Laporan Guardian: Arab Saudi, Sponsor Utama Ekstremisme di Inggris

* Pejabat Militer Iran Sebut Arab Saudi Negara Teroris

259 view
London (SIB) -Dana asing yang mengalir untuk kelompok ekstrimis di Inggris utamanya berasal dari Arab Saudi sehingga tidak diragukan lagi negara kerajaan itu adalah sponsor terorisme di Inggris. Pemerintah Inggris didesak untuk segera melakukan penyelidikan secara terbuka terhadap semua sumber dana yang mengalir dari negara Teluk tersebut ke kantong-kantong ekstremisme di Inggris, kata laporan yang dirilis The Guardian, Rabu (5/7). Laporan tersebut menyebutkan, " Arab Saudi, sejak tahun 1960-an, mensponsori jutaan dollar untuk mengekspor paham Wahabi ke seluruh dunia Islam, termasuk ke komunitas Muslim di Barat."

Laporan yang dibuat Henry Jackson Society juga merekomendasikan pemerintah untuk meminta institusi keagamaan Inggris, termasuk masjid-masjid, mengungkapkan sumber pendanaan asing. Henry Jackson Society adalah lembaga kajian yang berkecimpung pada usaha untuk memerangi ekstremisme, memajukan demokrasi dan HAM, dan menjadikan masyarakat lebih nyaman.

Temuan tersebut muncul di saat Perdana Menteri Theresa May menghadapi tekanan untuk menerbitkan laporan pemerintah tersebut berkenaan dengan pendanaan terorisme asing.

Laporan yang didukung Kementrian Dalam Negeri Inggris itu sudah rampung enam bulan yang lalu, dan Downing Street mengatakan bahwa para menteri masih mempertimbangkan untuk merilisnya.

Arab Saudi kemungkinan akan marah dengan temuan tersebut. Sebab, perselisihannya dengan Qatar sebagian besar didasarkan pada tuduhan bahwa Doha adalah sponsor dana terorisme di luar negeri dan menampung teroris yang mendukung Ikhwanul Muslimin, Hamas, ISIS, dan Al Qaeda.

"Di Inggris, dana ini terutama berupa wakaf ke masjid dan institusi pendidikan Islam, yang pada gilirannya menjadi persemaian bagi pengkhotbah ekstremis dan penyalur literatur ekstremis." "Pengaruh juga telah diberikan melalui pelatihan para pemimpin agama Muslim Inggris di Arab Saudi, serta penggunaan buku teks Saudi di sejumlah sekolah Islam Inggris."

Menurut laporan itu, "Sejumlah penebar kebencian paling serius di Inggris berasal dari ideologi Salafi-Wahhabi ... entah setelah belajar di Arab Saudi melalui program beasiswa, atau dengan literatur dan materi yang dipelajari sendiri di Inggris".

Tom Wilson, seorang peneliti Center for Respon to Radicalizationand Terrorism di Henry Jackson Society mengatakan, "Saat negara-negara dari kawasan Teluk dan Iran telah dituding mendukung ekstremisme, Arab Saudi tidak diragukan lagi berada di puncak daftar tersebut".

Belum ada reaksi resmi dari Riyadh terkait laporan yang belum dirilis secara resmi oleh pemerintah Inggris itu. Arab Saudi dan beberapa sekutunya sedang bersengketa dengan Qatar, yang dituduh Riyadh sebagai sponsor terorisme.

Pejabat Militer Iran
Sementara itu, kepala Garda Revolusioner Iran, Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari terang-terangan menyebut Arab Saudi sebagai negara teroris. Hal tersebut disampaikan Jafari saat dirinya mengumumkan bahwa jabatannya sebagai pemimpin pasukan elite Iran tersebut telah diperpanjang untuk tiga tahun mendatang. Jafari telah 10 tahun menjabat sebagai panglima pasukan militer elite Iran tersebut. Masa jabatannya seharusnya berakhir dalam tiga bulan ini.

Namun dalam pidatonya seperti dilaporkan kantor berita Fars dan Tasnim, Jafari mengatakan dirinya akan terus menjabat hingga setidaknya tahun 2020 mendatang. Dalam pidatonya di pertemuan Garda Revolusioner di Teheran, Jafari menyorot tentang ancaman dari Saudi. "Saat ini, Saudi telah menjadi negara teroris di wilayah ini," tutur Jafari seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (5/7). "Saat ini di wilayah kita, hanya negara-negara yang cukup kuat yang akan tetap aman," imbuhnya.

"Kita menghadapi satu musuh yang hanya memahami bahasa kekerasan, jadi kita tak bisa berbicara pada musuh tersebut dengan bahasa lain," katanya.
Diimbuhkan pejabat militer Iran tersebut, meski begitu, masih ada ruang untuk negosiasi. "Beberapa mencoba mengatakan bahwa kita menolak interaksi dengan dunia dan menginginkan perang," ujar Jafari. "Saya katakan dengan suara keras bahwa Sepah (Garda Revolusioner) juga menginginkan perdamaian, namun perdamaian hanya bisa terwujud dan bertahan jika musuh takut memulai perang dengan kita dan takut akan konsekuensinya," tandasnya.

Pada September 2007, Jafari (59) dipilih oleh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei untuk memimpin Garda Revolusioner. Garda dibentuk untuk menjaga revolusi Islam 1979. Pasukan elite ini mengawasi operasi eksternal Iran di Suriah, Irak dan lainnya serta menjalankan operasi ekonomi dan intelijen domestik mereka sendiri. (Guardian/Kps/AFP/Detikcom/h)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com