Studi Israel: Vaksin Pfizer Tak Bisa Lawan Covid-19 Varian B1351

* China akan Campur Beberapa Vaksin Covid-19 agar Lebih Ampuh

187 view
Foto: AP/Virginia Mayo
Ilustrasi
Tel Aviv (SIB)
Satu penelitian yang dilakukan Israel menemukan bahwa virus corona varian Afrika Selatan B1351 tidak mempan meski disuntikkan vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech. Meski begitu temuan itu masih perlu ditinjau kembali.

Seperti dilansir Reuters, Minggu (11/4) studi yang dirilis pada Sabtu (10/4) dilakukan dengan membandingkan hampir 400 orang positif Covid-19 dan telah menerima satu atau dua dosis vaksin, dengan 400 orang lainnya yang divaksin namun tidak terinfeksi Covid-19.

Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Tel Aviv dan Clacit, penyedia layanan kesehatan terbesar Israel, sekira 1 persen varian B1351 Afrika Selatan ditemukan di sejumlah kasus Covid-19 yang diteliti. Lebih lanjut, bagi yang telah menerima dua dosis vaksin, tingkat prevalensi varian Afrika Selatan delapan kali lebih tinggi daripada mereka yang tidak divaksinasi - 5,4 persen berbanding 0,7 persen.

"Ini menunjukkan vaksin itu kurang efektif terhadap varian Afrika Selatan, dibandingkan dengan virus corona asli dan varian yang pertama kali diidentifikasi di Inggris yang mencakup hampir semua kasus Covid-19 di Israel," kata para peneliti.

"Kami menemukan tingkat yang lebih tinggi dari varian Afrika Selatan di antara orang yang divaksinasi dengan dosis kedua, dibandingkan dengan kelompok yang tidak divaksinasi. Ini berarti varian Afrika Selatan dapat menembus perlindungan vaksin sampai batas tertentu," kata Adi Stern dari Universitas Tel Aviv.

Meski begitu, para peneliti memperingatkan bahwa hasil tersebut tidak bisa menjadi patokan karena hanya dilakukan dengan sampel yang terbatas. Mereka juga mengatakan penelitian itu tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan keefektifan vaksin secara keseluruhan terhadap varian apa pun, karena hanya melihat orang yang sudah dites positif Covid-19, bukan pada tingkat infeksi secara keseluruhan.

Mengenai temuan itu, Pfizer dan BioNTech belum bisa dimintai keterangan. Pada 1 April lalu, perusahaan itu mengatakan vaksin mereka sekitar 91 persen efektif untuk mencegah Covid-19, mengutip data uji coba terbaru yang menyertakan peserta yang diinokulasi hingga enam bulan.

Hampir 53 persen dari 9,3 juta penduduk Israel telah menerima dua dosis vaksin Pfizer. Dalam beberapa pekan terakhir, Israel telah membuka kembali sebagian besar kegiatan ekonominya, sementara tingkat infeksi menurun tajam.

China akan Campur
Sementara itu, China sedang memertimbangkan untuk mencampur berbagai vaksin Covid-19, untuk meningkatkan keampuhannya yang sekarang relatif rendah. Rencana itu disampaikan oleh Gao Fu, kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China. "Pihak berwenang harus mempertimbangkan cara-cara untuk memecahkan masalah, bahwa tingkat efektivitas vaksin yang ada sekarang tidak tinggi," lapor kantor berita China The Paper mengutip perkataan Gao Fu.

Komentar Gao Fu ini adalah yang pertama kalinya seorang pakar ternama di "Negeri Panda", secara terbuka menyinggung kemanjuran vaksin virus corona China yang relatif rendah. China sendiri terus gencar melakukan vaksinasi dan mengekspor vaksin corona ke seluruh dunia. Negara pimpinan Xi Jinping itu sudah menyuntikkan sekira 161 juta dosis sejak vaksinasi dimulai tahun lalu.

Mereka menargetkan 40 persen dari 1,4 miliar populasinya sudah divaksin Covid-19 pada Juni. Namun ada beberapa orang yang tidak kunjung mendaftar vaksinasi, sedangkan sebagian besar kehidupan di China sudah kembali normal dan kasus domestiknya terkendali.

Seperti dilansir dari AFP, Minggu (11/4), di China ada empat vaksin yang telah disetujui secara bersyarat, tetapi tingkat kemanjurannya jauh di bawah Pfizer (95 persen) dan Moderna (94 persen). Hasil uji coba vaksin Sinovac di Brasil menunjukkan sekira 50 persen kemanjuran dalam mencegah infeksi, dan 80 persen ampuh mencegah kasus yang memerlukan penanganan medis.

Sementara itu vaksin Sinopharm memiliki tingkat kemanjuran masing-masing 79,34 persen dan 72,51 persen. Lalu vaksin CanSino keampuhannya 65,28 persen mencegah Covid-19 setelah 28 hari. (Rtr/dtc/AFP/CNNI/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com