Trump Umumkan Kondisi Darurat di Washington Jelang Pelantikan Biden

Akui Pikul Tanggungjawab, Trump Salahkan Antifa Terkait Rusuh Capitol

124 view
DW News
Foto: Donald Trump 
Washington DC (SIB)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Senin (11/12) mengumumkan keadaan darurat di Washington, D.C. Dia menyebut adanya "kondisi darurat" seputar pelantikan Presiden terpilih Joe Biden.

Dilansir dari Politico, Selasa (12/1) Wali Kota Washington DC, Muriel Bowser sebelumnya telah mengumumkan keadaan darurat di kota itu pada hari Rabu (6/1) waktu setempat, setelah penyerbuan gedung Capitol oleh para perusuh yang dihasut oleh Trump.

Laporan soal aksi kekerasan yang direncanakan lebih lanjut terus beredar menjelang Hari Pelantikan Biden. Keadaan darurat yang diumumkan Trump pada hari Senin (11/1) waktu setempat ini, memungkinkan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Badan Manajemen Darurat Federal untuk membantu kota Washington, D.C. dalam setiap tanggap darurat.

Bowser telah menulis kepada Plt Menteri Keamanan Dalam Negeri, Chad Wolf pada hari Minggu (10/1) untuk mendesak pemerintah mengakui deklarasi pra-bencana di kota itu dalam persiapan untuk Hari Pelantikan Biden. Wolf mengumumkan bahwa dia mundur dari jabatannya tidak lama sebelum deklarasi keadaan darurat oleh Trump pada hari Senin, dengan alasan masalah yang sedang berlangsung seputar pengangkatannya. Seorang pejabat pemerintah Trump mengatakan kepada Politico bahwa dia juga termotivasi untuk mundur setelah serangan massa pendukung Trump ke gedung Kongres.

Wolf telah mengeluarkan pernyataan sehari setelah serangan itu mendesak Trump untuk mengutuk kekerasan tersebut. "Setiap kemunculan yang menghasut kekerasan oleh pejabat terpilih bertentangan dengan siapa kita sebagai orang Amerika," bunyinya.
Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat telah menyetujui 15.000 personel pasukan Garda Nasional untuk dikerahkan saat pelantikan Biden pada 20 Januari mendatang. Pengerahan pasukan ini dilakukan di tengah kekhawatiran serangan para pendukung Trump.

Dilansir AFP, Selasa (12/11) sudah ada 6.200 pasukan yang ditempatkan di Washington, dan total 10.000 personel direncanakan pada akhir pekan mendatang. Hal ini disampaikan oleh Jenderal Daniel Hokanson, kepala Biro Pengawal Nasional Departemen Pertahanan. Dia menambahkan, 5.000 personel lainnya dapat dikerahkan pada hari pelantikan.

Mereka akan dilengkapi dengan perlengkapan anti huru-hara dan senjata. Tetapi sejauh ini mereka belum diizinkan mempersenjatai diri saat berada di jalan-jalan ibu kota AS. Saat ini misi mereka adalah mendukung polisi setempat dalam komunikasi, logistik, dan keamanan.

Akui Pikul Tanggungjawab
Meskipun mengakui dirinya memikul 'sejumlah tanggung jawab' atas kerusuhan di Gedung Capitol Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump secara pribadi juga menyalahkan 'orang-orang Antifa' atas insiden itu. Padahal jelas video dan bukti dokumenter menunjukkan sebagian besar perusuh adalah pendukung Trump.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (12/1), laporan Axios menyebut Trump melontarkan hal tersebut dalam percakapan telepon selama 30 menit dengan Ketua Minoritas DPR AS, Kevin McCarthy, dari Partai Republik pada Senin (11/1) pagi waktu setempat.

Isi percakapan telepon itu diungkapkan seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebut namanya dan seorang sumber lainnya yang memahami percakapan telepon itu. Disebutkan juga bahwa McCarthy telah mengungkapkan isi percakapan telepon antaranya dirinya dengan Trump kepada para anggota parlemen dari Partai Republik dalam conference call selama 2,5 jam yang disebut sangat emosional.

Dalam percakapan telepon itu, Trump disebut menyalahkan 'orang-orang Antifa' atas penyerbuan dan kerusuhan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari lalu.

Antifa yang kependekan dari 'anti-fasis' ini merupakan gerakan aktivis militan kiri yang jumlahnya tidak diketahui dan saling berafiliasi, serta individu-individu yang menentang apa yang mereka anggap sebagai 'fasisme' di seluruh dunia. Antifa mendapat perhatian ekstra setelah berhadapan dengan massa supremasi kulit putih dalam unjuk rasa 'Charlottesville Unite the Right' tahun 2017 dan dengan kelompok sayap kanan 'The Proud Boys di Portland' tahun 2019.

Menanggapi komentar Trump itu, McCarthy menegaskan tidak sepakat. Diketahui bahwa para perusuh di Gedung Capitol merupakan para pendukung Trump. "Itu bukan Antifa, itu MAGA (Make America Great Again). Saya tahu. Saya ada di sana," tegas McCarthy kepada Trump, menurut seorang pejabat Gedung Putih dan seorang sumber lainnya.

Sang pejabat Gedung Putih menyebut percakapan telepon antara Trump dan McCarthy itu sangat tegang dan terkadang agresif, dengan Trump terus mengomel soal kecurangan pilpres dan McCarthy yang jengkel memotongnya untuk mengatakan: "Hentikan. Sudah berakhir. Pemilihan sudah berakhir."

Diungkapkan juga bahwa dalam percakapan telepon itu, McCarthy menyarankan Trump untuk menelepon Presiden terpilih AS, Joe Biden, dan meninggalkan surat sambutan di Resolute Desk di Ruang Oval, Gedung Putih, untuk penggantinya itu. "Saya memintanya secara pribadi. Hubungi Joe Biden. Demi negara ini," ucap McCarthy kepada Trump. Belum ada komentar resmi dari Gedung Putih terkait laporan ini.

Kerusuhan di Gedung Capitol AS pada Rabu (6/1) pekan lalu, sempat menunda sidang pengesahan kemenangan Biden dalam pilpres 2020. Akibat kerusuhan itu, para anggota parlemen AS terpaksa dievakuasi dan bersembunyi di tempat aman. Sedikitnya lima orang, termasuk satu polisi, tewas.

Ratusan pendukung Trump yang menyerbu Gedung Capitol AS, memicu kerusuhan dan mengacak-acak kantor-kantor di dalamnya. Kerusuhan terjadi setelah Trump, melalui pidatonya, mendorong para pendukungnya bergerak ke Gedung Capitol dan terus melontarkan tuduhan keliru soal kecurangan pilpres AS 2020.

Trump yang awalnya sempat menolak dan malah memuji pendukungnya yang terlibat kerusuhan sebagai 'sangat spesial', akhirnya mengecam kerusuhan itu sebagai 'serangan mengerikan'. Dalam percakapan telepon dengan McCarthy, Trump dilaporkan juga mengakui dirinya memikul 'sejumlah tanggung jawab' atas kerusuhan itu. (politico/Rtr/dtc/Kps/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com