6 Kebiasaan Sehat Orang Jepang yang Bisa Bikin Panjang Umur


327 view
dok. Pixabay.com/zuzyusa
Ilustrasi rumput laut.
Orang-orang Jepang dikenal kerap menjalani pola hidup sehat. Maka tak heran jika Negeri Sakura ini memiliki jumlah orang per kapita tertinggi yang berusia di atas 100 tahun dibanding kawasan lain di seantero jagat.

Dilansir dari laman Today, Senin (7/9), ada pula beberapa perbedaan genetik yang turut berperan. Namun ada juga pola hidup yang mengacu pada rentang hidup lebih lama dengan sedikit penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Anda dapat meningkatkan kesehatan dengan mengadopsi kebiasaan sehat dari yang banyak dijalankan orang-orang Jepang. Apa saja? Simak rangkum selengkapnya berikut ini.

1. Makan rumput laut
Bukan rahasia lagi jika makanan Jepang dilengkapi dengan banyak makanan nabati bergizi, meski begitu, rumput laut jadi yang begitu menonjol. Meski bervariasi dalam jumlah nutrisi, sebagian besar rumputan laut dikemas dengan mineral, yang meliputi antioksidan, protein, serat dan lemak omega-3 yang bermanfaat atau yang juga ditemukan pada ikan.

Biasanya orang akrab dengan nori, rumput laut untuk membungkus sushi dan dikeringkan, serta dijual sebagai makanan ringan kemasan. Anda dapat mencoba salad rumput laut yang dibuat dari wakame, sejenis rumput laut yang kerap dipakai dalam sup.

2. Sediakan makanan laut
Seafood jadi kunci mengapa orang Jepang begitu sehat. Negeri Matahari Terbit ini memiliki tingkat penyakit jantung terendah di dunia. Pria Jepang paruh baya dibanding pria Amerika, memiliki lebih sedikit penumpukan kolesterol di arteri mereka karena mengonsumsi seafood yang tinggi.

Diet orang Jepang termasuk sekitar tiga ons makanan laut sehari atau sekitar 68 pon setahun. Makan seafood dua kali seminggu tidak hanya terkait dengan kesehatan jantung yang lebih baik, tetapi juga kesehatan otak dan emosional yang lebih baik. Seafood cepat matang dan sebagian besar jenis dapat dipanggang dan dibakar untuk hidangan utama yang cepat dan sehat.

3. Minum Teh Hijau
Teh hijau dapat dikatakan sebagai salah satu minuman tersehat dan meminum teh hijau telah jadi kebiasaan sehari-hari di Jepang. Teh hijau memiliki beragam manfaat yaang baik bagi tubuh.

Teh hijau kaya akan antioksidan polifenol yang mengurangi peradangan, melindungi sel dari jenis kerusakan yang dapat memicu penyakit kronis, dan yang memberi makan bakteri ramah di usus Anda, tempat sebagian besar sel kekebalan dan bahan kimia saraf peningkat suasana hati diproduksi. Teh hijau tanpa pemanis adalah minuman yang sempurna, namun Anda juga dapat memakai teh hijau yang direndam sebagai bahan dasar cair pada ragam sajian sebut saja, smoothies, oatmeal, nasi merah atau quinoa.

4.Makan sampai hampir kenyang
Sebuah pepatah Jepang berbunyi "hara hachi bu" yang berarti makan sampai kenyang 80 persen. Lewat pola pikir ini, Anda makan hingga merasa nyaman namun masih memiliki ruang di perut.

Intinya adalah makan secara sadar dan memungkinkan untuk makan cukup demi memenuhi kebutuhan tubuh tanpa berlebihan. Jika Anda ingin berlatih makan sampai Anda hampir kenyang, mulailah dengan mendengarkan sinyal lapar dan kenyang.

Praktik shinrin-yoku di Jepang berarti forest bathing atau mengambil suasana hutan yang jadi bentuk terapi alam. Latihan ini mengenai perhatian dan menyesuaikan diri dengan suasana alam.

Ketika berada di alam, Anda menggunakan semua indra, misalnya merasakan angiin atau matahari di kulit Anda hingga melihat nuansa hijau di rerumputan dan pepohonan. Hal ini memungkinkan pikiran dan tubuh rileks seperti saat meditasi.

Jika tak ada hutan di dekat Anda tinggal, pengaturan alami bisa dilakukan. Menurut penelitian terbaru, perasaan sejahtera dan kepuasan hidup meningkat setelah hanya menghabiskan 20 menit di taman kota.

6.Pertahankan lingkaran sosial yang kuat
Tetap terhubung secara sosial sudah tertanam dalam budaya Jepang, itulah alasan mengapa orang Jepang menikmati kesejahteraan fisik dan emosional yang lebih baik di masa tua. Di Jepang, integrasi sosial dapat terjadi dengan beberapa cara. Misalnya, orang dewasa mungkin tinggal dalam rumah tangga multi-generasi dan di pedesaan, tidak jarang bekerja melewati usia pensiun. (Lip6/d)