Wali Kota di Ukraina Ditangkap Pria Bersenjata

Masjid Digempur, Pangkalan Udara dan Pusat Radio Komunikasi Dihancurkan

407 view
Wali Kota di Ukraina Ditangkap Pria Bersenjata
Foto: Reuters/Thomas Peter
TERBAKAR: Kepulan asap membubung dari tangki bahan bakar yang terbakar di pangkalan udara di Vasylkiv, Ukraina, Sabtu (12/3).

Kiev (SIB)

Wali Kota Melitopol di Ukraina, Ivan Fedorov, dilaporkan telah ditahan dan dibawa pergi sekelompok pria bersenjata dari gedung pemerintahan setempat. Penahanan Fedorov itu terekam kamera CCTV yang terpasang di alun-alun kota Melitopol, yang kini dikuasai pasukan Rusia.


Seperti dilansir CNN dan BBC, Sabtu (12/3), penahanan Fedorov oleh sekelompok pria bersenjata itu menjadi kasus pertama yang diketahui secara jelas terkait penahanan pejabat politik Ukraina saat invasi militer Rusia terus berlanjut.


Rekaman video yang menunjukkan momen Fedorov dibawa pergi sekelompok pria bersenjata itu beredar luas di media sosial, termasuk diposting oleh media oposisi Belarusia, NEXTA.


Hasil analisis BBC menunjukkan, rekaman video itu berasal dari kamera CCTV yang dipasang mengarah ke air mancur di Square of Victory, di samping Liberator Arch, yang ada di pusat kota Melitopol.


CNN secara terpisah juga telah melakukan geolokasi dan memverifikasi keaslian video tersebut.


Sejumlah media lokal, yang mengutip percakapan Dewan Kota Melitopol, mengonfirmasi bahwa pria yang dibawa pergi sekelompok pria bersenjata dalam video itu memang merupakan Fedorov.


Sebelumnya, penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina Anton Herashchenko menyebut Fedorov telah diculik dari 'pusat krisis' yang ada di pusat kota Melitopol, dengan kantong plastik menutupi kepalanya. Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebutnya sebagai 'kejahatan perang'.


Rusia belum memberikan komentar terhadap hal ini.


Namun, seperti dilaporkan CNN, kantor jaksa wilayah Luhansk di Ukraina bagian timur yang dikuasai separatis pro-Rusia menyatakan, pihaknya tengah mempertimbangkan untuk menjeratkan dakwaan terorisme terhadap Fedorov.


Menurut pesan pada situs jaksa Luhansk, Fedorov dituduh membantu dan mendanai aktivitas teroris dan menjadi bagian dari komunitas penjahat.


Diklaim oleh kantor jaksa Luhansk bahwa Fedorov adalah anggota 'Sektor Kanan', yang sebelumnya dilaporkan oleh CNN sebagai paramiliter dan kelompok politik Ukraina yang beraliran nasionalis. Kelompok itu memiliki posisi anti-Rusia, namun para pengamat independen menyebut kelompok itu bukan ancaman fasis seperti diklaim Presiden Rusia Vladimir Putin.


Kantor jaksa Luhansk mengklaim 'Sektor Kanan' telah melakukan aksi teroris terhadap warga sipil di Donbas -- wilayah Ukraina bagian timur yang dikuasai separatis pro-Rusia, tanpa menjelaskan detailnya.


Digempur

Selain itu, sebuah masjid di kota pelabuhan Mariupol, Ukraina, yang menjadi tempat berlindung 80 warga sipil dilaporkan digempur oleh pasukan Rusia. Belum ada laporan korban jiwa akibat gempuran Rusia ini.


"Masjid Agung Sultan Suleiman dan istrinya Roxolana (Hurrem Sultan) di Mariupol digempur penjajah Rusia," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Ukraina, seperti dilansir AFP, Sabtu (12/3).


"Lebih dari 80 warga dewasa dan anak-anak bersembunyi di sana dari gempuran, termasuk warga negara Turki," imbuh pernyataan tersebut.


