Tradisi Penghormatan Arwah Nenek Moyang Masih Eksis di Suku Ireres Papua Barat


94 view
Internet
Tampak masyarakat Suku Ireres tengah mempersiapkan lahan baru untuk pesta adat penghormatan kepada arwah nenek moyang
Suku Ireres merupakan salah satu suku di wilayah Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, yang kini masuk dalam administrasi pemerintahan dengan sebutan Distrik Ireres.

Sistem kepercayaan bagi kelompok etnik Suku Ireres hampir tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial ekonomi mereka sehari-hari.

Ini berlaku pula antara nilai-nilai budaya itu dengan etnisitas (ethnicity) dalam masyarakat Suku Ireres.

Ini berarti bahwa kepribadian, tingkah laku, sikap, perbuatan dan kegiatan sosial ekonomi Suku Ireres sehari-hari, dibimbing, didukung oleh dan dihubungkan tidak saja dengan sistem kepercayaan atau ajaran agama dan adat istiadat atau hukum adat, tetapi juga dengan nilai-nilai budaya dan etnisitas. Dengan demikian, respons mereka terhadap stimulus atau tekanan dari luar sering didasarkan pada kompleksitas unsur-unsur di atas.

Anak adat Suku Ireres, Yoseph Airai, sekaligus anggota DPRD Tambrauw menjelaskan Suku Ireres memiliki satu tradisi yang masih eksis hingga kini.

Masyarakat Suku Ireres membuka pemukiman baru yang ditandai dengan pesta adat perhormatan kepada arwah leluhur

Di dalam tradisi Suku Ireres, penghormatan terhadap leluhur dikenal dengan istilah "mosom monggor Yog nef isosk ma iw aca acic fow". Artinya, acara adat persembahan bagi moyang moyang serta para arwah pendahulu yang telah meninggal.

Menurutnya, acara adat atau pesta adat ini memang merupakan warisan yang masih tetapi menjadi prioritas ketika membuka sesuatu yang baru. Misalnya membuka pemukiman baru atau lahan baru tentu dilalui dengan acara adat penghormatan kepada arwah nenek moyang. Hal ini bertujuan tidak lain adalah memohon dan minta persetujuan arwah nenek moyang yang telah meninggal agar menjaga dan melindungi sukunya dari bencana yang nantinya terjadi.

"Ini biasanya dilakukan bersama di wilayah baru dengan tujuan agar arwah nenek moyang menyetujui kemudian memberikan perlindungan," jelasnya.

Disebutkan, prosesi penghormatan leluhur yang merupakan arwah pendahulu, dilakukan di wilayah baru, kemudian disembelih seekor babi hutan oleh kepala adat dan dihadiri oleh suruh anggota sukunya. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.

Ini menunjukkan bahwa relasi manusia dengan leluhur dipandang sebagai perantara atas nama mereka yang masih hidup di dunia, seringkali sebagai pembawa pesan kepada manusia. Sebagai roh yang dulunya adalah manusia, mereka dipandang lebih mampu untuk mengerti kebutuhan manusia.

Diakui eksistensi tradisi ini masih terpelihara hingga saat ini. Walaupun substansi warisan tersebut sedikit terkikis zaman, tetapi secara holistik, upacara adat penghormatan arwah leluhur yang telah meninggal masih dijalankan sampai saat ini.

Karena itu dia berharap kepada generasi penerus agar terus menjaga dan merawat tradisi luhur ini sehingga relasional antara manusia dengan arwah leluhur bisa terpelihara dari zaman ke zaman. (Kumparan/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com