Warga Abai, RS Brasil “Tumbang” Diterjang Varian Baru Corona


132 view
Warga Abai, RS Brasil “Tumbang” Diterjang Varian Baru Corona
(AP/Bernat Armangue)
Lonjakan penularan akibat varian virus corona P1 membuat rumah sakit dan ICU di Brasil tumbang pada pekan ini. Ilustrasi rumah sakit yang tumbang karena lonjakan virus corona.
Jakarta (SIB)
Sebagian besar rumah sakit dan unit perawatan intensif (ICU) di Brasil tumbang menyusul lonjakan penularan virus corona (Covid-19) selama beberapa waktu terakhir.

Gelombang kedua infeksi Covid-19 di Brasil berlangsung ketika mutasi virus corona baru yang lebih menular terus menyebar di seluruh negeri.

Varian baru corona yang dikenal dengan P.1 saat ini ditemukan pada sebagian besar pasien Covid-19 di setidaknya enam negara bagian Brasil. P1 juga telah terdeteksi di Amerika Serikat, Inggris, hingga Venezuela.

Pandemi corona di Brasil juga diperparah dengan masyarakat yang abai pada protokol kesehatan dengan menentang penggunaan masker wajah dan tidak membatasi pergerakan.

Sikap cuek masyarakat Brasil itu, dilansir CNN, sedikit banyak terpengaruh oleh sikap Presiden Jair Bolsonaro yang selama ini meremehkan bahaya virus corona. Baru-baru ini, Bolsonaro bahkan mengatakan masyarakat perlu "berhenti menjadi banci" dan "merengek" tentang Covid-19.

Padahal, jumlah penularan dan kematian akibat corona di Brasil terus meningkat dan mencetak rekor harian dalam beberapa waktu terakhir.

Brasil juga mencatatkan rekor kematian akibat Covid-19 harian tiga kali selama Maret ini. Pada Rabu (10/3), Kementerian Kesehatan Brasil mencatat 2.286 kematian akibat corona dalam sehari.

Sejauh ini, Brasil tercatat memiliki 11,2 juta kasus corona, yang tertinggi ketiga di dunia, dengan 270.917 kematian.
Para ahli menganggap kesadaran rendah masyarakat Brasil pada protokol kesehatan Covid-19 dan mutasi baru corona akan jadi bom waktu di negara itu.

"Kami sedang melalui skenario terburuk sejak awal pandemi. Ini terlihat dalam tren jumlah rata-rata kematian," kata seorang profesor Kesehatan Masyarakat Universitas Sao Paulo, baru-baru ini kepada Reuters.

Sampai saat ini, menurut data pemerintah Brasil, kamar ICU yang tersebar di seluruh rumah sakit di 22 dari 26 negara bagian Brasil sudah terisi lebih dari 80 persen. Di negara bagian Rio Grande do Sul, pasien rumah sakit harus mengantre untuk mendapat tempat tidur karena ruang ICU sudah terisi penuh.

Sementara itu, di negara bagian Santa Catarina, 99 persen ruang ICU juga telah terisi. Bahkan, satu rumah sakit di Ibu Kota Santa Catarina, Florianopolis, sudah melebihi kapasitasnya.

Kepala Rumah Sakit di Florianopolis, David Molina, mengeluh bahwa ia dan timnya kelelahan dan kewalahan.

"Saya berada di sini selama gelombang pertama dan tidak seperti ini. Kami benar-benar kewalahan, dengan ruang kamar telah terisi pasien 100 persen. Banyak dari pasien yang menunggu ICU tidak berhasil diselamatkan," ucap Molina kepada CNN melalui telepon.
Molina dan sebagian besar petugas kesehatan Brasil menganggap lonjakan penularan corona baru-baru ini terjadi akibat pesta dan pertemuan besar yang berlangsung selama liburan Tahun Baru kemarin.

Selama liburan tahun baru, karnaval hingga acara hiburan marak digelar di sebagian besar negara bagian hingga kota kecil.
Kebijakan pencegahan penyebaran corona seperti penerapan protokol kesehatan dan aturan lainnya di Brasil juga tidak efektif lantaran perbedaan persepsi antara pemerintah pusat dan daerah.

Sebagai contoh, Bolsonaro kerap menentang kebijakan penguncian wilayah (lockdown) yang diterapkan negara bagian lantaran dinilai merusak perekonomian negara. (CNNI/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com