Firman Sibarani Rilis Acuan Martumba, Bukukan 53 Lagu Tumba Klasik


321 view
Foto Dok
Firman Sibarani
Deliserdang (SIB)
Pdt Firman Sibarani MTh merilis ‘Martumba dan Kumpulan 53 Lagu-lagu Tumba Seni Budaya Batak Toba’ dalam edisi luks. Beda dengan 4 buku pria yang melayani sebagai Praeses Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) Daerah VI Sumatera Timur II terdahulu, kali ini tulisannya berisi ajaran kasih dengan penekanan menjaga dan melestarikan adat leluhurnya dari sisi seni. “Generasi muda Bangso Batak (khususnya Toba) semakin tergerus pemahamannya soal martumba. Mirisnya, martumba diseterakan dengan tortor. Padahal tidak,” jelasnya, Kamis (25/2).

Maksud ajaran kasih adalah menjaga, melestarikan dan mengajak semua komponen Bangso Batak pada martumba. Pria yang rangkap sebagai Plt Praeses Daerah XIV itu mendedikasikan karyanya untuk Tano Batak. Padahal, sesungguhnya ia tidak pernah martumba dan memiliki harta di bona pasogit. “Tetapi saya sadar, kekayaan bona pasogit adalah anugerah-Nya yang harus dijaga. Di sana hidup jutaan warga penyembah-Nya hingga harus dirawat sedemikian rupa,” ujarnya.

Atas dasar cinta kasih tersebut membuatnya terus mendorong siapa saja menjaga alam dan lingkungan. Khusus Danau Toba yang menjadi episentrum kehidupan Bangso Batak, harapnya, harus dirawat agar program Presiden Joko Widodo yang mencetak destinasi wisata baru berskala global, terwujud. “Danau Toba harus dikembalikan fungsinya sebagai lokasi mandi. Artinya, harus bersih, asri hingga (kalau dapat) airnya langsung diminum. Seperti air dari pancuran di Tano Batak. Itu bisa diwujutkan jika tidak ada kerambah di sana,” harapnya.

Buku berisi dua bab tersebut menunjukkan bijaksananya seorang Firman Sibarani. Ia menulis tentang seni warisan leluhur tapi menyoroti alam indah sebagai bagian dari seni. Titik pijakannya adalah bahwa martumba mencakup semua sisi seni sekaligus sebagai ungkapan hati, penyampai berita dan pesan serta lainnya yang luhur.

Tak sekadar mengusulkan tentang pelestarian, yang bersangkutan pernah mengeksekusi die-idenya dengan mengadakan Festival Martumba Pemuda Pemudi di Naga Hall Medan dan diikuti generasi muda dari sejumlah wilayah di Sumbagut.

Lagu Tumba Klasik
Di bab selanjutnya, buku bertagline ‘Melestarikan Budaya, Membangun Karakter Luhur Anak Bangsa. Membangun Bon Ni Pinasa, Dinamit Peledakan Pariwisata Toba’ mencantumkan 53 lagu tumba klasik yang populer dari masa ke masa.

Guna merangkul kalangan generasi muda, khususnya milenial (yang mungkin) tak memahami lagi bahasa ibu, Firman Sibarani menranskrip syair dari puluhan lagu yang tidak diketahui siapa penciptanya. Lengkap dengan solmisasi.

Cara tersebut dimaksudkan agar tak hanya jadi bacaan atau referensi semata namun (dapat juga) sebagai panduan bagi musisi khususnya penyanyi. Di dalam diterakan syair lengkap.

Ke-53 lagu disusun lengkap dengan partitur. Bagi kelompok paduan suara, misalnya, jadi mudah membawakan lagu-lagu tersebut untuk komposisi koor.

Buku tersebut dikerjakan sejak 2019. Ktika pandemi berlangsung, penulisnya jadi semakin memiliki waktu luang menyelesaikan dengan studi perpustakaan yang lengkap disertai wawancara melengkapi buku.
***

Firman Sibarani lahir di Kampung Tualang, Seibamban - Serdang Bedagei pada 1963. Menikah dengan Pdt Meri Pitta Ulina Hutapea MTh dan dikarunian 4 buah hati.

Perjalanan religinya tergolong lengkap. Mulai dari pendeta di HKI kemudian menjadi Praeses HKI di sejumlah daerah, termasuk menjabat Praeses HKI Daerah IX. Ilmunya yang luas ditransfernya ketika menjadi dosen di STT Abdi Sabda Medan.

Publikasi ilmiah religi terdahulu mendapat perhatian luas. Tak hanya lingkungan kegerajaan tempatnya mengabdi tapi kalangan luar. Satu di antaranya adalah ‘Ajaran HKI’ yang disunting bersama Ephorus Dr Langsung Sitorus. (R10/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Tag:Rilis
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com