Baru Rilis, Novel ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pembangkang’ Ditagih Thriller Lanjutannya


231 view
Foto Dok
‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pembangkang’
Medan (SIB)
Riduan Purba merilis ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pembangkang’ di Hotel Impression Medan, Selasa (16/3). Novel ditulis ketika sang pendeta dalam pergumulan berat tapi melukiskan karya dengan semangat kasih. “Salah, jika ada yang menafsirkan karya itu dihadirkan sebagai ejawantah kesal apalagi marah. Ini fiksi, sebagai bentuk cinta saya,” ujar pria bersuara merdu yang selalu menghabiskan waktunya melayani warga marjinal di pinggir rel Medan - Binjai itu di jeda meneken buku-bukunya atas permintaan pembaca.

Melihat sampulnya, tak seperti novel pada umumnya. Tetapi bagi Pdt Dr Fernando Sibarani, pilihan cover mengandung filosofi mendalam. Apalagi bila dihirup dari nafas teologi. Ada yang tersirat di sana. Khususnya bila menyeksamai gambar 4 orang berjubah putih dengan tangan menengadah plus seorang dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Biarkan kesulitan intepretasi menggantung di sana,” ujarnya, sebagai pengupas buku.

Memang, sulit memahami maksud novel tersebut. Isinya penuh dengan perjalanan manusia di lingkungan religi tapi langkahnya sekuler. Kereligian itu samar ditampilkan tapi polos ditunjukkan dengan ukuran kebenaran hakiki dan nisbih.

Moderator Dr Ir RO Coki Sitorus MM yang mengantar peluncuran mengatakan, penulis sedang berkhayal dengan pengharapan kiranya Yang Kuasa bermurah hati menjawab permohonan penulisnya.

Pembaca, mungkin, jadi semakin bingung. Kok novel fiksi tapi ditarik ke urusan pengharapan. Seperti berdoa. Apakah doa akan dikabulkan-Nya bila tanpa usaha?

Hal-hal buram perlahan-lahan semakin terang ketika Ephorus (Em) GKPS Jaharianson Saragih PhD membuka sebait demi sebait apa yang diinginkan novel tersebut. Semakin benderang ketika St Prof Dr Albiner Siagian menanggapi dari apa yang didengar dan dilihatnya.

Penjelasan kedua orang itu semakin terbuka ketika Dr Arifin Doloksaribu SH MHum bertanya dan memberi masukan mengenai ‘khayalan’ penulis. “Saya berharap, urusan intern tidak dibawa ke luar, apalagi sampai ke ranah hukum. Disidang dan jadi konsumsi publik,” tegas hakim di PT Medan itu.

Kesempurnaan penjelasan semakin mengemuka tatkala sejumlah nama (yang sedang dalam pergumulan). Seperti Pdt Dr Hotman Siagian, Pdt Arigato Sianturi MA, termasuk Pdt Dr Robert Sihombing alm.
***

Menyimak ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pembangkang’ seperti cerita nyata kemelut di satu institusi ‘suci’ namun dipenuhi aroma duniawi. Untuk urusan yang pertama, seluruhnya setuju bahwa religi jangan dikotori oleh apapun. Ketika sudah kotor, harus dibersihkan dan si pelaku dimintai pertanggungjawaban.

Pilihan terakhir, ya ke jalur hukum. Seperti yang diinginkan banyak orang dan (mungkin) kelompok yang sedang dalam pergumulan, yang dijadikan tokoh dalam novel.

Terlepas dari konten novel. Saat perilisan terdapat ragam keistimewaan. Moderator mengadopsi cara hybrid: audiens yang memenuhi ruangan serta yang mengikuti secara virtual diberi kesempatan bertanya. Mau kritis atau sekadar paritisipasi.

Para penanya kritis, tak hanya memberi masukan tapi langsung menagih penulisnya untuk sesegera menyelesaikan thriller lanjutannya. “Kami, yang dalam novel disebut sebagai Pendawa Lima, sudah dapat meraba endingnya, tapi perlu buku thrillernya,” kara Setnov Lubis.

Hal serupa diminta Alex Silalahi. Cendikiawan muda (yang satu tim dengan Ls Drs Naurat Silalahi) itu pun sedang dalam pergumulan.

Ketika banyak penanya yang nadanya hampir sama dengan harapan Alex Silalahi dan Setnov Lubis, Catherine Margaretha Sitorus serta sejumlah pendeta tertawa. “Jangan sampai thriller lanjutannya kalah (cepat) dengan hasil di dunia nyata, tumbangnya kezaliman,” ujar perempuan musisi tersebut.

Dari maya, sejumlah pengritisi sahut-menyahut minta Riduan Purba tak patah semangat menyuarakan kebenaran. Harapan itu disampaikan Efendi Hutabarat dari Jakarta, Manahan Sihombing dari Palembang, Prof Bilter irait, Pdt Eben Lubis dari Padangsidimpuan, Osbeth Sinaga dan sejumlah cendikiawan. (R10)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com