China Gencarkan Latihan Militer di Tengah Ketegangan Kawasan

* Visa Jurnalis dari Kantor Berita AS

251 view
China Gencarkan Latihan Militer di Tengah Ketegangan Kawasan
AFP
Ilustrasi 
Beijing (SIB)
China akan menggelar lebih banyak latihan militer mulai Senin (7/9) waktu setempat di lepas pantai timur laut dan pantai timur wilayahnya. Ini menjadi latihan militer berturut-turut yang tidak biasa di tengah semakin meningkatnya ketegangan di kawasan.

Seperti dilansir Reuters, Senin (7/9), Otoritas Keselamatan Maritim China mengungkapkan bahwa latihan pertama akan digelar di perairan Laut Bohai, yang ada di lepas pantai timur laut Pelabuhan Qinhuangdao, pada Senin (7/9) waktu setempat. Latihan kedua akan digelar di perairan selatan Laut Kuning, tepatnya dekat kota Lianyungang, pada Selasa (8/9) dan Rabu (9/9) mendatang. Latihan kedua ini akan melibatkan latihan tembak secara langsung.

Selama latihan militer berlangsung, sebut Otoritas Keselamatan Maritim China, seluruh kapal lainnya dilarang memasuki perairan yang menjadi lokasi latihan militer.

Bulan lalu, otoritas China mengumumkan empat latihan militer terpisah, yang digelar mulai dari Laut Bohai hingga ke Laut Timur dan Laut Kuning, terus turun ke perairan Laut China Selatan yang menjadi sengketa. Para pakar militer China menyebut hal ini sebagai langkah yang langka.

Diketahui bahwa China juga menggelar aktivitas militer rutin di perairan dekat Taiwan dan berulang kali mengeluhkan misi-misi militer Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan. China dan AS terus berselisih dalam banyak hal, mulai dari pandemi virus corona hingga isu perdagangan dan hak asasi manusia (HAM).

Mulai Batasi Visa Jurnalis Asing
Prahara hubungan China-Amerika Serikat terus berlanjut. China kini membatasi pemberian visa baru kepada jurnalis asing yang bekerja untuk organisasi berita AS di China, di tengah meningkatnya ketegangan bilateral. CNN melaporkan pada Senin (7/9), bahwa dalam sepekan terakhir para jurnalis media-media AS yang mengurus perpanjangan rutin izin peliputan mereka, yang biasanya berlaku selama satu tahun, kini hanya diberi surat yang menyatakan bahwa permohonan mereka sedang diproses.

Para jurnalis asing kemudian diberi visa baru yang berlaku hanya dua bulan, jauh lebih pendek dari sebelumnya. Sebab, visa China yang mereka terima terikat pada kartu pers tersebut. Pemerintah China menjelaskan bahwa surat keterangan pers sementara dan visa yang terkait dengannya dapat dicabut kapan saja. Hal tersebut kemudian membuat jurnalis yang terkena dampakkebijakan itu berada dalam kebingungan, tanpa mengetahui secara pasti berapa lama mereka akan dapat bermukim di China.

Salah satu koresponden CNN, David Culver, merupakan salah satu jurnalis yang terdampak kebijakan baru itu. Selain itu, wartawan yang menjadi sasaran kebijakan baru ini termasuk warga negara AS dan non-AS yang bekerja di sejumlah media massa arus utama AS, termasuk Wall Street Journal.

Culver diberitahu oleh pejabat China bahwa pembatasan baru tidak ada hubungannya dengan laporannya, melainkan sebagai tanggapan atas perlakuan administrasi Presiden AS, Donald Trump, terhadap jurnalis China di Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa para diplomatnya di Beijing baru-baru ini diberitahu tentang tindakan pemerintah China yang menargetkan media AS di China.

Tindakan China, kata jubir Kemenlu AS, Morgan Ortagus, membuktikan bahwa Partai Komunis China yang berkuasa takut pada pemberitaan media investigasi dan independen yang hanya memperluas dan memperdalam pemahaman dunia tentang China menjadi lebih baik.

Sebagai informasi, pemerintah berwenang AS pada Mei lalu juga membatasi durasi tinggal sebagian besar jurnalis China yang ditugaskan meliput di AS menjadi hanya 90 hari.

China mengklaim tidak ada jurnalisnya yang mendengar kabar dari otoritas AS tentang status permohonan perpanjangan visa terbaru mereka, yang menurut mereka telah sangat mengganggu pekerjaan dan kehidupan para jurnalis itu.

Jika tidak ada persetujuan yang diberikan, jurnalis China harus meninggalkan Amerika Serikat pada awal November mendatang, tepat ketika visa China baru Culver akan berakhir.

Sementara itu, di awal 2020, China mengusir sekitar selusin jurnalis dari beberapa media massa seperti The New York Times, Washington Post, dan Wall Street Journal.

Hal itu diketahui dilakukan setelah pemerintahan Trump membatasi jumlah warga negara China yang diizinkan untuk bekerja di kantor AS di media yang dikelola pemerintah China, sehingga mengakibatkan pemotongan staf utama dalam operasi ini. (Rtr/dtc/CNNI/c)
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com