Ratusan Ekstremis Menyusup ke Angkatan Bersenjata Jerman

* Kanselir Jerman Ingatkan Uni Eropa Tak Bisa Menolak Pengungsi

278 view
Berlin (SIB)- Angkatan bersenjata Jerman akan memperketat pemeriksaan keamanan terhadap para calon tentara baru. Hal ini dilakukan setelah ratusan ekstremis diketahui telah menyusup masuk di kemiliteran Jerman.

Hal ini tercantum dalam rancangan amandemen undang-undang soal penerimaan tentara yang dilaporkan media Jerman Welt am Sonntag, dikutip Reuters, Minggu (28/8).

Pejabat militer Jerman Bundeswehr mengatakan seluruh calon tentara harus diseleksi ketat oleh badan intelijen sebelum mereka menjalani latihan.

Selama ini, pemeriksaan dilakukan hanya untuk mencari tahu apakah calon tentara memiliki hubungan dengan jaringan jihadis atau ISIS. Dalam draf amandemen disebutkan, diduga ada 64 jihadis yang telah menyusup ke militer Jerman dan mendapatkan pelatihan perang.

Amandemen diperlukan setelah diketahui tidak hanya ekstremis Islam yang menyusup ke militer Jerman, melainkan juga dari kelompok sayap kanan dan sayap kiri radikal. Diduga ada 268 ekstremis sayap kanan dan enam ekstremis sayap kiri yang sudah bergabung dengan militer Jerman, seperti yang disebutkan dalam draf amandemen tersebut.

Draf amandemen itu juga menyebutkan, para teroris ini tertarik masuk kemiliteran karena mereka bisa mendapatkan pelatihan perang untuk melakukan penyerangan di Jerman. "Tentara Jerman melatih semua anggotanya dalam menangani dan menggunakan senjata perang. Teroris bisa menggunakan kemampuan yang mereka dapat di militer untuk melakukan tindak kekerasan di dalam dan luar negeri," ujar draf amandemen tersebut.

Untuk penerapan peraturan baru ini, Jerman akan merekrut tambahan 90 staf kemiliteran untuk melakukan 20 ribu pemeriksaan latar belakang calon tentara setiap tahun. Reformasi penerimaan tentara ini diperkirakan menghabiskan dana hingga 8,2 juta euro dan akan disetujui oleh panglima Jerman pekan depan.

Ingatkan Uni Eropa
Sementara itu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengomentari penolakan sejumlah negara Uni Eropa untuk menerima para pengungsi muslim. Dikatakan Merkel, penolakan tersebut tak bisa diterima. "Sama sekali tidak benar bagi sejumlah negara menyatakan: "pada umumnya, kami tak ingin memiliki muslim di negara kami," kata Merkel dalam wawancara dengan stasiun televisi publik Jerman, ARD seperti dilansir AFP, Senin (29/8). Merkel pun menyatakan mendukung gagasan mengenai sistem kuota dalam menerima migran. "Semua orang harus melakukan peran mereka dan solusi bersama harus ditemukan," tutur pemimpin Jerman itu. Kebijakan migrasi bersama Eropa merupakan isu kontroversial yang akan masuk dalam agenda KTT Uni Eropa bulan depan. Negara-negara seperti Republik Ceko, Hungaria, Polandia dan Slovakia menolak menerima para pengungsi sesuai sistem kuota Uni Eropa yang diprakarsai pemerintah Jerman.

Presiden Slovakia Robert Fico bahkan telah bertekad "tak akan pernah menerima seorang pun muslim masuk ke negaranya".  Sebelumnya, sepanjang tahun 2015 lalu, Jerman menerima sekitar satu juta pengungsi, yang kebanyakan berasal dari Suriah, Irak atau Afghanistan. Tahun ini, otoritas Jerman memperkirakan akan menerima sekitar 300 ribu pengungsi. (Rtr/AFP/CNNI/f)
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com