902 Warga Mengungsi Akibat Erupsi Gunung Semeru


166 view
902 Warga Mengungsi Akibat Erupsi Gunung Semeru
Foto: Dok/BNPB
Tempat Pengungsian: Salah satu sekolah yang dijadikan tempat pengungsian para warga akibat Erupsi Gunung Semeru yang terjadi Sabtu (4/12/2021). 
Jakarta (harianSIB.com)
Tim Gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berhasil melakukan evakuasi warga yang tadi malam dilaporkan Wakil Bupati Lumajang terjebak di kantor pemilik tambang. Saat ini para warga telah ditempatkan di Pos Curah Kobokan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“BPBD Kabupaten Lumajang melaporkan sampai saat ini terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik kecamatan akibat erupsi Gunung Semeru,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, PhD dalam siaran persnya, Minggu (5/12/2021).

Sebaran awan panas guguran, lanjut Abdul Muhari, juga berdampak pada dua kecamatan, antara lain Kecamatan Pronojiwo di Desa Pronojiwo, Oro-oro Ombo, Sumberurip, serta Dusun Curah Kobokan di Desa Supiturang serta Kecamatan Candipuro di Dusun Kamar Kajang di Desa Sumberwuluh dan Desa Sumbermujur.

Selain itu terdapat delapan kecamatan dan beberapa desa yang terdampak abu vulkanik, meliputi Kecamatan Ampelgading di Desa Argoyuwono, Kecamatan Tirtoyudo di Desa Purwodadi dan Desa Gadungsari, Kecamatan Pagelaran di Desa Clumprit, Kecamatan Wajak di Desa Bambang, Kecamatan Kepanjen di Desa Panggungrejo dan Mojosari, Kecamatan Dampit di Kelurahan Dampit, Kecamatan Bantur di Desa Bantur dan Rejosari, dan Kecamatan Turen di Desa Talok.

“BPBD Kabupaten Lumajang juga melaporkan terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik kecamatan. Di antaranya, 305 orang mengungsi di beberapa fasilitasi pendidikan dan balai desa di Kecamatan Pronojiwo, 409 orang mengungsi di lima balai desa di Kecamatan Candipuro, dan 188 orang mengungsi di empat titik yang terdiri dari rumah ibadah dan balai desa di Kecamatan Pasirian,” papar dia.

Kejadian sebaran awan panas guguran Gunung Semeru ini, kata Abdul, menyebabkan beberapa rumah warga tertutup material vulkanik serta jembatan Gladak Perak di Curah Kobokan yang menjadi akses penghubung Lumajang dan Malang terputus.

BPBD Kabupaten Lumajang menggunakan alat berat wheel loader untuk membuka akses jalan Curah Kobokan serta melakukan pendataan lanjutan terkait kerugian materil lainnya akibat peristiwa ini.

“Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), saat ini Gunung Semeru masih dalam status level II atau ‘waspada’, beber dia.

“Adapun pemantauan kondisi udara melalui radar Accuweather Udara mencapai tingkat polusi tinggi dan berdampak negatif terhadap kelompok yang masuk dalam kategori rentan, yaitu lansia, ibu hamil, disabilitas serta anak-anak,” ujar dia.

Pantauan secara visual, menurut Abdul, menunjukkan awan panas guguran telah berhenti dikarenakan kondisi hujan di sekitar puncak kubah lava Gunung Semeru.

BPBD terus melakukan koordinasi bersama perangkat desa setempat dan Pos Pengamat Gunung Api (PPGA) terkait pemutakhiran aktivitas Gunung Semeru.

“BPBD Kabupaten Lumajang mengimbau masyarakat setempat untuk tidak melakukan aktivitas di Daerah Aliras Sungai (DAS) Mujur di Curah Kobokan dan DAS lainnya maupun beberapa tempat yang dimungkinkan menjadi tempat aliran guguran awan panas,” tandasnya.(*)

Penulis
: Victor Ambarita
Editor
: Robert /Eva R Pelawi
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com