Korban Pemerkosaan Melapor ke Polrestabes Medan


221 view
Korban Pemerkosaan Melapor ke Polrestabes Medan
Foto SIB/Roy Damanik
KORBAN PEMERKOSAAN: Bunga yang menjadi korban pemerkosaan didampingi ayahnya, Gohizisokhi Hulu dan keluarganya R Halawa serta Jufer Ziraluo menunjukkan bukti 2 tanda laporan di Mapolrestabes Medan, Senin (31/8). 
Medan (SIB)
Seorang anak di bawah umur yang menjadi korban pemerkosaan sebut saja namanya Bunga (15), warga Percut Sei Tuan, Deliserdang melapor ke Polrestabes Medan.

Ayah korban, Gohizisokhi Hulu (32), warga Jalan Metrologi, Kecamatan Percut Sei Tuan didampingi keluarganya, R Halawa (48) dan Jufer Ziraluo (52), keduanya warga asal Nias Selatan (Nisel) saat diwawancarai wartawan di Polrestabes Medan, Senin (31/8) sore mengungkapkan pemerkosaan yang meninpa korban pertama terjadi, Oktober 2017 lalu.

"Anak saya Bunga saat itu berusia 12 tahun dan tinggal di rumah Bapatalunya, Ama Les Hulu (abang kandung) saya di Jalan Metrologi untuk menjaga anak. Sedangkan pelaku, BG (35), warga Nisel ngekos di rumah Ama Les," ujarnya.

Saat Bapatalu korban sedang bekerja, sambungnya, korban meletakkan gelas berisi air minum miliknya di atas meja. Selanjutnya korban pergi ke dapur, dan tidak lama kembali ke ruang tamu dan langsung meminum air putih tersebut. Tidak berapa lama, korban tiba-tiba tidak sadarkan diri.

"Saat tersadar korban sudah berada di kamar pelaku dengan kondisi tidak berbusana lagi serta banyak bercak darah di tikar. Bunga juga merasakan nyeri di bagian mahkotanya yang juga terdapat banyak bercak darah. Pelaku yang tidak mengenakan pakaian menghampiri korban sembari mengancam akan membunuh ayah serta adiknya, jika melapor ke keluarganya," ungkapnya.

Lanjutnya, aksi pemerkosaan pelaku terhadap korban terus berlanjut hingga Januari-Maret 2018, di saat Bapatalu korban sedang bekerja. Modus pelaku mencekoki korban dengan air putih bercampur obat bius. Usai diperkosa, korban selalu diancam pelaku.

Karena ketakutan diperkosa terus menerus, korban memilih pindah dan bekerja sebagai penjaga anak bos pemilik sarang walet kawasan Mega City Pasar V Timur.

"Pada 14 Juli 2020 sekira pukul 01.00 WIB, korban sedang tidur di kamarnya. Tiba-tiba seorang pekerja sarang walet berinisial I (25) masuk ke kamar korban dan langsung memerkosanya hingga pendarahan. Di situ I mengancam akan membunuh korban, jika melapor ke bos sarang walet," katanya.

Masih kata Gohizisokhi, usai diperkosa anaknya pergi ke rumah ayahnya di Medan untuk menenangkan pikiran. Tiba-tiba ayahnya beserta kakak dan keluarganya menanyakan kepada Bunga kenapa dia pindah dari rumah Bapatalunya. Dengan meneteskan air mata korban menceritakan pemerkosaan yang dialaminya dan dilakukan 2 orang.

"Saya langsung membawa Bunga ke Polrestabes Medan untuk membuat 2 laporan. Selanjutnya kami ke rumah sakit untuk visum.

Pihak rumah sakit menyatakan, Bunga tidak gadis lagi," ucapnya sembari menunjukkan 2 bukti laporan yang tertuang di Nomor: STTP/1710/VII/YAN 2,5/2020/SPKT Resta Medan, 14 Juli 2020 dan Nomor: STTP/1712/VII/YAN 2,5/2020/SPKT Resta Medan
Masih diungkapkan pria asal Nisel itu, beberapa hari kemudian karena tidak ada perkembangan terkait laporan korban, Bapatalu korban, Ama Les Hulu dan abang sepupunya mencari pelaku BG yang berprofesi sebagai tukang jahit di kontrakannya Pasar 8 Tembung. Setelah bertemu pelaku dianiaya. BG langsung membuat laporan ke Polsek Percut Sei Tuan.

"Sekitar 2 minggu lalu Ama Les Hulu dan abang sepupu Bunga ditangkap polisi. Mereka berdua menganiaya pelaku lantaran belum ditangkap polisi. Saya berharap agar pihak kepolisian segera ditangkap guna memertanggungjawabkan perbuatannya. Sebab masa depan anak saya sudah hancur akibat perbuatan para pelaku," harapnya.

Sementara itu R Halawa datang dari Nisel untuk memberikan dukungan moral terhadap Bunga dan ayahnya. Dia juga meminta polisi segera menangkap para pelaku

"Kami sudah melaporkan kasus ini kepada Ketua Perlindungan Perempuan, Anak dan Ibu (PPAI) di Jakarta. Saya juga yakin, pihak kepolisian segera memproses laporan keponakannya itu," tutupnya.

Kanit Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Sat Reskrim Polrestabes Medan AKP Dian yang dikonfirmasi wartawan lewat WhatsApp mengatakan, kasus dan laporan korban masih proses lidik/sidik.

"Masih proses lidik/sidik. Besok (Selasa-red) mereka, pihak korban dan saksi datang untuk dimintai keterangan," ujar Kanit. (M16/d)

Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com