Belum ada laporan korban jiwa atau korban luka akibat gempuran terhadap masjid di Mariupol tersebut. Otoritas Ukraina tidak menyebut lebih lanjut kapan tepatnya gempuran Rusia itu terjadi.


Mariupol diketahui berada di bawah kepungan dan gempuran pasukan Rusia selama lebih dari sepekan terakhir.


Laporan pejabat eksekutif Doctors Without Borders menyebut warga sipil di Mariupol berusaha mati-matian untuk melarikan diri, namun tanpa adanya pasokan air maupun pemanas, dan mulai kehabisan pasokan makanan.


"Mariupol yang dikepung sekarang menjadi bencana kemanusiaan terburuk di planet ini. Sedikitnya 1.582 warga sipil tewas dalam 12 hari," sebut Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba dalam pernyataan via Twitter.


Dihancurkan

Pangkalan udara Ukraina di kota Vasylkiv juga hancur akibat serangan roket Rusia pada Sabtu (12/3) pagi.


Selain itu, Wali Kota Vasylkiv mengkonfirmasi bahwa gudang amunisi di dekat lokasi ikut terkena hantaman roket.


Pertempuran Rusia-Ukraina pada Sabtu lebih banyak terjadi di wilayah barat laut dari ibu kota Kyiv.


Pusat radio komunikasi utama militer Ukraina juga dihancurkan oleh serangan militer Rusia.


Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov dalam sebuah pengarahan mengatakan penghancuran pusat radio komunikasi yang digunakan intelijen itu menggunakan senjata jarak jauh berpresisi tinggi.


“Pada pagi hari tanggal 12 Maret, sebuah senjata jarak jauh berpresisi tinggi menghantam fasilitas infrastruktur militer Ukraina. Lapangan terbang militer di Vasilkov dan pusat utama dan intelijen elektronik Angkatan Bersenjata Ukraina di Brovary tidak beroperasi, " kata Igor, seperti dilansir Ria Novosti.


Di hari yang sama, Angkatan Udara Rusia juga menembak jatuh lima drone, dua di antaranya adalah Bayraktar TB-2 dan satu Tochka-U.


Lebih lanjut, Igor mengatakan secara total, selama operasi khusus, tentara Rusia melumpuhkan 3.491 objek infrastruktur militer Ukraina. 123 UAV (pesawat tanpa awak), 1127 tank dan kendaraan lapis baja lainnya, 115 peluncur roket ganda, 423 artileri lapangan dan senjata mortir, 934 kendaraan khusus dihancurkan.


Menurut Igor, militer Rusia juga mengambil alih permukiman Valerianovka dan Zeleny Gai dan memblokir Novoandreevka dari selatan dan timur.


Demikian juga ebuah gudang penyimpanan produk beku terbakar di wilayah Kvitneve, sebuah desa yang berjarak 21 mil sebelah timur Ibu Kota Kiev, Sabtu (12/3).


Para pejabat mengatakan, gudang tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan produk beku. Tidak ada korban yang dilaporkan dari serangan destruktif tersebut.


Pasukan Rusia tampaknya terus membuat kemajuan dalam dorongan lambat mereka menuju Kiev pada hari Sabtu, sambil terus menggempur ibu kota dan kota-kota Ukraina lainnya dengan serangan pesawat dan artileri.


Sirene serangan udara terdengar di sebagian besar kota Ukraina Sabtu pagi, mendesak orang-orang di Kiev, serta kota barat Lviv, Kharkiv, Cherkasy dan wilayah Sumy di timur laut negara itu untuk mencari tempat perlindungan.


Hingga kini jalur evakuasi terus dihidupkan agar warga sipil bisa menyelamatkan diri dari serangan bertubi-tubi dari Rusia.


Disamakan dengan ISIS!

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh pasukan Rusia mengerahkan taktik teror saat invasi militer mereka terus berlanjut. Zelensky bahkan menyebut, tindakan pasukan Rusia di Ukraina akan disamakan dengan tindakan teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).


