Konflik Berkelanjutan di Yaman Menguntungkan Al-Qaeda


234 view
Sanaa (SIB)- Pertempuran yang terus terjadi di Yaman semakin memperburuk situasi di negara tersebut. Pentagon menyebut militan Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP) menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam konflik ini. "Situasi (di Yaman) masih sangat tidak jelas dan terdapat banyak pihak yang bertikai, di satu sisi ada pemberontak Houthi dan di sisi lain ada AQAP, yang telah mengambil kesempatan dari kekacauan yang terjadi di sana dan kegagalan pemerintah pusat," sebut Menteri Pertahanan AS Ash Carter di sela-sela kunjungannya ke Tokyo, Jepang, seperti dilansir Reuters, Rabu (8/4).

Saat berbicara dalam konferensi pers, Carter menyatakan AS secara khusus mengkhawatirkan AQAP, yang dianggap sebagai militan paling aktif dan paling berpengaruh di Yaman. Terlebih sejak lama, AQAP memiliki ambisi untuk menyerang target negara Barat, termasuk AS. Merujuk pada aktivitas AQAP di Yaman, Carter menyebut militan tersebut telah meraup keuntungan di lapangan, terutama terkait wilayah Yaman yang ingin mereka kuasai. "Kami melihat mereka (AQAP-red) mendapat keuntungan langsung di lapangan, ketika mereka berusaha mengambil alih wilayah, menguasai wilayah di garis pertempuran ...kami mengawasinya -- AQAP berpartisipasi dalam pertempuran semacam itu," terang Carter.

Carter menegaskan bahwa AS, yang selama ini melakukan kampanye terselubung dengan menggunakan drone terhadap AQAP akan terus melanjutkan gempurannya terhadap militan yang kerap mendalangi serangan teror di Yaman ini. "Tentu saja selalu lebih mudah untuk melakukan operasi pemberantasan terorisme ketika terdapat pemerintahan yang stabil, yang bisa diajak bekerja sama. Situasi seperti itu jelas tidak ada di Yaman saat ini. Tapi itu bukan berarti kami tidak melakukan langkah-langkah untuk melindungi diri kami. Kami harus melakukannya dengan cara yang berbeda, tapi kami akan dan sedang melakukannya," jelasnya. Militan AQAP dilaporkan berhasil mendapat keuntungan di Yaman, pada Selasa (7/4), ketika sekelompok pria bersenjata yang diyakini dari militan tersebut menyerbu sebuah pos keamanan di perbatasan dengan Arab Saudi.

Sumber dari Provinsi Hadramaut menyebut, sekelompok pria bersenjata itu berhasil mengambil alih pangkalan militer di dekat wilayah Manwakh, yang berjarak 440 kilometer dari ibukota Sanaa. Sedikitnya dua tentara Yaman tewas dalam serangan militan itu. Serangan ini terjadi selang seminggu setelah serangan militan AQAP terhadap pelabuhan Mukalla di dekat Laut Arab, yang menjadi penanda bahwa militer Yaman mulai melemah dan gagal mempertahankan keamanan wilayahnya.

Wakil Menteri Pertahanan AS Antony Blinken pada Selasa (7/4) menyatakan, pihaknya mempercepat pengiriman suplai senjata dan penyaluran informasi intelijen dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi yang terus menggempur pemberontak Houthi via udara. Bahkan AS juga mendirikan pusat koordinasi di Saudi terkait hal ini. (Rtr/dtc/c)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com