Wamenkes Ungkap 94% Kematian Covid-19 karena Belum Divaksinasi

* Daerah Keluhkan Stok Vaksin Habis, Kemenkes: Persediaan Tidak Cukup

265 view
Wamenkes Ungkap 94% Kematian Covid-19 karena Belum Divaksinasi
(Sumber: Dok. Sekretariat Kabinet RI)
Wamenkes Dante Saksono Harbuwono menyebut banyak pasien Covid-19 meninggal dunia karena belum divaksin. 

Jakarta (SIB)

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono mengatakan 94% kematian virus Corona (Covid-19) terjadi karena belum divaksinasi. Dante menyebut vaksinasi sejatinya memberikan respons imun yang baik bagi tubuh manusia.


Hal itu disampaikan Dante dalam sambutan di acara Vaksinasi Kadin Indonesia Bersama TNI Polri yang disiarkan langsung di kanal YouTube Kadin Indonesia, Minggu (25/7). Mulanya, Dante memaparkan kegiatan vaksin yang diselenggarakan Kadin ini sangat penting untuk memerangi pandemi Covid-19.


"Saya ucapkan terima kasih kepada Kadin Indonesia yang sudah melakukan kegiatan ini, baik kegiatan vaksinasi maupun deklarasi kesehatan. Ini sangat penting sekali karena kegiatan vaksinasi dan upaya untuk memerangi terjadinya pandemi ini bukan eksklusif Kementerian Kesehatan, kegiatan ini tidak berhasil tanpa peran serta masyarakat," katanya.


Dante menjelaskan, saat ini pihaknya mengubah diksi program vaksinasi menjadi gerakan vaksinasi. Dia berharap dengan perubahan diksi ini, masyarakat dapat turun langsung terlibat dalam pelaksanaan vaksinasi.


"Karena itu beberapa diksi-diksi kita buat menjadi berubah, kalau tadinya diksi program vaksinasi, sekarang menjadi diksi gerakan vaksinasi. Dengan gerakan maka yang terlibat di dalamnya adalah masyarakat secara langsung, baik itu asosiasi, baik itu kegiatan TNI-Polri, lintas departemen, lintas kelembagaan, dan seluruh masyarakat berperan serta dengan adanya beberapa kegiatan yang melakukan kegiatan seperti ini baik di sini maupun di tempat-tempat lain, maka kita berusaha mengatasi pandemi ini secara baik dan secara terintegrasi," katanya.


Dante menuturkan kegiatan vaksinasi sangat penting untuk memproteksi diri. Dari data yang dihimpun Kemenkes, vaksinasi ini dapat turut serta menurunkan angka kematian akibat virus Corona.


"Bisa saya laporkan, saya berikan informasi bahwa kegiatan vaksinasi ini sangat penting, selain melalukan proteksi, maka beberapa laporan yang masuk pada kami bahwa setelah divaksinasi apabila kemudian terkena vaksinasi, maka angka kematiannya akan menurun," ujarnya.


Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kata Dante, menerima laporan bahwa 94% kematian virus Corona disebabkan karena mereka yang belum divaksinasi. Padahal, menurut Dante, vaksinasi Covid-19 ini sangat penting bagi masyarakat karena mampu memberikan respons imun yang baik bagi tubuh.


"Jadi berdasarkan laporan terakhir, angka kematian akibat infeksi Covid-19 itu pada beberapa saat ini itu 90 sampai 94 persen adalah mereka yang belum divaksinasi, dengan adanya kegiatan vaksinasi ini akan memberikan respons imun tubuh yang lebih baik, baik itu apabila belum terkena infeksi maupun setelah terkena infeksi," imbuhnya.


Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan dalam Rapat Koordinasi Tindak Lanjut Langkah Intervensi untuk Penurunan Tingkat Kematian Akibat Covid-10 di Jawa-Bali dikutip dalam keterangan pers, Minggu (25/7), mengatakan, hasil tinjauan lapangan menemukan bahwa rata-rata pasien yang meninggal menderita komorbid atau belum menerima vaksin. Sebab itu, Luhut meminta seluruh jajaran agar melakukan intervensi untuk mengurangi kematian secara cepat.


“Setelah memahami faktor-faktor ini, kita harus melakukan intervensi untuk mengurangi angka kematian secara cepat,” lanjutnya.


Langkah-langkah intervensi tersebut adalah dengan meningkatkan kapasitas ICU dari RS dengan oksigen sentral pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kematian tinggi. Kemudian menyediakan isolasi terpusat dan terpantau bagi pasien resiko tinggi yang melakukan isolasi mandiri.


Selain itu, Dinas Kesehatan diminta untuk berkoordinasi dengan TNI untuk memperoleh akses paket obat gratis dari Presiden. Satuan Tugas (Satgas) PPKM di level desa harus kembali diaktifkan dan melakukan pemantauan ketat terhadap setiap warga yang terindikasi mengalami gejala Covid-19.


“Kunci dalam menangani pandemi ini adalah disiplin dan kerja bahu-membahu. Dengan bersama-sama dan konsisten melakukan dan meningkatkan testing dan tracing , diharapkan mata rantai ini akan terputus,” ungkapnya.


Rakor ini turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan, Gubernur Bali, Gubernur Jawa Barat, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur Jawa Timur, Deputi Gubernur DKI Jakarta, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Bupati Surakarta, Bupati Karawang dan perwakilan kementerian dan lembaga terkait.


Stok Vaksin Habis

Terpisah, Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, selama persediaan vaksin tidak tercukupi, ketimpangan vaksinasi di daerah akan terus terjadi. Pernyataan ini sebagai tanggapan atas keluhan daerah-daerah mengalami kehabisan stok vaksin.


"Iya, akan ada gap antara animo dengan ketersediaan vaksin," ucap Nadia, Sabtu (24/7).

Dia menuturkan, kondisi ini bisa terjadi karena secara prinsip, vaksinasi massal kepada masyarakat tanpa pengkategorian dimulai sejak Juli. Jumlah total vaksin yang tersedia saat ini ada 130 juta dosis, sementara kebutuhan vaksinasi sebanyak 426 juta dosis.


"Jadi jelas ada gap di sini," ucapnya.

Selain itu, ada beberapa faktor lain penyebab ketimpangan vaksin di daerah selain Jakarta yaitu proses distribusi ke daerah-daerah terutama yang ada penyekatan ataupun kendala geografis.


Kemudian, imbuh Nadia, saat ini Kementerian Kesehatan masih menunggu kedatangan vaksin sesuai total kebutuhan. Lalu, produksi vaksin jadi di Bio farma antara 3 sampai 5 juta dosis, proses pengendalian mutu di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).


Diketahui beberapa stok vaksin di daerah seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Selatan, Depok, dan beberapa daerah mengalami kekurangan stok vaksin. Akibatnya, program percepatan vaksinasi terancam terhambat. (Detikcom/Merdeka/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com