Duo Bandar Sabu di Bengkalis Kembali Dihukum Mati


155 view
Net
Ilustrasi sidang. 
Jakarta (SIB)
Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis, Riau, kembali menjatuhkan hukuman mati kepada bandar narkoba. Kali ini dijatuhkan kepada Sario (37) dan Father Sihombing (24).

Hal itu terungkap dalam putusan PN Bengkalis yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Rabu (2/9). Kasus itu bermula saat kelompok mafia itu hendak mengedarkan 25 Kg sabu yang bila dirupiahkan nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Sario yang sedang meringkuk di LP Tanjung Gusta, Medan, dikontak oleh komplotannya pada Januari 2020. Sario kemudian menggerakkan kaki tangannya di luar penjara untuk membawa narkoba itu.

Estafet sabu itu dilakukan kurir vs kurir. Titik temu disepakati di Desa Sebanger, Mandau, Bengkalis. Kemudian dipindahkan sabu dari mobil kurir satu ke mobil kurir lainnya. Saat bongkar muat itu, polisi langsung menggerebek komplotan itu.

Jaringan ini lalu diproses secara hukum. Sario yang ada di Medan digelandang ke Bengkalis untuk memertanggungjawabkan perbuatannya.

"Menyatakan terdakwa Sario Bin Adi Suwarno tersebut di atas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana 'Pemufakatan Jahat Tanpa Hak Dan Melawan Hukum Menerima Narkotika Golongan I Bukan Tanaman Yang Beratnya Melebihi 5 Gram' sebagaimana dalam dakwaan primer. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa, oleh karena itu dengan pidana mati," kata Majelis Hakim yang diketuai Hendah Karmila Dewi dengan anggota Aldi Pangrestu dan Ignas Ridlo Anarki.

Sario dihukum mati, karena saat ini dia sedang menjalani hukuman penjara seumur hidup dalam kasus narkoba. Karena mengulangi perbuatannya, maka akhirnya dihukum mati.

"Sifat dari kejahatan narkotika adalah termasuk kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime), karena tidak hanya menimbulkan bahaya bagi pelaku penyalahgunaan saja, akan tetapi lebih dari itu peredarannya bisa meracuni generasi muda Indonesia, dan hal itu bisa mengancam keselamatan bangsa dan negera Indonesia secara keseluruhan," ujar majelis.

Menurut majelis, kejahatan narkotika merupakan kejahatan transnasional dan sudah menjadi kesepakatan negara-negara di dunia untuk berupaya secara maksimal memberantas jaringan peredaran gelap narkotika, seperti tertuang dalam Konvensi PBB tentang pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika (United Nations Conventions Against Illicit Traffic In Narcotic Drug and Psychotropic Substances). Kemudian diratifikasi oleh negara Indonesia melalui Undang-undang RI Nomor 7 Tahun 1997.

"Oleh karena itu, Indonesia sebagai salah satu negara pendukung Konvensi Internasional tersebut harus sungguh-sungguh berupaya memberantas peredaran gelap narkotika Internasional dimaksud," beber majelis.

Hukuman mati juga dijatuhkan kepada Father. Dia merupakan kurir di kasus itu. Majelis menegaskan, hukuman mati konstitusional. Salah satu sumber hukumnya adalah melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan, pidana mati tidak melanggar konstitusi dan hingga saat ini masih berlaku sebagai hukum positif.

"Kemudian dari pandangan agama (khususnya hukum Islam), bahwa hak untuk menuntut balas atas kematian keluarga juga diberikan melalui lembaga Qisas setelah melalui prosedurnya," ucap majelis, 31 Agustus kemarin. (Detikcom/a)
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com