Seminar Nasional HUT PIKI

Ketahanan Pangan dan Penanganan Bonus Demografi Hal Rawan Menuju Indonesia Emas 2045


302 view
Ketahanan Pangan dan Penanganan Bonus Demografi Hal Rawan Menuju Indonesia Emas 2045
(Foto: Dok/DPD PIKI Sumut)
SEMINAR HUT PIKI: DPD PIKI Sumut, Sabtu (14/10) di Grand Ballroom Bank Sumut Medan, mengadakan seminar nasional ketahanan pangan. Di foto fungsionaris PIKI Prof Dr Elisabet Siahaan SE MEc SE MEc dan Pdt Dr Rosiany Hutagalung SP MTh (tengah) memberi pikiran kritis menyampaikan buah pikir. 
Medan (SIB)
DPD Persatuan Intelegensi Kristen Indonesia (PIKI) Sumut, Sabtu (14/10) di Grand Ballroom Bank Sumut Medan, mengadakan seminar nasional ketahanan pangan. Seminar dalam rangka HUT PIKI itu menghadirkan sejumlah perempuan intelektual di antaranya Dr Erika Pardede dan Dr Charloq Nababan yang disahuti kritis Prof Dr Elisabet Siahaan SE MEc SE MEc dan Pdt Dr Rosiany Hutagalung SP MTh.
Ketua DPD PIKI Sumut, Naslindo Sirait mengatakan pihaknya melihat betapa pentingnya pemahaman ketahanan pangan dan mengekskusinya dalam kehidupan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. “Ketahanan pangan pun menjadi konsern dari Pemprov Sumut karena diarahkan menjadi penyangga ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sumut itu mengatakan, atas pertimbangan tersebut pihaknya mengadakan seminar ketahanan pangan untuk mendukung program pemerintah daerah dalam hal Pemprov Sumut dalam mendukung ketahanan pangan di daerah. “Sejumlah wilayah di Sumut sangat masyhur dengan produk beras dan menjadi penyuplai makanan pokok utama Indonesia tersebut ke sejumlah daerah,” tegasnya.
Wilayah dimaksud di antaranya Kabupaten Simalungun, Serdangbedagai, Langkat dan Mandailingnatal. Wilayah dimaksud dapat mengantisipasi pengadaan pangan di Tanah Air yang dibayangi fenomena El-Nino yang membawa guncangan dalam produk pertanian.
Erika Pardee mengatakan bagaimana pengolahan hasil pertanian yang dari hulu ke hilir banyak turunan produknya. Kopra, misalnya, tidak harus tinggal sebagai kopra tapi bisa menjadi santan, VCO, tepung kelapa dan lain sebagainya sebagai bagian dari sumber pangan.
Charloq Nababan telah memraktikkan pengalamannya tentang micro green di urban farming yang berpotensi panen 7-14 hari dengan memanfaatkan lahan terbatas di pekarangan bisa jadi sumber penghasilan.
Elisabet Siahaan menegaskan mengenai sektor keuangan yang tak dapat terpisah dari upaya ketahanan pangan. Usulnya, masyarakat dari strata sosial bawah ke atas, diberi pemahaman pentingnya pengelolaan keuangan dalam maksud berkontribusi dalam ketahanan pangan.
Pdt Rosiany Hutagalung bicara seperempat abad ke depan. Menurutnya, pada 2045 Indonesia sampai pada puncak bonus demografi. “Merekalah yang akan memimpin bangsa ini di tahun 2045. Bagaimana mereka menjadi pimpinan unggul jika tidak disiapkan SDM berkualitas. Itu tidak akan tercapai jika tidak diperhatian asupan gizi yang sama sebangun dengan intelegensinya,” tegasnya.
Pendeta dari Wesley Methodist Church itu menegaskan, nasib bangsa dipertaruhkan dalam menyiapkan pimpinan di 2045. “Pandemi Covid-19 dapat dilalui dengan baik sebab kerja sama semua pihak. Pengalaman dari penanganan itu dapat menjayakan Indonesia di era bonus demografi,” tegas ibu asuh dari ratusan warga yang menghadapi dan menjalani proses hukum di lembaga-lembaga pemasyarakatan tersebut.
Menurutnya, bonus demografi yang dirasakan Indonesia pada 2045 adalah 70 persen dalam usia produktif (15-64 tahun), 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan diatas 65 tahun).
“Artinya, selain penyiapan kualitas fisik dan SDM juga penyusunan strategi apa. Baik secara global maupun nasional atau regional. Ingat lho, Indonesia harus mengantisipasi proses secara global,” tegas pendamping puluhan warga Papua yang menimba ilmu di Sumut tersebut.
Ia menunjuk sektor kemiskinan di Tanah Air. Mulai dari kemiskinan ekstrim, kemiskinan yang berada di sekitar garis kemiskinan atau kemiskinan tak kentara yakni kelompok tunakarya. “Ini hal penting harus ditangani,” desak Pdt Rosiany Hutagalung.
Seminar yang diantar MC Ronald Hutasoit tersebut dihadiri Pj Gubernur Hassanudin, Ketum PIKI Putri Banikenita Sitepu, Kepala Perwakilan BI, Dirut Bank Sumut, Kementan, Bupati Simalungun, PT Pupuk Indonesia, NGO Food for the Hungry dan puluhan akademisi serta cendikiawan kampus. Mulai dari UHN hingga Unpri dan Wilmar Bisnis serta USU plus Unimed. (**)
Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com