Riduan Purba Rilis Novel Roman Majas Ironi, Proteksi Defisit Moral


167 view
Foto : Dok/FB
NOVELIS : Riduan Purba (rambut dikuncir) membubuhkan tanda tangan di novel karyanya, “Tuhan Izinkan Aku Jadi Pembangkang” memenuhi permintaan novelis Tunggal Sitorus dan musisi Catharine Sitorus.
Medan (SIB)
Riduan Purba merilis ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pembangkang.’ Novel yang tak biasa bila diseksamaai dari genrenya, majas ironi. Suguhan pendeta yang kerap berada di pinggir rel Medan - Binjai dalam mengedukasi warga marjinal tersebut seperti kisah nyata. “Ini novel fiksi. Jika ada penafsiran seperti kisah nyata, biarkanlah penafsiran seperti itu,” ujar penyiar di satu radio rohani tersebut, menjawab komentar pembaca mengenai novel.

Keluarbiasaan sudah terpatri dalam launching di Hotel Impression Medan, Selasa (16/3). Audiens yang hadir datang dari kalangan istimewa. Ada guru besar seperti St Prof Dr Albiner Siagian. Rohaniawan seperti Ephorus (Em) GKPS Jaharianson Saragih PhD. Dari intern GMI terlihat Pdt Dr Hotman Siagian, Pdt Arigato Sianturi MA, termasuk keluarga Pdt Dr Robert Sihombing alm. Hadir juga tokoh masyarakat seperti Pdt Ebert Lubis STh, Pdt Dr Jonsen Sembiring MTh dan Pdt Palgey Manurung MMin.

Dari kalangan di luar gerejawi, terlihat Dr Arifin Doloksaribu SH MHum, musisi Catharine Margaretha Sitorus, Alex Silalahi dan Jones Setnov Lubis, novelis Tunggul Sitorus, termasuk tokoh pemuda Osbeth Sinaga. Penuh di lokasi kegiatan, secara virtual diikuti sejumlah tokoh lain.

Sebutlah Efendi Hutabarat dari Jakarta, Manahan Sihombing dari Palembang, Prof Bilter Sirait dan Pdt Eben Lubis dari Padangsidimpuan.

Diantar moderator Dr Ir RO Coki Sitorus MM, ‘Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pembangkang’ dikupas para ahli. Di antaranya Pdt Dr Fernando Sibarani.

Untuk ukuran fiksi, materi novel terasa ‘berat’ sebab menyimpan konflik batin 4 tokoh utama, yang memrotes kesalahan-kesalahan terstruktur dilakukan pimpinan institusi religi. Ketaksesuaian cara memimpin dan mengambil kebijakan tersebut, justru diaminkan orang-orang demi mempertahankan kedudukan. Tapi keempat tokoh tersebut tidak sedang melawan arus, melainkan ingin menegakkan kebenaran berparameter Alkitab dan hukum positif.

Di titik itulah penulis yang populer dengan panggilan Duan Purba tersebut memasukkan unsur satire. Lebih tepat dikatakan menyodorkan majas ironi. “Dengan sindiran halus namun menggunakan bahasa keseharian, bahasa gaul yang kadang ‘nakal’, pembaca dituntun memahami kata ‘tolol’ dari sisi negatif dan positif,” ujar Pdt Fernando Sibarani, yang sepertinya tahu persis maksud dan tujuan novel diselesaikan penulisnya.

Tetapi, Pdt Jaharianson Saragih dan St Albiner Siagian yang dikelompokkan sebagai ‘orang luar’ memahami maksud Duan Purba pada karya yang penuh kontemplasi tersebut.

‘Orang luar’ yang jeli mengikuti alur novel, dibawa ke kondisi dewasa ini. Ada (mungkin dikatakan banyak) tokoh agama yang memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Di lingkungannya ada orang-orang yang punya kepentingan mempertahankan kedudukan hingga mengangguk, terus mengangguk. Mengangguk saja.

Kelompok tersebutlah yang dapat menjadikan kondisi salah menjadi benar. “Ingat, kesalahan yang terus diulang dan dianggukkan (baca: diaminkan) akan menjadi kebenaran. Itu yang harus dicegah,” ujar Jones Setnov Lubis.

Soal moral dan kedefisitan, diurai gamblang di dalam, dengan bahasa jelas. Seperti di halaman 10, 13, 56 dan 120. Di bagian lain, seperti pada halaman 21 - 22, majas ironi justru blak-blakan ditampilkan yang dinarasikan ketika teologi menjadi tergadai demi perut kenyang.

Benarkah Duan Purba sedang marah sampai membangkang, seperti judul novelnya? “Nggak lho. Saya ini manusia penuh cinta. Jika pembaca menafsirkan macam-macam, itulah fiksi,” urai pendeta yang tampil slengekan.

Postur tubuh dengan penampilan macho itulah yang membuat penggemarnya bertanya, kenapa berambut gondrong dan dikuncir?

Novel duaratusan halaman tersebut memang menyodorkan ragam kesan. Mulai dari pembangkangan, kelompok dizalimi yang menuntut keadilan demi menjaga martabat umat, satire pada pimpinan rohani tapi bersifat duniawi hingga pasrah pada kehendak-Nya. Yang pasti, pembaca merasakan aura cinta. (R10/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com