun mulai dingin sekarang, pakai sweater (pakaian musim dingin) tebal saja di dalam rumah," ucap Fahmi.

Saking menghemat, Fahmi bahkan berencana setop menumpang transportasi umum. Ia berencana beli sepeda yang murah dari tabungannya dan naik sepeda dari apartemen ke kantor yang berjarak hampir 10 kilometer. WNI Inggris yang lain, Harisul Amal, juga membeberkan harga sewa apartemen naik hingga nyaris dari dua kali lipat. "Sebelumnya sewa flat sebelum krisis biasanya 350 pound sterling, kini hingga 600 pound sterling," tutur Haris.

Selain menjadi mahasiswa di Universitas Leeds Beckett, dia juga bekerja sambil di salah satu restoran siap saji. Dia juga mengaku, di tengah krisis upah di tempat kerjanya bertambah. Namun, nominalnya tak seberapa jika dibanding angka inflasi yang terus naik yang menjerat Inggris. (CNNI/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com