Sidang Kasus Ayah Bunuh 2 Anak Tiri, Terdakwa Pasrah Jika Dihukum Mati


211 view
istimewa
Ilustrasi putusan hukuman mati 
Medan (SIB)
Sidang pembunuhan yang dilakukan kuli bangunan, R (29) terhadap dua anak tirinya, IF (10) dan RA (5) kembali digelar. Sidang beragendakan keterangan saksi itu berlangsung di ruang cakra 3 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (6/1) sore.

Dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim diketuai Morgan Simanjuntak, ibu kandung kedua korban, Fathul Zannah (30) yang juga istri terdakwa yang dihadirkan di persidangan, mengaku terpukul dan menyesali kelalaiannya mempercayakan suami mengasuh kedua korban saat dirinya bekerja.

"Saya kan setiap hari kerja, Pak, yang jaga anak-anak saya di rumah dia (terdakwa). Saya nggak nyangka sampai kayak gitu, ya saya nyesal percaya sama dia jaga anak-anak di rumah," ungkap Fathul Zannah kepada majelis hakim.

Mendengar pernyataan tersebut, salah seorang hakim anggota, Mery Dona kemudian memberi tanggapan bernada kecewa. Mery Dona menyayangkan prihal inisiatif saksi untuk mencari nafkah dan mempercayakan putra kandungnya kepada terdakwa.

"Kalau melihat wajahmu ya, kamu kan cantik, nggak sepadan sama suamimu itu. Apalagi sampai kamu yang bekerja sedangkan dia (terdakwa) di rumah. Masa kau percayakan anak-anakmu sama dia (terdakwa) apalagi dia (terdakwa) cuma bapak tirinya. Udah kayak gini tak usah lah kau menikah lagi, nggak penting kali nya laki-laki dalam hidup ini," ketus hakim anggota majelis hakim, Merry Dona dengan nada kesal.

Setelah menyampaikan sejumlah pertanyaan dan tanggapan atas keterangan saksi, majelis hakim kemudian memberi kesempatan saksi sebagai ibu kandung korban menyampaikan harapannya untuk mendapatkan keadilan. "Jadi apalah harapanmu setelah kejadian ini, kau maunya dia (terdakwa) dihukum seberat apa?", tanya majelis.

Sembari menahan tangis Fathul Zannah pun menyampaikan harapannya agar terdakwa dihukum mati. "Saya minta dia (terdakwa) dihukum seberat-beratnya, Pak hakim. Kalau bisa dia (terdakwa) dihukum mati saja," harapnya.

Menanggapi hal tersebut terdakwa yang hadir secara virtual dalam persidangan pun mengaku siap dan akan menerima apabila harus dihukum mati akibat perbuatannya. "Saya terima saja, kalau dibilang menyesal ya menyesal," sebut terdakwa saat dikonfrontir JPU Chandra Priono Naibaho melalui video teleconference di persidangan.

Sebagaimana diketahui sebelumnya dalam dakwaan JPU Chandra Priono Naibaho, perkara itu bermula pada Jumat 19 Juni 2020 saat R bersama IF dan RA berada di dalam kamar di rumahnya Jalan Brigjen Katamso Gang Usaha, Kelurahan Sei Mati, Medan Maimun.

Sementara itu di saat yang bersamaan istri R, Fathul Zannah tidak berada di rumah karena bekerja mencari nafkah.

Saat menonton televisi, kedua korban meminta uang kepada terdakwa untuk membeli es krim. Namun permintaan itu tidak dituruti hingga berujung rengekan. "Sehingga keduanya berkata 'udahlah ayah pelit kali, cari ayah barulah kami, mamak kan masih muda, masih cantik'," ujar JPU Chandra menirukan perkataan korban ketika itu.

Mendengar perkataan kedua anak tirinya itu, R merasa kesal dan emosi. Terdakwa kemudian mencengkram tengkuk kedua korban dan menghantamkan kepala kedua korban ke tembok kamar sebanyak lima kali. "Kedua korban yang masih anak-anak itu menjadi tidak berdaya dan langsung jatuh ke lantai," urai Chandra.

Melihat keduanya masih bergerak, terdakwa menginjak bagian perut dan dada IF sebanyak empat kali dan menginjak perut dan dada RA lima kali. Korban tidak bergerak lagi. Dia kemudian menyembunyikan mayat keduanya di samping Sekolah Global Prima Medan, tidak jauh dari rumahnya.

Beberapa saat setelah kejadian, Fathul Zannah yang baru pulang bekerja kemudian mencari kedua putranya. Fathul Zannah baru mengetahui peristiwa menimpa anaknya setelah melihat pesan yang dikirim terdakwa melalui Facebook.

Setelah membaca pesan itu, Fathul spontan berteriak dan menjerit histeris. Warga kemudian membawa Fathul mencari mayat kedua korban di samping Sekolah Global Prima. Mereka menemukan mayat kedua korban di jalan sempit samping sekolah.

Dalam perkara ini, JPU mendakwa R dengan Pasal 338 KUHPidana, Pasal 351 ayat (3) KUHPidana atau diancam pidana dalam Pasal 80 ayat (3) tentang Perubahan atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (M14/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com