China Peringatkan Perusahaan Asing Tidak Gegabah Soal Isu Xinjiang


112 view
dok. BBC World
Ilustrasi
Beijing (SIB)
Otoritas China memperingatkan perusahaan-perusahaan asing untuk tidak mengambil langkah gegabah atau terlibat dalam politik terkait isu Xinjiang. Peringatan dilontarkan China setelah sejumlah merek asing seperti H&M dan Nike melontarkan keprihatinan soal kerja paksa di Xinjiang.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (30/3), merek-merek asing seperti H&M, Nike, Burberry, Adidas dan merek Barat lainnya dihujani kritikan online dan dilanda aksi boikot massal di China sejak pekan lalu, terkait komentar soal sumber pasokan kapas mereka di Xinjiang.

Konflik muncul saat Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat lainnya meningkatkan tekanan terhadap China atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di wilayah yang dihuni etnis minoritas Muslim Uighur dan banyak etnis minoritas Muslim lainnya di China. "Saya pikir perusahaan tidak seharusnya mempolitisasi perilaku ekonominya. Bisakah H&M terus menghasilkan uang di pasar China? Tidak lagi. "Terburu-buru mengambil keputusan ini dan terlibat dalam sanksi, adalah tidak masuk akal. Ini seperti mengangkat batu untuk menjatuhkannya ke atas kaki sendiri," sebut juru bicara pemerintah Xin Jiang, Xu Guixiang, Senin (29/3).

Para pakar HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, menyuarakan keprihatinan soal dugaan penahanan dan kerja paksa Muslim Uighur di Xinjiang dan menyerukan perusahaan global maupun domestik untuk memeriksa dengan saksama rantai pasokan mereka.

Menurut para pakar PBB, mereka telah menerima informasi yang menghubungkan lebih dari 150 perusahaan domestik China dan perusahaan asing dengan tuduhan serius pelanggaran HAM terhadap pekerja Uighur. Tidak disebut lebih lanjut nama perusahaan yang dimaksud.

"Pekerja Uighur diduga dipekerjakan secara paksa dalam industri berketerampilan rendah dan padat karya, seperti agrobisnis, tekstil dan garmen, otomotif dan sektor teknologi," ujar ketua kelompok kerja PBB untuk urusan bisnis dan HAM, Dante Pesce.

Pengguna media sosial China, pekan lalu, menyebarkan kembali pernyataan H&M yang dirilis tahun 2020 saat mengumumkan perusahaan retail pakaian asal Swedia itu tidak akan lagi mengambil sumber kapas dari Xinjiang. Pada saat itu, pihak H&M menyatakan keputusan diambil karena kesulitan melakukan penyelidikan yang kredibel di Xinjiang dan setelah media serta kelompok HAM melaporkan adanya kerja paksa di Xinjiang -- yang berulang kali telah dibantah China.

Seorang juru bicara pemerintah Xinjiang lainnya, Eljian Anayat, menyatakan bahwa rakyat China tidak menginginkan produk-produk dari perusahaan-perusahaan seperti H&M dan Nike yang memboikot kapas Xinjiang. Dia menyatakan akan menyambut perusahaan yang melakukan perjalanan ke ladang kapas di Xinjiang untuk melihatnya sendiri.

Pada Jumat (26/3) lalu, otoritas AS mengecam apa yang disebutnya sebagai kampanye media sosial yang dipimpin negara di China terhadap AS dan perusahaan internasional lainnya karena berkomitmen tidak menggunakan kapas dari Xinjiang.

Gelombang boikot massal di China bertepatan dengan rentetan sanksi terkoordinasi yang dijatuhkan oleh Inggris, Kanada, Uni Eropa dan AS pekan lalu, atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran HAM di Xinjiang. Otoritas AS bahkan secara terang-terangan menuduh China melakukan genosida terhadap Uighur di Xinjiang.

Xu berulang kali membantah tuduhan genosida dan pelanggaran HAM di wilayah tersebut dan menuduh kekuatan Barat terlibat dalam manipulasi politik untuk mendestabiliasi China dengan sanksi-sanksi yang dijatuhkan. (Rtr/dtc/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com