Pria Kulit Hitam Tewas Ditembak Polisi, Warga Minneapolis Mengamuk

* Polisi AS Todongkan Senjata dan Semprotkan Merica ke Tentara Kulit Hitam

277 view
Pria Kulit Hitam Tewas Ditembak Polisi, Warga Minneapolis Mengamuk
Foto: Star Tribune/AP
Sejumlah demonstran merusak mobil polisi saat menggelar aksi protes di luar gedung Departemen Kepolisian Brooklyn Center di Minneapolis, Minggu (11/4) malam waktu setempat. Aksi itu dilakukan terkait pria kulit hitam yang tewas ditembak polisi.
Minneapolis (SIB)
Polisi Amerika Serikat (AS) menembak mati seorang pria kulit hitam di jalanan Minneapolis setelah menghentikan kendaraannya karena pelanggaran lalu lintas. Penembakan ini memicu aksi protes warga setempat yang mengamuk atas tindakan polisi.

Seperti dilansir Reuters, Senin (12/4), lokasi penembakan fatal pada Minggu (11/4) waktu setempat terjadi di lokasi yang berjarak 16 kilometer dari lokasi kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd yang lehernya ditindih lutut seorang polisi dalam penangkapan pada Mei tahun lalu.

Ratusan orang yang marah menggelar aksi protes di luar gedung Departemen Kepolisian Brooklyn Center di Minneapolis pada Minggu (11/4) malam waktu setempat. Polisi yang mengenakan perlengkapan antihuru-hara menembakkan peluru karet dan melemparkan granat cahaya ke arah demonstran. Pria kulit hitam yang tewas ditembak polisi diidentifikasi sebagai Daunte Wright (20).

Ibunda Wright, Katie, menuturkan kepada wartawan di lokasi bahwa dirinya menerima telepon dari putranya pada Minggu (11/4) sore waktu setempat, soal polisi menghentikan kendaraan anaknya karena memasang pengharum mobil di kaca spion tengah di dalam mobilnya. Praktik itu ilegal di negara bagian Minnesota.

Katie menyatakan dirinya bisa mendengar suara polisi menyuruh anaknya keluar dari mobil. "Saya mendengar suara gaduh, dan saya mendengar polisi berkata, 'Duante, jangan lari'," tuturnya.

Setelah itu panggilan telepon terputus dan saat dia menghubungi nomor anaknya kembali, sang kekasih yang menjawab telepon itu memberitahu bahwa Duante meninggal dunia.

Dalam pernyataannya, Kepolisian Brooklyn Center menyatakan bahwa polisi menghentikan kendaraan pemuda itu karena pelanggaran lalu lintas. Saat memeriksa identitas pemuda itu didapati bahwa dia memiliki surat perintah penangkapan atas namanya. Disebutkan bahwa ketika polisi berusaha menangkapnya, pemuda itu malah kembali ke dalam mobilnya. Salah satu polisi lantas melepas tembakan ke pemuda itu. Tembakan itu mengenainya dan pemuda ini sempat mengemudikan mobilnya sejauh beberapa blok sebelum menabrak kendaraan lain dan dia meninggal dunia.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa body camera yang terpasang pada dua polisi di lokasi, merekam seluruh insiden itu. Biro Penangkapan Kriminal pada otoritas negara bagian Minnesota menyatakan pihaknya telah menyelidiki penembakan ini. Di dekat lokasi penembakan, para demonstran berteriak melampiaskan kemarahan mereka pada polisi antihuru-hara yang berbaris mengawal jalannya unjuk rasa. Beberapa demonstran bahkan melakukan vandalisme terhadap dua mobil polisi yang ada di lokasi. Mereka melemparkan batu dan menginjak-injak mobil polisi itu.

Polisi melepaskan tembakan peluru karet yang menurut saksi mata, mengenai dua orang di kerumunan demonstran. Salah satunya dilaporkan mengalami pendarahan di kepala. Tembakan peluru karet dilepaskan sebelum demonstran bergerak ke gedung kepolisian setempat.

Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyatakan dirinya memantau unjuk rasa yang terjadi di wilayah Brooklyn Center, pinggiran Minneapolis. "Negara bagian kita berduka atas hilangnya satu nyawa pria kulit hitam oleh penegak hukum," ucapnya.

Dalam pernyataan terpisah, Wali Kota Brooklyn Center, Mike Elliott, menyebut penembakan fatal pada Minggu (9/4) waktu setempat, sebagai peristiwa 'tragis'. "Kami meminta para demonstran untuk terus beraksi secara damai dan agar para demonstran damai itu tidak ditangani dengan kekerasan," cetusnya.

Serikat Kebebasan Sipil Amerika cabang Minnesota menyerukan bahwa lembaga independen harus menyelidiki penembakan ini dan menuntut dirilisnya video penembakan itu segera. "Keprihatinan mendalam bahwa polisi di sini tampaknya menggunakan pengharum udara yang menggantung sebagai dalih untuk melakukan operasi penghentian, hal yang dilakukan terlalu sering oleh polisi dengan menargetkan warga kulit hitam," sebut Serikat Kebebasan Sipil Amerika dalam pernyataannya.

Polisi AS Todongkan Senjata
Sementara itu, Gubernur Virginia, Ralph Northam, berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh setelah satu rekaman video yang beredar menunjukkan dua polisi Amerika Serikat (AS) menahan seorang tentara kulit hitam di bawah todongan senjata api. Para polisi juga menggunakan semprotan merica ke wajah tentara itu.

Seperti dilansir AFP, Senin (12/4), dalam video tersebut, Letnan Caron Nazario yang keturunan Afrika-Amerika dan Latin, berulang kali menanyakan apa kesalahannya saat dia dihentikan di tengah jalan dan diminta keluar mobil sambil ditodong senjata api oleh dua polisi setempat. "Ini benar-benar kacau," ucap Nazario dalam video tersebut.

Tidak diketahui pasti alasan polisi sampai menodongkan senjata dan menggunakan semprotan merica. Namun pihak kepolisian setempat menuduh Nazario saat itu tidak kooperatif. Laporan media-media setempat menyebut Nazario, yang saat itu memakai seragam militernya, diberhentikan di tengah jalan ketika mengendarai mobil SUV yang baru dibelinya. Dia diberhentikan polisi karena mobilnya tidak memiliki nomor polisi (nopol) permanen. Menurut media terkemuka AS, The Washington Post, Nazario merupakan seorang petugas administrasi kesehatan pada Garda Nasional Virginia.

Dia disebut sedang berkendara pulang pada 5 Desember tahun lalu ketika mobilnya dihentikan polisi. Rekaman kamera yang terpasang pada tubuh polisi dan dari telepon genggam Nazario menyebar luas pada akhir pekan lalu, setelah Nazario mengajukan gugatan hukum meminta ganti rugi US$ 1 juta (Rp 14,6 miliar). Nazario dibebaskan oleh polisi tanpa dijerat dakwaan apapun. Namun dalam gugatannya, dia mengklaim polisi sempat mengancam akan mengakhiri karier militernya jika dia berbicara ke publik soal perilaku mereka.

Gubernur Northam dalam pernyataannya menyebut dirinya telah menginstruksikan pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan independen terkait insiden tersebut. Northam menyebut insiden itu telah mengganggu dan membuat dirinya merasa marah. "Kita harus terus berupaya memastikan bahwa warga Virginia aman saat berinteraksi dengan polisi, memastikan penegakan hukum yang adil dan setara, dan orang-orang dimintai pertanggungjawaban," tegas Northam.

Diketahui bahwa polisi AS dihujani berbagai tuduhan terkait rasisme dan pelanggaran kode etik, termasuk dalam kasus kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd di Minneapolis pada tahun lalu. Kasus Floyd memicu kemarahan publik, tidak hanya di AS tapi juga publik internasional. (Rtr/AFP/dtc/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com