Pertama Kali, Korsel Pamerkan Kapal Selam yang Mampu Meluncurkan Rudal Balistik

* AS Jual Rudal dan Jet Tempur Senilai Rp38,5 Triliun ke Korsel

2.498 view
Pertama Kali, Korsel Pamerkan Kapal Selam yang Mampu Meluncurkan Rudal Balistik
SIB/AFP/ YONHAP
Inilah kapal selam tempur yang mampu meluncurkan rudal balistik pertama milik Korea Selatan bernama Dosan Ahn Chang-ho yang resmi diperkenalkan pada Jumat (14/ 9).

SEOUL (SIB) -Korea Selatan (Korsel) resmi meluncurkan kapal selam perang berkapabilitas misil pertamanya pada Jumat (14/9). Melansir dari AFP, kapal selam perang bernama Dosan Ahn Chang-ho itu memiliki bobot 3.000 ton dan menghabiskan anggaran hingga 700 juta dolar AS (sekitar Rp 10,3 triliun). Mampu menembakkan misil balistik dan rudal jelajah, kapal selam itu merupakan yang pertama dari tiga kapal bertenaga diesel-listrik yang rencananya akan dimiliki Korsel dalam lima tahun ke depan. 

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in menyampaikan, kapal selam tersebut menandakan lompatan ke depan dalam industri pertahanan di negaranya. "Perdamaian melalui kekuatan adalah strategi keamanan yang tidak tergantikan dari pemerintahan ini," kata Presiden Moon Jae-in saat peluncuran kapal selam di galangan kapal Daewoo, di mana kapal selam itu dirancang dan dibangun. 

Memiliki panjang 83,3 meter dan lebar 9,6 meter, kapal selam tersebut mampu membawa sekitar 50 kru. Kapal selam itu juga dilengkapi enam tabung peluncuran vertikal yang mampu menembakkan rudal balistik bawah laut-daratan, serta dapat beroperasi di bawah air selama 20 hari tanpa naik ke permukaan. Selain kapal selam baru tersebut, Korea Selatan juga telah memiliki 18 armada kapal selam yang berukuran lebih kecil yang dibangun atas kerja sama Seoul dengan Jerman. 

Sementara kapal selam baru itu hingga 76 persen komponennya berasal dari produksi dalam negeri. "Kapal selam Dosan Ahn Chang-ho adalah kapal selam kelas menengah pertama yang dimiliki Angkatan Laut Korea Selatan dan dibangun dengan kombinasi teknologi mutakhir." "Kapal selam ini merupakan sistem persenjataan strategis nasional yang mampu mengatasi segala ancaman dan membantu memperkuat kemampuan pertahanan angkatan laut," kata Angkatan Laut Korsel dalam pernyataannya dilansir Yonhap News. Meski telah diresmikan, kapal selam itu baru akan dikirim ke Angkatan Laut pada Desember 2020 setelah menjalani sejumlah tes dan dijadwalkan siap beroperasi pada Januari 2022. Selain kapal selam Dosan Ahn Chang-ho, Korea Selatan saat ini juga sedang membangun kapal selam Changbogo-III seberat 3.000 ton yang pengerjaannya telah dimulai pada 2007 dan ditargetkan selesai pada 2023. 

AS Jual Rudal dan Jet Tempur ke Korsel

Amerika Serikat menyetujui kesepakatan penjualan jet tempur dan rudal ke Korea Selatan dengan nilai mencapai US$2,6 miliar atau setara Rp38,5 triliun. Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) menjabarkan bahwa penjualan itu termasuk enam pesawat tempur Poseidon bernilai US$2,1 miliar, setara Rp31,1 triliun. Selain itu, Washington juga menyetujui kontrak untuk menjual 64 rudal Patriot senilai $501 juta, setara Rp7,4 triliun.

Kongres masih dapat membatalkan kesepakatan penjualan ini dalam 15 hari. Namun, kesepakatan ini kemungkinan besar disetujui mengingat hubungan baik AS dan Korsel, di mana ribuan tentara Washington diterjunkan di tengah ancaman Korea Utara. "Penjualan ini mendukung kebijakan luar negeri AS dan mencapai tujuan pertahanan negara dengan memperkuat angkatan laut Korea untuk membantu pertahanan nasional dan berkontribusi signifikasn bagi operasi koalisi," demikian pernyataan resmi DSCA.

AFP melaporkan bahwa pesawat P-8A Poseidon yang ada dalam daftar penjualan ini bisa digunakan untuk misi pengawalan dan pengintaian, juga senjata anti-kapal permukaan dan anti-kapal selam. 

Sementara itu, Rudal Patriot yang akan diproduksi oleh perusahaan Lockheed Martin, dirancang untuk mengintersepsi rudal balistik, rudal jelajah, dan ancaman udara lainnya.

Korea Selatan membeli Rudal Patriot untuk "memperkuat pertahanan udara, menjaga keamanan nasional, serta mencegah ancaman serangan." "Penjualan persenjataan ini tidak akan mengubah keseimbangan militer di wilayah ini," bunyi pernyataan DSCA.

Kesepakatan ini tercapai di tengah ketidakpastian kesepakatan denuklirisasi antara AS dan Korut. Presiden AS, Donald Trump, dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi di Semananjung Korea dalam pertemuan mereka di Singapura pada Juni. Namun, belum ada perkembangan signifikan dari hasil pertemuan tersebut. Kedua negara masih berselisih pendapat mengenai detail kesepakatan yang harus dicapai. (AFP/kps/CNNI/f)

Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com