Khawatir Picu Kemarahan Militer, Suu Kyi Berusaha Redakan Ketegangan

* Menlu AS Kunjungi Myanmar, Jepang Siap Berikan Bantuan

387 view
Naypyidaw (SIB)- Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, membantah jika dirinya hanya diam saja melihat etnis minoritas Rohingya ditindas di Myanmar. Sejak militer Myanmar melakukan operasi di Rakhine 25 Agustus lalu, ratusan orang Rohingya tewas. Kemudian 600.000 rakyat yang lain memilih mengungsi di Bangladesh. Suu Kyi mendapat sorotan tajam dari seluruh dunia karena tidak bereaksi terhadap krisis kemanusiaan yang tengah terjadi di negerinya.

Namun peraih Nobel Perdamaian 1990 itu akhirnya angkat suara. Seperti dilaporkan kantor berita AFP,  Rabu (15/11),  Suu Kyi berkata tidak ingin mengucapkan sesuatu yang bisa menaikkan tensi ketegangan baik bagi kubu pro-Rohingya maupun yang tidak. "Saya berusaha mengatakan sesuatu secara akurat. Tidak sebatas enak didengar bagi satu pihak saja," kata Suu Kyi diplomatis.

Ucapan Suu Kyi yang sangat terkesan berhati-hati didasarkan kekhawatiran dari pendukungnya jika Suu Kyi mendukung Rohingya, hal itu bakal memantik kekecewaan dan kemarahan dari militer. Imbasnya, junta militer bisa saja menggulingkan Suu Kyi, dan mengambil alih pemerintahan.

Meski secara de facto Suu Kyi menjadi pemimpin Myanmar pada 6 April 2016, junta militer masih memegang beberapa pos pemerintahan strategis. Di antaranya kementerian pertahanan dan perbatasan Myanmar. Selain itu, militer memiliki hak memveto setiap usaha untuk merubah konstitusi yang sudah mereka berlakukan.

Meski begitu, secara tersirat, militer juga mendengarkan kecaman dunia internasional yang datang kepada mereka. Pada Senin (13/11), militer mencopot Mayjen Maung Maung Soe dari jabatan sebagai Komandan Markas Barat di Rakhine.

Sementara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson menyatakan sanksi luas untuk Myanmar tidak akan bisa menyelesaikan krisis Rohingya. Namun Tillerson menyerukan penyelidikan independen terhadap dugaan praktik kekerasan oleh tentara Myanmar terhadap Rohingya.

Tillerson mengunjungi ibu kota Naypyitaw dalam kunjungan satu hari, khusus untuk membahas krisis Rohingya. Tillerson bertemu langsung dengan Aung San Suu Kyi. Berbicara usai bertemu Suu Kyi, Tillerson mengakui dirinya belum mempertimbangkan sanksi ekonomi secara luas untuk Myanmar. "Bukan sesuatu yang saya pikir patut disarankan saat ini," sebut Tillerson.

"Kami ingin melihat Myanmar sukses. Anda tidak bisa begitu saja memberlakukan sanksi dan menyatakan krisis berakhir," ucapnya kepada wartawan. Lebih lanjut, Tillerson menyebut AS "Sungguh prihatin oleh berbagai laporan kredibel soal kekejaman yang menyebar luas yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar dan kelompok yang main hakim sendiri."

Tillerson juga mendorong Myanmar untuk menerima penyelidikan independen atas tudingan-tudingan itu, barulah sanksi individual pantas diberlakukan. "Pemandangan atas apa yang terjadi di luar sana sungguh mengerikan," imbuhnya.

Berikan Bantuan
Sementara itu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berjanji mengucurkan pinjaman sebesar 117 miliar yen atau setara Rp 13,7 triliun untuk bantuan pembangunan di Myanmar. Hal ini diumumkan saat PM Abe bertemu dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi di Manila, Filipina.

Paket pinjaman dengan bunga rendah itu akan digunakan untuk pendanaan berbagai proyek, termasuk pembangunan infrastruktur dan pendanaan perusahaan kecil yang akan membantu menambah pendapatan wilayah pedesaan Myanmar.

Informasi soal pinjaman sebesar 117 miliar yen ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang dalam pernyataan persnya. Bantuan pinjaman ini disampaikan saat Myanmar dihujani kritikan dari berbagai organisasi HAM, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan berbagai negara terkait operasi militer di Rakhine yang memicu eksodus warga etnis minoritas muslim Rohingya.

Pejabat senior PBB, Pramila Patten menuding militer Myanmar telah secara sistematis memperkosa wanita Rohingya beramai-ramai dan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya dalam operasi militer di Rakhine beberapa waktu terakhir.

amun militer Myanmar menyatakan, penyelidikan internal tidak membuktikan tuduhan-tuduhan kekejaman yang dilakukan tentara mereka. Laporan hasil penyelidikan tersebut diposting di laman Facebook milik panglima militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Dalam laporan itu disebutkan, menurut 2.817 orang yang diwawancarai dari 54 desa Rohingya, para tentara tidak menembaki warga desa tak bersalah, tidak memperkosa serta tidak melakukan kekerasan seksual terhadap kaum wanita. Militer juga tidak melakukan pembunuhan atau pemukulan warga desa ataupun pembakaran rumah-rumah warga. (Detikcom/h)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com