Wapres “Parlemen Bayangan” Myanmar Ancam Gulingkan Junta Militer

* Lagi, 5 Demonstran Tewas Ditembaki Aparat Keamanan Myanmar

217 view
Wapres “Parlemen Bayangan” Myanmar Ancam Gulingkan Junta Militer
Foto:Rtr
Seorang demonstran dievakuasi menuju rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena luka-luka akibat dipukuli aparat keamanan Myanmar ketika membubarkan aksi demo anti-kudeta militer di Mandalay, Minggu (14/3).
Yangon (SIB)
Wakil Presiden yang dipilih oleh sekelompok anggota parlemen yang digulingkan, Mahn Win Khaing Than, menyerukan kepada masyarakat Myanmar agar terus melawan junta militer dan akan mengakhiri kudeta yang dimulai sejak 1 Februari lalu.

Seperti dilansir AFP, Minggu (14/3) para anggota parlemen yang kini bersembunyi, telah membentuk “parlemen bayangan” yang disebut Komite untuk Mewakili Pyidaungsu Hluttaw (CRPH) untuk mengecam rezim militer. CRPH menunjuk Mahn Win Khaing Than sebagai wakil presiden mereka.

Ketika pengunjuk rasa anti-kudeta berdemonstrasi menentang jam malam nasional, Than menyerukan kepada orang-orang untuk terus memprotes "kediktatoran tidak adil" rezim militer. "Ini saat tergelap bangsa dan cahaya menjelang fajar sudah dekat," kata Mahn Win Khaing Than dalam rekaman video yang diposting di halaman Facebook CRPH Sabtu (13/3) malam waktu setempat.

"Ini juga merupakan momen untuk menguji warga Myanmar agar melihat seberapa jauh kita dapat melawan masa-masa paling kelam ini," imbuh politisi NLD yang juga menjabat sebagai juru bicara DPR selama pemerintahan Suu Kyi sebelumnya itu.

Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, Than bersama dengan sekutu utama Suu Kyi lainnya telah ditempatkan di bawah tahanan rumah sejak kudeta 1 Februari lalu.

Pidato Than itu menjadi penampilan pertamanya dalam kapasitasnya sebagai pejabat wakil presiden CRPH. Ia menggemakan seruan gerakan anti-kudeta untuk "demokrasi federal" - yang akan memungkinkan kelompok etnis minoritas memiliki peran dalam pemerintahan Myanmar. "Pemberontakan ini juga merupakan kesempatan bagi kita semua untuk berjuang bersama bergandengan tangan guna mendirikan persatuan demokrasi federal yang kita semua telah lama inginkan," kata Than. "Demokrasi federal ... sedang menunggu kita dalam waktu dekat jika kita bergerak maju bersama dengan tak terkalahkan. Kita harus memenangkan pemberontakan ini," kata Mahn Win Khaing Than.

Komite tersebut telah mengeluarkan beberapa pernyataan sejak pembentukannya. Diketahui sebagian besar gerakan protes di Myanmar tidak memiliki pemimpin - dengan demonstrasi harian yang diorganisir oleh aktivis lokal. Merespon pembentukan CRPH, junta mengumumkan gerakan itu ilegal. Pembentukan CRPH disebut mirip dengan "pengkhianatan tingkat tinggi", yang membawa hukuman maksimal 22 tahun penjara.

5 Demonstran Tewas
Sementara itu, sedikitnya lima orang tewas ketika pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di Myanmar pada Minggu (14/3). Kekerasan terus dilakukan oleh militer Myanmar hingga tercatat mencapai lebih dari 80 orang tewas dalam protes, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP).

Seperti dilansir Reuters, Minggu (14/3) dalam video yang dimuat di situs media lokal, terlihat pengunjuk rasa memegang perisai buatan dan mengenakan helm saat mereka menghadapi pasukan keamanan di distrik kota Hlaing Tharyar. Gumpalan asap hitam membumbung di atas area itu dan satu laporan mengatakan dua pabrik di distrik itu telah dibakar. Kelompok media Irrawaddy mengatakan tiga orang tewas akibat protes hari Minggu tersebut.

Setidaknya dua orang terbunuh di tempat lain di negara Asia Tenggara itu, sehari setelah pejabat pemimpin pemerintah sipil paralel mengatakan akan berusaha memberi hak hukum bagi warga Myanmar untuk membela diri dari kekerasan junta. Seorang pria ditembak dan dibunuh di kota Bago, dekat Yango. Kachin Wave mengatakan seorang pengunjuk rasa lainnya tewas di kota Hpakant, di daerah pertambangan batu giok di timur laut Myanmar. Diketahui kota Monywa di Myanmar menyatakan telah membentuk pemerintah daerah dan kepolisiannya sendiri.

Di ibu kota perdagangan Yangon, ratusan orang berdemonstrasi di berbagai bagian kota setelah memasang barikade kawat berduri dan karung pasir untuk memblokir pasukan keamanan. Di satu lokasi lainnya, orang-orang melakukan protes sambil duduk di bawah lembaran terpal yang dipasang untuk melindungi mereka dari terik matahari tengah hari. "Kami membutuhkan keadilan," teriak mereka.

Seorang saksi mata mengatakan pasukan keamanan meluncurkan peluru, gas air mata dan kemudian menembaki pengunjuk rasa di distrik kota Hlaing Tharyar. Menurut laporan yang belum dikonfirmasi, satu orang tewas. Ketika dihubungi Reuters, juru bicara junta tidak menjawab panggilan telepon untuk dimintai komentar. Sementara itu, dalam siaran berita malam MRTV, media yang dikelola Junta, menyebut para pengunjuk rasa sebagai "penjahat" tetapi tidak merinci lebih lanjut maksud sebutan tersebut. (AFP/Rtr/dtc/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com