Syair Profetik Menggiring Wiliem Bangun Tinggalkan Melbourne Demi Altar Pengembala


199 view
Foto Dok/Wiliem Bangun
Wiliem Bangun
Medan (SIB)
‘Bila Engkau Tak Besertaku’ menjadi satu dari sekian banyak lagu religi yang memberi kekuatan pada Wiliem Bangun. Bahkan, sebelum memfavoritkan tembang yang kerap dilantunkan Pdt Bambang Jonan ciptaan Franky Sihombing tersebut dikenalnya, banyak kidung religi familiar dan selalu disenandungkannya. Tetapi, yang memutar kehidupannya ketika berada di Melbourne, Australia.

Waktu itu ia duduk ngopi di kafe terkemuka di Benua Kanguru. Entah kenapa, pikirannya melayang ke altar gereja. Ada suara yang memerintahkannya pulang ke Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Bisikan tersebut sangat jelas didengarnya tapi tak ada satu makhluk pun di dekatnya. “Saking kerasnya bisikan tersebut membuat saya menitikkan air mata. Ingat semua apa yang selama ini saya lakukan. Betapa besar berkat-Nya tapi mengapa saya tidak membalas kebaikan itu dengan memuliakan-Nya,” kenangnya tentang hari-hari terakhirnya di negara benua tersebut, Kamis (7/1) di GBI Hotel Pelangi Medan.

Petang itu, Wiliem pun memutuskan pulang. Meninggalkan kontrak studi yang baru sesemester dilaluinya. Tiba di Tanah Air, bukan melapor ke almamater tapi bertelut di altar gereja. Banyak pihak terkejut dengan keputusannya. Kenapa peluang emas di dunia sekuler disia-siakan? Tak gampang lho dapat pembiayaan negara untuk melanjut studi di luar negeri. “Tapi saya sudah tekad bulat,” kenangnya mengenai bisikan profetik yang didengarnya.

Wiliem masuk ke kehidupan religi. Mulai dari nol. Di luar dugaan, hasratnya menghentikan operasional hotel terkemuka warisan orangtua menjadi pusat memuliakan-Nya, didukung keluarga. “Saya benar-benar lahir baru,” ujarnya.
***
Terlahir di Medan pada 10 Mei 1960 sebagai putra pasangan Benjamin Bangun - Pemulihan Sinulingga. Masa kecil dilalui dengan pendidikan disiplin moral dan religi. Menimba ilmu di SDN 67 melanjut ke SMPN 3 Medan, hijrah ke SMAN 13 Jakarta Utara. Dari sana mengambil spesialisasi hukum di Universitas Kristen. Harapan waktu itu ingin menjadi polisi, jaksa, hakim atau aparat yang berkaitan dengan hukum sebagaimana profesi orangtuanya yang anggota Brimob Poldasu. Melanjut ke UI dengan spesialisasi kriminologi.

Berprestasi di Universitas Indonesia membuat Wiliem beroleh beasiswa studi di RMIT Melbourne. Di Australia, sempat menjadi jurnalis dan menemui sejumlah paradoks. Yang paling menakutkannya ketika bertemu dengan individu yang tak percaya pada adanya Tuhan Sang Pemilik Alam Semesta. “Padahal, dalam ajaran yang saya yakini, Yesus Kristus satu-satunya jalan menuju Tuhan Allah!”

Pergumulan demi pergumulan membuat kehidupan Wiliem di negeri orang, semakin gundah gulana. Itulah yang memaku tekad meninggalkan kehidupan sekuler dan melanjut studi teologi di Kalimantan hingga beroleh gelar doktor teologi.

Usai pendidikan, tahun 2000 bergabung di GBI Pardede Hall Medan. Tahun 2007 terjadi pergumulan hebat. Wiliem ingin menutup unit usaha orangtuanya yang selama ini sebagai sumber kegemilauan harta. Tahun 2007 dikibarkannya GBI Jemaat Pelangi. Bersamaan dengan itu, ia memegang teguh nats Mazmur 78: 72 yang menuliskan cara Daud mengembalakan dengan ketulusan hatinya dan memimpin dengan kecakapan tangannya.

Pengamalan tersebut dipadu dengan motto satu musuh terlalu banyak, seribu teman sangat sedikit. “Gembala yang baik memang harus cakap dan merangkul semua mahkluk!” tegasnya.

Perlahan-lahan Wiliem membangun kerajaan-Nya. Dari pernikahannya dengan Kombes Rinasari Ginting menghadirkan buah hati yang dirahmati-Nya yakni Ruben Bangun yang seorang pilot, Ronny Bangun yang eksekutif di Bank Mandiri Pusat dan dr Wina Kania Wasista BR Bangun. “Saya bersyukur dipilih dan dipulihkan-Nya sebelum berkubang di gemerlap sekuler. Meski saya bukan gembala yang baik, tapi terus berikhtiar memuji-Nya dengan kabar suka,” tutup pria yang terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum BKAG Medan tersebut. (R10/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com