Wisata Saat Pandemi Seperti Sebuah Perjudian


134 view
Wisata Saat Pandemi Seperti Sebuah Perjudian
Foto: DW (SoftNews)
Ilustrasi Menara Eiffel
Pandemi virus Corona membuat negara-negara lumrah untuk membuka tutup perbatasan. Turis asing seolah berjudi dalam menentukan waktu traveling.

Turis asing mulai tampak berjalan-jalan di kota-kota Eropa setelah mulai Juni gerbang sejumlah negara dibuka. Belum semua turis asing bisa masuk negara Eropa, itu tergantung pada situasi kasus Covid di negara asal dan catatan vaksinasi si turis asing tersebut.

Secara umum, hampir seluruh nagara di Eropa meminta bukti vaksinasi Covid-19 dua dosis yang diperoleh lebih dari dua minggu sebelum perjalanan, sertifikat pemulihan Covid kurang dari enam bulan sebelum perjalanan, RT-PCR atau tes antigen negatif, formulir kesehatan, menyanggupi isolasi mandiri tujuh sampai 10 hari.

"Suatu hari Anda membutuhkan ini, hari lain itu. Ketika kami tiba di bandara, kami diminta untuk mengisi kertas baru meskipun kami telah mengisi beberapa," kata Brandon McDaniel, seorang pengusaha Texas, yang liburan di Prancis bersama keluarganya, dan dikutip AFP.

Istri Brandon, Crystal, seorang desainer, menyebut deretan syarat itu bikin biaya traveling saat pandemi Covid-19 menjadi lebih mahal. Tapi, sejauh ini sih belum menjadi masalah bagi mereka.

"Kami tahu liburan kali ini menjadi sangat mahal. Ada biaya ekstra untuk semua tes yang diperlukan di setiap memasuki setiap negara, tetapi jika itu yang diperlukan untuk dapat melakukan perjalanan lagi, kami akan melakukannya," dia menjelaskan.

Amerika Serikat berada dalam daftar negara hijau menurut skala yang ditetapkan di Prancis pada pertengahan Juni. Artinya, turis dari AS tidak memerlukan tes jika mereka telah divaksinasi sepenuhnya.

"Orang Amerika ingin kembali untuk beberapa waktu," kata Corinne Menegaux, kepala kantor pariwisata Paris.
"Dalam semua survei kami melihat bahwa Paris masih menjadi tujuan utama mereka. Dan, sejak kampanye vaksinasi dimulai lebih awal, banyak yang telah disuntik vaksin, itu membuat perjalanan lebih mudah," dia menambahkan.

Jumlah wisatawan AS yang mengunjungi Paris tahun ini belum cukup menjanjikan, turun 85 persen dari tingkat pada Juni 2019. Begitu pula dengan kedatangan wisatawan asing secara umum, turun 60 persen.

"Pada 2019, ada 10 juta orang selama musim panas. Pada 2020 kami menyambut dua juta dan tahun ini kami berharap antara empat dan lima juta," kata Menegaux.

Denis Farias, pemilik toko suvenir di dekat Menara Eiffel, sampai menyebut dagangannya sama sekali tidak kedatangan pembeli.

"Benar-benar tidak ada turis di Paris saat ini. Dua tahun lalu kami bekerja berlima di toko, sekarang saya sendiri," kata dia.
Bagi wisatawan, sedikitnya jumlah turis seolah menjadi dua sisi mata uang. Ada bagian menyenangkan, namun rupanya juga ada bagian yang bikin susah.

"Karena ada lebih sedikit orang, Anda dapat meluangkan waktu untuk melakukan lebih banyak hal, misalnya menghabiskan lebih sedikit waktu dalam antrean. Perjalanan menjadi lebih santai," kata Mohammed Charpenel, yang bekerja di sektor real estat di Dubai.

"Bagian terburuknya adalah menunggu. Kami telah memesan pada bulan Maret tetapi kami tidak tahu kapan Prancis akan dibuka kembali," kata guru Chicago Martin Douglass.

"Hari ini, bepergian seperti berjudi," dia menambahkan. (dtt/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com