Militer Myanmar Pungut Uang dari Keluarga yang Ambil Jenazah Demonstran


109 view
dok. DW
Ilustrasi
Naypyitaw (SIB)
Militer Myanmar memungut biaya sebesar 120 ribu Kyat Myanmar (Rp 1,2 juta) bagi keluarga yang ingin mengambil jenazah kerabatnya yang tewas di tangan pasukan keamanan saat unjuk rasa antikudeta pada Jumat (9/4) waktu setempat.

Seperti dilansir CNN, Senin (12/4), kelompok advokasi Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP) melaporkan bahwa sedikitnya 82 orang tewas dalam unjuk rasa antikudeta di Bago, yang berjarak 90 kilometer sebelah timur laut Yangon. AAPP dalam laporannya menyebut militer Myanmar menembaki para demonstran antikudeta di kota Bago pada Jumat (9/4) lalu, dengan menggunakan senapan serbu, granat peluncur roket (RPG) dan granat tangan.

Menurut AAPP, lebih dari 700 orang tewas dalam berbagai insiden saat unjuk rasa di Myanmar sejak kudeta militer dilancarkan pada 1 Februari lalu. Sejak saat itu, pasukan keamanan junta Myanmar yang terdiri atas polisi, tentara dan tentara elite kontra-pemberontak menggunakan kekerasan berlebihan secara sistematis terhadap demonstran tanpa senjata dan beraksi damai. Sekitar 3.000 orang ditangkap dan banyak aktivis terpaksa bersembunyi.

Seorang saksi mata yang tinggal di kota Bago, yang enggan disebut namanya, menuturkan kepada CNN pada Minggu (11/4) waktu setempat bahwa banyak warga yang melarikan diri ke desa-desa sekitar sejak kehadiran pasukan keamanan Myanmar pada Jumat (9/4) lalu.

Akses internet di wilayah tersebut diputus sejak Jumat (9/4) lalu dan pasukan keamanan melakukan perburuan demonstran di area tersebut. "Saya tinggal di ruas jalan utama. Pasukan keamanan sering datang dan pergi," tutur sejumlah saksi mata kepada CNN.

Dalam keterangannya, saksi mata juga menyebut jenazah-jenazah korban ditumpuk di kamar mayat setempat, usai penembakan oleh pasukan keamanan junta Myanmar.

Menurut postingan Facebook dari Serikat Mahasiswa Universitas Bago, militer Myanmar sekarang memungut biaya sebesar 120 ribu Kyat Myanmar (Rp 1,2 juta) bagi keluarga korban yang ingin mengambil jenazah kerabat mereka yang tewas pada Jumat (9/4) lalu. Laporan dari Radio Free Asia Burma bersesuaian dengan laporan Serikat Mahasiswa Universitas Bago tersebut.

Belum ada komentar resmi dari militer Myanmar terkait hal ini. Namun dalam pernyataan yang dilaporkan surat kabar nasional Global New Light of Myanmar, militer Myanmar mengklaim pasukan keamanannya diserang oleh demonstran di Bago.

"Pasukan keamanan diserang oleh sekelompok perusuh saat memindahkan pembatas jalan yang diperkuat oleh para perusuh di jalanan kota Bago," demikian dilaporkan Global New Light of Myanmar. "Perusuh menggunakan senjata rakitan, molotov, panah, tameng rakitan dan granat untuk menyerang pasukan keamanan," imbuh laporan tersebut.

Surat kabar itu juga melaporkan bahwa satu orang tewas dalam insiden pada Jumat (9/4) waktu setempat. "Bukti berupa granat dan amunisi yang disita mengindikasikan bahwa senjata kecil telah digunakan," sebut laporan Global New Light of Myanmar. (CNN/dtc/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com