Buntut Pemenggalan Guru, Prancis Usir 231 Terduga Ekstremis


415 view
Buntut Pemenggalan Guru, Prancis Usir 231 Terduga Ekstremis
Foto: AFP
Ribuan orang berkumpul di alun-alun Marseille, Prancis, Minggu (18/10) waktu setempat, memprotes tindakan brutal seorang pengungsi asal Chechen yang memenggal seorang guru. 
Paris (SIB)
Otoritas Prancis bersiap untuk mengusir 231 warga negara asing (WNA) yang masuk daftar pengawasan pemerintah karena diduga menjadi ekstremis. Pengusiran ini diputuskan setelah seorang pemuda 18 tahun kelahiran Rusia memenggal seorang guru yang membahas karikatur Nabi Muhammad.

Seperti dilansir Reuters, Senin (19/10), rencana pengusiran para ekstremis itu disampaikan oleh sumber dari serikat kepolisian setempat seperti dilaporkan media Europe 1. Kementerian Dalam Negeri Prancis, yang bertanggung jawab atas pengusiran warga asing, belum memberikan konfirmasi atas laporan tersebut.

Otoritas Prancis mendefinisikan ekstremis sebagai 'orang yang terlibat dalam proses radikalisasi, cenderung ingin pergi ke luar negeri untuk bergabung kelompok teroris atau terlibat dalam aktivitas teroris'.

Pemerintahan Presiden Emmanuel Macron mendapat tekanan dari partai-partai konservatif dan sayap kanan untuk mengambil sikap lebih keras terhadap warga negara asing yang dianggap memicu ancaman keamanan di Prancis.

Disebutkan oleh seorang sumber dan Europe 1 bahwa Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, meminta otoritas lokal untuk memerintahkan pengusiran para ekstremis. Hal itu, menurut sumber, disampaikan Darmanin dalam rapat pada Minggu (18/10) sore waktu setempat.

Menurut sumber dari serikat kepolisian Prancis, para ekstremis yang akan diusir keluar Prancis terdiri atas 180 orang saat ini berada di penjara dan 51 orang lainnya akan ditangkap dalam beberapa jam ke depan. Tidak disebut lebih lanjut asal negara para terduga ekstremis itu.

Masih menurut sumber yang sama, Darmanin juga meminta kementeriannya untuk memeriksa lebih saksama permintaan status pengungsi di Prancis.

Pada Jumat (16/10) lalu, seorang pemuda berusia 18 tahun yang disebut sebagai terduga Islamis oleh Prancis, memenggal kepala seorang guru sejarah di luar sekolahnya. Pemuda itu lahir di Rusia dan berasal dari Chechen, namun memegang status pengungsi di Prancis. Dia tewas ditembak polisi Prancis usai melakukan pemenggalan. Macron menggelar rapat Dewan Pertahanan dengan jajaran menteri senior pada kabinetnya usai pemenggalan terjadi. (Rtr/dtc/c)
Penulis
: Redaksi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com