Batombe, Tradisi Berbalas Pantun Selama Sepekan di Minangkabau


122 view
Foto Dok/Kemendikbud
Tradisi berbalas pantun di Minangkabau.
Selama ini Anda tentu tau seni atau tradisi berbalas pantun lekat kaitannya dengan masyarakat Betawi di Jakarta. Tapi enggak hanya itu, tradisi berbalas pantun ternyata juga dilakukan oleh masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, lho.

Tradisi tersebut bernama Batombe. Mengutip laman kebudayaan.kemendikbud.go.id, tradisi ini merupakan bentuk seni berbalas pantun dengan diiringi alat musik rabab (alat musik gesek).

Tradisi ini dilakukan saat pernikahan salah satu anggota suku tersebut. Tak kalah menariknya, berpantun ini dilakukan selama tujuh hari.

Dendangan pantun dalam kesenian batombe biasanya merupakan ungkapan perasaan dan cerita perjalanan hidup seperti cinta, sedih, semangat dan lain-lain. Pantunnya mengandung kata kiasan dan melepaskan hasrat hati.

Lahir dan berkembang pada masyarakat Nagari Abai, Kabupaten Solok Selatan, batombe hampir sama dengan kesenian berpantun di daerah-daerah lain. Di Palembang dan Bengkulu, kesenian berpantun ini dikenal dengan istilah Batang Hari Sembilan, Gitar Tunggal atau Rejung.

Sekilas perbedaan utama antara kesenian berpantun tersebut ada pada alat musik pengiringnya. Pada kesenian rejung dan batang hari sembilan, alat musik pengiringnya adalah gitar, sedangkan kesenian batombe menggunakan rabab sebagai pengiring.

Batombe berasal dari kata ‘ba’ dan ‘tombe’. ‘Ba’ sendiri dalam bahasa Minangkabau merupakan awalan kata, sedangkan ‘tombe’ berarti pantun. Sehingga batombe sama dengan berpantun.

Sesuai dengan namanya, kesenian berpantun ini dilaksanakan dengan cara berbalas pantun antar individu dan antar kelompok.

Asal-usul Tradisi Batombe
Tidak ada yang tahu pasti kapan tradisi ini muncul. Namun, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, tradisi ini muncul pada saat gotong royong membangun rumah gadang/masjid.

Saat itu, tradisi gotong royong memang kerap dilakukan baik dalam pembangunan kampung/nagari, pembangunan rumah gadang, serta pembangunan masjid.

Konon, saat warga sedang mengambil kayu ke hutan untuk keperluan tiang, ada satu ketika kayu yang sudah ditebang tidak bisa diangkat, bahkan sama sekali tidak bisa digeser. Berbagai usaha telah mereka lakukan, kayu tersebut tetap tidak bisa diangkat.

Dalam kondisi putus asa, tiba-tiba para perempuan yang memang bertugas untuk menyiapkan bekal mencari cara untuk memberi semangat kepada kaum pria yang sedang susah payah mencari cara untuk memindahkan kayu. Lalu, secara spontan mereka mulai berpantun yang kemudian dibalas oleh para pekerja pria.

Dalam sahut-sahutan pantun tersebut, kemudian tanpa disadari kayu yang tadi tidak bisa digeser kemudian sedikit demi sedikit bergeser dan bisa dipindahkan ke lokasi pembangunan rumah.

Demikian selanjutnya Batombe menjadi salah satu tradisi yang dilakukan hingga sekarang.

Kini batombe telah berkembang dalam berbagai acara seperti perkawinan, pembangunan rumah, memasuki rumah, batagak penghulu dan menyambut tamu. Sebelum memulai tradisi ini biasanya dilakukan penyembelihan seekor sapi atau kerbau.

Tradisi ini pun kerap menjadi suguhan khas kesenian lokal untuk para wisatawan yang berkunjung ke Nagari Abai. (Kumparan/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com