API Vaksin ke-2, Wali Kota Minta Pemuka Agama Jadi Contoh Patuh Prokes Covid


180 view
Foto: SIB/Oki Lenore
VAKSIN : Penasihat API Medan, Ps Ev Rajamin Sirait MA dan Ketua DPC API Medan, Pdt Pahotan Sihombing mengapit Plt Kadis Kesehatan Medan, Dr dr Syamsul Arifin Nasution (tengah), di GBI Amplas, Senin (3/5). Ikut mendampingi Sekretaris Pdt Rijen Sihombing dan Bendahara Pdt Mardos Nababan serta petugas medis.
Medan (SIB)
Wali Kota Medan diwakili Plt Kadis Kesehatan Medan, Dr dr Syamsul Arifin Nasution, meminta pemuka agama menjadi contoh mematuhi protokol kesehatan (prokes) Covid-19 dengan gerakan 5M. Meski sudah vaksin ke-2 patuh prokes adalah keharusan.

Penegasan itu disampaikan ketika mengikuti vaksinasi tahap kedua pemuka agama, pendeta dan pengerja gereja dipusatkan di GBI Amplas, Senin (3/5). Ikut mendampingi kegiatan Penasihat Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Medan Ps Ev Rajamin Sirait MA, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) API Medan, Pdt Pahotan Sihombing, Sekretaris Pdt Rijen Sihombing dan Bendahara Pdt Mardos Nababan.

Syamsul Arifin Nasution meminta peserta vaksin menjadi contoh pada warga lainnya untuk mengindahkan anjuran kesehatan di masa pandemi, termasuk aturan yang diberlakukan pemerintah dalam hal ini Gugus Tugas Covid-19.

Pdt Pahotan Sihombing berterima kasih pada jajaran Pemko Medan khususnya Wali Kota Medan yang menaruh perhatian serta memrioritaskan pada pemuka dan pimpinan agama untuk vaksin. “Pemuka dan pimpinan agama adalah kelompok yang kerap bertemu dengan publik hingga vaksin menjadi bagian jaminan kesehatan,” ujarnya.

Ia melaporkan, vaksin tahap pertama diikuti tak sampai seratus peserta tapi di tahap kedua semakin banyak. Artinya, kesadaran untuk vaksin semakin tinggi. “Meski sudah vaksin, tetap harus 5M dan patuh prokes,” ujarnya sambil berterima kasih pada tuan rumah yakni GBI Amplas yang digembalakan Pdt Mardos Nababan.

Ps Ev Rajamin Sirait menambahkan, meski vaksin kedua sudah diterima tapi meminta pimpinan dan tokoh agama tetap patuh prokes. “Instruksi dari pemerintah menjadi pegangan. Kebaktian, misalnya, harus disesuaikan dengan prokes Covid-19 tapi idealnya masih tetap menggunakan teknologi, secara virtual,” ujarnya.

Menyampaikan Firman-Nya adalah keharusan tapi tidak harus tatap muka dengan cara konvensional. “Yang terpenting menebalkan iman jemaat dan makna sari firman sampai dan diamalkan,” papar PS Ev rajamin Sirait.

Melalui API pihaknya mengimbau agar pimpinan dan tokoh agama yang belum vaksin, mengikutinya karena untuk kesehatan bersama. “Saya optimistis, pendeta dalam API Medan masa bakti 2020 - 2025 yang dikukuhkan November 2020 di Grand Antares Indonesia ini, patuh,” tutupnya. (R10/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com