Kawin Colong Suku Osing Banyuwangi, Tradisi Unik Sepasang Kekasih yang Tak Kunjung dapat Restu


178 view
© Sanggarnusantaradotcom.blogspot.com
Kawin Colong Suku Osing Banyuwangi 
Di negara seperti di Indonesia, pernikahan adalah satu tradisi sakral dan syarat akan makna. Hampir setiap daerah di Indonesia miliki tradisi khas yang berbeda-beda sesuai dengan kearifan lokal masing-masing.

Biasanya, satu pernikahan akan dilakukan setelah keluarga dari masing-masing mempelai saling sepakat dan memberi restu. Kalau tak ada kesepakatan dan restu, hampir dipastikan pernikahan tak akan terwujud.

Tapi ada satu tradisi unik yang berasal dari suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur. Namanya tradisi 'Kawin Colong'. Dalam bahasa Jawa, kawin berarti pernikahan, sedang colong berarti mencuri.

Jadi bisa dibilang kalau tradisi kawin colong itu adalah tradisi pernikahan yang dilakukan setelah mencuri atau menculik calon pengantinnya. Kabarnya, tradisi kawin colong asal Banyuwangi ini masih kerap ditemui .

Culik Pasangan Diam-Diam
Biasanya, kawin colong ini dimulai dengan prosesi 'menculik' calon mempelai perempuan. Nantinya, perempuan tersebut diculik setidaknya selama 24 jam. Dalam kurun waktu itu, para pihak laki-laki harus mengirim Colok ke keluarga perempuan.

Sosok Colok ini dipercaya sebagai penengah antara keluarga calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Colok inilah yang menjadi penentu turunnya restu dari keluarga calon mempelai perempuan.

Oleh karenanya, sosok yang dipercaya menjadi Colok haruslah orang yang berwibawa dan berkarisma. Tujuannya adalah untuk mendapat restu, agar kawin colong bisa berlanjut ke jenjang pernikahan yang sesungguhnya.

Jika Colok Gagal
Meski tradisi kawin colong ini terkesan 'memaksa', namun tradisi suku Osing tetap memberikan ruang keputusan bagi keluarga perempuan yang diculik. Jika Colok gagal meluluhkan hati keuarga perempuan, maka kawin colong tak bisa lanjut ke pernikahan.

Oleh karena itu, tradisi kawin colong dari suku Osing ini dulunya tak jarang menimbulkan ketegangan. Alhasil, tradisi unik ini sudah mulai jarang ditemui. Meski begitu, tradisi unik ini tetap menjadi ciri khas masyarakat suku Osing di Banyiwangi. (diadona/c)