Takut Inovasinya Dicuri China, AS Lindungi Hasil Penelitian Universitas


116 view
Shutterstock/Zapp2Photo
Ilustrasi artificial intelligence (AI).
Washington, DC (SIB)
Komisi Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) merekomendasikan agar universitas AS mengambil langkah-langkah untuk mencegah teknologi sensitif dicuri oleh militer China. Imbauan itu menunjukkan tumbuhnya kekhawatiran atas keamanan penelitian akademis ‘Negeri Paman Sam’. Komisi Keamanan Nasional untuk Kecerdasan Buatan (NSCAI), yang dipimpin oleh mantan ketua Google Eric Schmidt, akan menyampaikan laporan terakhirnya kepada kongres pada Senin (1/3) waktu setempat.

Bagian baru tentang penelitian universitas ditambahkan ke draf akhir yang baru-baru ini diterbitkan. Di dalamnya menampilkan banyak rekomendasi di berbagai bidang termasuk persaingan dalam kecerdasan buatan (AI) dan rantai pasokan semikonduktor. Rekomendasi baru ini diajukan bertepatan dengan penuntutan setidaknya lima peneliti China yang ditangkap tahun lalu di berbagai kota di seluruh AS. Mereka dituduh melakukan penipuan visa, karena tidak mengungkapkan adanya hubungan dengan militer China.

Di antara mereka yang ditangkap adalah Chen Song, mantan sarjana tamu Universitas Stanford di bidang neurologi. Dia menghadapi dakwaan termasuk menghalangi keadilan, penghancuran catatan, dan membuat pernyataan palsu kepada lembaga pemerintah. Song mengaku tidak bersalah atas dakwaan minggu lalu di Pengadilan Distrik Amerika Serikat Distrik Utara California. "Dr Song adalah seorang dokter. Dia di sini untuk melakukan penelitian medis yang akan menguntungkan para korban stroke di AS seandainya dia diizinkan untuk menyelesaikan pekerjaannya," kata pengacaranya, Ed Swanson, dalam email.

Kasus lain melibatkan Juan Tang, peneliti tamu di UC Davis School of Medicine. Sementara Xin Wang, peneliti tamu di UC San Francisco, sedang mengerjakan proyek yang berkaitan dengan metabolisme dan obesitas. Berikutnya Kaikai Zhao, seorang mahasiswa PhD yang mempelajari AI dan pembelajaran mesin di Indiana University di Bloomington. Terakhir, Lei Guan, yang bekerja sebagai peneliti di departemen matematika UCLA. Stanford, UCSF, dan UC Davis semuanya mengatakan mereka bekerja sama dengan pihak berwenang dalam penyelidikan tersebut.

University of Indiana tidak membalas permintaan komentar dan UCLA tidak segera memberikan jawaban. China membantah tuduhan mencoba mencuri penelitian AS. Kasus-kasus tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut Departemen Kehakiman AS sebagai kasus "inisiatif China." Penyelidikannya diluncurkan pada 2018 untuk melawan ancaman keamanan nasional dari Beijing. Rekomendasi NSCAI akan membutuhkan lebih banyak pengungkapan tentang pendanaan penelitian dan kemitraan di universitas. Ini juga mengusulkan pembuatan database individu dan entitas untuk menandai risiko sebelumnya.

Gilman Louie, seorang kapitalis ventura Silicon Valley dan komisaris NSCAI, mengatakan database dapat membantu menghindari larangan sepihak berdasarkan afiliasi. Selain itu ketersediaan data tersebut juga akan memungkinkan AS menilai kasus individu. "Kurangnya panduan sejauh ini membuat beberapa presiden universitas khawatir menjauhkan warga negara China dari proyek penelitian apa pun," keluh Louie. "Seseorang cenderung hanya melihat Anda dan memutuskan karena Anda secara etnis China, jadi tidak dapat lagi dipercaya pada program-program di AS. Itu masalah besar bagi saya."

Tobin Smith, wakil presiden untuk kebijakan sains dan urusan global di Asosiasi Universitas Amerika mengungkapkan universitas telah berjuang dengan penilaian risiko dan menyambut cetak biru tersebut. "Masalahnya adalah seringkali universitas tidak memiliki sumber daya untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang telah dicuri dari mereka sampai menjadi masalah keamanan nasional dan menjadi tajuk utama di suatu tempat," ujar Jason Jardine, pengacara paten di Knobbe Martens Olson & Bear yang bekerja dengan universitas tentang pencurian paten.

Emily Weinstein, seorang analis di Georgetown University's Center for Security and Emerging Technology, mengatakan tantangannya adalah menentukan entitas China mana yang berafiliasi dengan pertahanan. Sementara beberapa universitas di Cina jelas-jelas terkait dengan militer, tapi hubungannya tidak selalu jelas. "Di atas kertas, tindakan ini tampaknya baik-baik saja," kata Qiaojing Ella Zheng, seorang mitra di Sanford Heisler Sharp yang juga presiden Pengacara China-Amerika di Bay Area.

Namun menurutnya, masalah selalu terjadi selama implementasi dan penegakan hukum. Keseluruhan Komunitas Asia Amerika di AS dan di luar negeri menurutnya akan mengamati dengan cermat bagaimana rencana aksi ini dijalankan dalam praktiknya. (Rtr/kps.com/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com