Kesepian, Pemantik Masalah Kesehatan Mental


160 view
(iStockphoto/KatarzynaBialasiewicz)
Ilustrasi. Efek buruk kesepian dapat menjadi pemantik masalah kesehatan mental. 
Masa pandemi Covid-19 telah mengubah hidup sebagian orang, termasuk terperosok dalam jurang kesepian.
Beberapa mungkin familiar dengan rasa sepi selama pandemi karena interaksi yang terbatasi.

Meski situasi memang seolah membuat diri terlatih, tapi sebaiknya tidak membiarkan begitu saja jika mulai terjebak dalam kesepian.
Pasalnya, efek buruk kesepian dapat menjadi pemantik masalah kesehatan mental.

Psikolog klinis Roslina Verauli menyebut kesepian memang tidak selalu berkaitan dengan kondisi fisik sedang sendiri.
Rasa kesepian terkadang bisa menghinggapi saat seseorang sedang berada di tengah keramaian. Tak sedikit yang terkadang bahkan tak tahu pasti penyebab dirinya kesepian.

"Kesepian, loneliness, itu penghayatan subjektif bahwa kita merasa sepi sendiri. Karena penghayatan subjektif, orang yang sendirian tidak selalu 'lonely', sedangkan orang yang di tengah keramaian bisa 'lonely'. Kesepian ini bisa memicu masalah kesehatan mental," jelas Vera saat berbincang, beberapa waktu lalu.

Karena bisa memicu masalah kesehatan mental, sebagian orang mulai mengaitkan kesepian dan depresi. Padahal, lanjut Vera, keduanya berbeda.

Depresi lebih berkaitan dengan masalah emosional. Orang yang depresi memiliki penghayatan bahwa dirinya negatif misal menyalahkan diri sendiri, merasa tidak kompeten. Depresi arahnya ke dalam diri.

Sementara itu, kesepian, selain soal penghayatan kondisi sepi dan sendirian juga berkaitan dengan isolasi sosial.

Isolasi sosial bisa memicu kesepian di mana interaksi sosial minim baik tingkat atau intensitas juga frekuensinya.

"Kesepian jika berkepanjangan, kronis, otomatis emosinya pasti terpengaruh. Secara emosional negatif, penghayatan diri negatif, timbul masalah tidur, mengarah pada depresi," lanjut Vera.

Pertolongan pertama pada kesepian
Membiarkan kesepian jadi berlarut bisa mendatangkan masalah baru. Di sela alunan lagu-lagu 'galau', ada baiknya memberikan 'pertolongan pertama' pada kesepian.

Vera memberikan beberapa cara yang juga dapat menjadi terapi untuk orang kesepian.

1. Penuhi kebutuhan dasar
Kebutuhan dasar ini termasuk tidur atau istirahat cukup, makan terpenuhi, ada rasa aman.
Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, penting untuk mengupayakan tubuh tetap sehat lewat pemenuhan nutrisi.

2. Terhubung dengan keluarga
Coba untuk tetap terhubung dengan keluarga sahabat atau teman dekat.
Karena kondisi sendirian dan belum memungkinkan untuk berkencan, Vera menyarankan untuk sementara tidak mencari teman kencan saat kesepian.

"Saat kesepian, diri kita itu unfulfilled, artinya butuh sesuatu agar terpenuhi kebutuhan emosional dasar. Malah bahaya kalau mencari teman kencan. Maunya niat mengatasi kesepian malah ketemu orang yang memperdaya," katanya.
Untuk itu, Vera menyarankan ada baiknya terhubung dulu dengan keluarga dan kerabat dekat yang lebih memahami dan mengenal diri.

3. Meningkatkan aktivitas fisik
Aktivitas fisik baik dilakukan untuk membantu meredakan sepi. Anda bisa melakukan olahraga fisik atau mental.
Jika biasanya Anda bekerja, untuk sementara coba ambil waktu istirahat dan meluangkan waktu untuk membuat karya.

4. Tetap 'bersentuhan' dengan alam
Rasanya sulit memberikan saran untuk memiliki aktivitas di luar sementara pandemi masih menyelimuti.
Namun aktivitas di luar rumah dan koneksi dengan alam mampu memberikan rasa nyaman dan lebih baik.
Anda bisa meluangkan waktu untuk berjemur saat pagi atau sesederhana jalan sore di sekitar kompleks rumah tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.

5. Memiliki hewan peliharaan
Orang yang kesepian kerap disarankan untuk memelihara hewan. Vera menyebut pemilihan hewan peliharaan juga perlu hati-hati sebab tidak semua hewan bisa 'menolong' Anda dari rasa sepi.

"Biasanya kalau depresi, kesepian, dianjurkan untuk punya hewan peliharaan dari kelompok mamalia. Dari struktur otak berkaitan dengan pusat emosi itu berkembang. Kita terlibat secara aktif, memelihara, hewan merasa disayang, jadi ada feedback secara emosional," jelasnya.
Sedangkan hewan yang tidak dianjurkan adalah dari kelompok reptil. Berdasar riset, lanjut Vera, di antara hewan-hewan peliharaan lain, reptil termasuk hewan dengan pusat emosi yang paling tidak berkembang.

Kapan perlu ke psikolog?
Saat pertolongan pertama tidak menolong rasa kesepian, Anda perlu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional termasuk psikolog. Vera berkata ada beberapa kriteria yang jadi semacam 'alarm' untuk mengambil tindak lanjut.

Kriterianya, saat penghayatan kesepian masih terjadi dan mulai mengganggu fungsi dan aktivitas sehari-hari, rasa makin tertekan, dan perasaan kesepian kian parah.

"Fungsi terhambat, kerja, aktivitas terganggu, susah tidur, makin tertekan. Nah sebaiknya segera ke psikolog klinis terdekat untuk diberikan psikoterapi yang sesuai,"katanya. (CNNI/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com