Dalam postingan terbaru via Facebook, seperti dilansir BBC dan kantor berita Ukraina, Ukrinform, Sabtu (12/3), Zelensky menuduh pasukan Rusia telah menahan Wali Kota Melitopol Ivan Fedorov. Disebutkan Zelensky, tindakan semacam itu akan membuat Rusia disamakan dengan teroris ISIS.


"Hari ini di Melitopol, penjajah menangkap Wali Kota Ivan Fedorov. Seorang wali kota yang dengan berani membela Ukraina dan warga masyarakatnya," sebut Zelensky dalam pernyataannya, merujuk pada pasukan Rusia.


Zelensky menilai, pasukan Rusia telah beralih ke 'babak teror baru' dengan berusaha secara fisik menghilangkan perwakilan dari pemerintah lokal Ukraina yang sah. Dia menyebut, penangkapan Wali Kota Melitopol bukan hanya kejahatan terhadap Ukraina, tapi juga terhadap demokrasi.


"Ini adalah kejahatan terhadap demokrasi semacam itu. Saya meyakinkan Anda bahwa 100 persen orang-orang di semua negara demokrasi akan mengetahui hal ini. Tindakan penjajah Rusia akan disamakan dengan tindakan teroris ISIS," cetusnya.


"Ukraina menuntut pembebasan segera Wali Kota Melitopol dan jaminan keamanan penuh bagi seluruh pemimpin masyarakat di seluruh wilayah negara ini. Jika Anda menjadi analogi teroris ISIS, maka apa gunanya berbicara dengan Anda tentang sesuatu?" tegas Zelensky.


"Kami akan mengangkat isu ini, termasuk dalam pembicaraan dengan mediator internasional yang berkomunikasi dengan Moskow," imbuhnya.


Dalam pernyataannya, Zelensky juga menuduh pasukan Rusia mengganggu proses evakuasi warga sipil via koridor kemanusiaan di Ukraina.


"Namun, terlepas dari segalanya, ada 7.144 orang yang diselamatkan. Dari Energodar, Bucha, Hostomel dan Kozarovychi," ucapnya.


"Dan ini menjadi 7.144 alasan untuk berusaha mengatur evakuasi bagi warga Ukraiand dari kota-kota yang dikepung besok dan lusa," ujar Zelensky menambahkan.


Terkendala

Di tengah kecamuk perang, sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) masih berada di kota Chernihiv, Ukraina. Kementerian Luar Negeri RI masih mengupayakan evakuasi terhadap mereka, namun Rusia masih terus melancarkan serangan.


"Kami masih terus upayakan. KBRI Kyiv telah siapkan kendaraan penjemput," kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Judha Nugraha, saat dikonfirmasi, Sabtu (12/3).


Sebelumnya, sembilan WNI di Chernihiv ada dalam daftar informasi yang disebarkan pihak Rusia, 7 Maret lalu. Mereka bersama warga-warga negara asing lainnya disebut Rusia sebagai tameng hidup kelompok radikal Ukraina. Hal tersebut tidak benar karena sembilan WNI itu dipastikan Kemlu dalam keadaan aman.


Adapun saat ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kyiv masih terus mengupayakan evakuasi sembilan orang WNI itu. Kendala yang dihadapi evakuator adalah serangan Rusia masih terus berlangsung di Chernihiv.


"Saat ini Rusia masih melakukan serangan ke Kota Chernihiv sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pergerakan evakuasi," kata Judha.


Sebelumnya, Rabu (9/3) lalu, Judha menginformasikan ada pula 2 WNI di Kharkiv yang dievakuasi menuju lokasi aman. Ada pula tujuh Anak Buah Kapal (ABK) WNI di Odessa sudah berhasil dievakuasi ke Bucharest Rumania dan akhirnya sudah pulang ke Indonesia.


Secara umum, terdapat 51 WNI yang berada di Ukraina hingga saat ini. Mayoritas dari mereka adalah WNI yang memilih tetap tinggal di Ukraina, ada pula beberapa WNI yang sedang diupayakan dievakuasi keluar Ukraina, antara lain di Chernihiv itu. (detikcom/CNNI/Kumparan/Rmolsulsel/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com