Alat Tangkap Ikan Rusak, Puluhan Nelayan Hentikan Alat Berat Beko di Sungai Simagalam Labura


240 view
Alat Tangkap Ikan Rusak, Puluhan Nelayan Hentikan Alat Berat Beko di Sungai Simagalam Labura
Foto SIB/ Jepri Nainggolan
KERUK TANAH :  Satu unit alat berat beko PT KSS (Karya Sari Sentosa) menggunakan panton mengeruk tanah di aliran Sungai Simangalam tempat umum pencarian ikan nelayan, Desa Simangalam, Kecamatan Kualuhselatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura). Dan alat tangkap ikan nelayan rusak, Sabtu (23/10/2021).
Aekkanopan (harianSIB.com)

Puluhan Nelayan Alam Jaya Lestari Dusun Satu dan Persatuan, Desa Simangalam, Kecamatan Kualuhselatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) menghentikan pekerjaan operator alat berat beko pengeruk tanah di Sungai Simangalam, Sabtu (23/10/2021).

Menurut Ketua Nelayan Helmiadi Nasution didampingi puluhan anggota penghentian pekerjaan satu unit alat berat beko PT KSS (Karya Sari Sentosa) di aliran Sungai Simangalam, akibat pengerukan tanah tempat umum mata pencarian ikan nelayan setiap hari.

"Sehingga banyak alat tangkap ikan yang rusak seperti jaring, bubu. Dan tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab atas kerusakan alat tangkap tersebut", ujarnya kepada jurnalis koran SIB Jepri Nainggolan, Sabtu (23/10/2021).

" Awalnya para nelayan boleh memasuki areal tanah sawit PT KSS untuk mencari ikan setiap hari, namun akibat seringnya buah sawit milik perusahaan tersebut hilang. Para nelayan tidak diperbolehkan mencari ikan lagi. Sehingga kami menduga pihak perusahan mencurigai para nelayan ", katanya.

Dikatakan, alat berat beko PT KSS itu beroperasi semenjak tahun 2015 sampai sekarang untuk mengeruk tanah menimbun benteng yang jebol diareal sawit mereka. Agar air tidak membanjiri ketanaman sawitnya saat musim hujan.

Dan menjadi pertanyaan para nelayan, mengapa pengerukan tanahnya tidak dikerjakan di areal mereka. Padahal, lahan tanah mereka luas mencapai ribuan hektar? Ini dikeruk di sungai tempat umum pencarian nelayan mencari nafkah setiap hari.

"Akibatnya, penghasilan nelayan menjadi berkurang. Yang biasanya bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu perhari dari hasil penjualan ikan. Namun sekarang, penghasilan menurun dari biasanya. Untuk mendapatkan ikan saja terkadang tidak dapat, apalagi untuk membeli minyak bensin dan solar kapal," katanya.

" Kami sudah pernah melakukan pertemuan yang difasilitasi Kades dan perwakilan PT KSS asisten Peri serta anggota DPRD Labura. Mediasi pertama, Senin (11/10/2021), Peri mengatakan, alat berat beko pengeruk tanah di sungai tersebut tidak akan beroperasi lagi. Tapi, nyatanya sampai sekarang masih beroperasi mengeruk tanah. " Kalau dibiarkan terus menerus khawatir terjadi konflik antara nelayan dan pihak PT KSS," katanya.
Sementara, Askep PT KSS Danu Umbara dikonfirmasi via seluler Minggu (24/10/2021) malam menyebutkan, pihak perusahaan tidak ada melarang nelayan mencari ikan dengan cara memancing dan menjala di areal perkebunan tersebut.

Awalnya, jelas dia, benteng areal kebun perusahaan jebol (pecah). Sering beberapa kali, mengalami buah sawit hilang dan perusahaan tidak pernah menuduh nelayan mengambil buah sawit. Sebenarnya, beberapa oknum menamakan nelayan menggunakan miskur dan sampan masuk ke areal perusahaan.

Dengan kejadian itu, katanya pihak perusahaan melakukan pengamanan, security menjaga ketat di areal tersebut.

" Awalnya kita melarang nelayan masuk ke areal perkebunan kita dengan menggunakan miskur dan sampan. Sudah pernah melakukan pertemuan di desa diwakili para nelayan, babinsa, babinkamtibmas dan Kades serta dijelaskan solusi ke nelayan diizinkan mengambil ikan. Tapi harus ada yang bertanggung jawab, kalau ada melihat maling sawit serta berkordinasi dengan saling menjaga," katanya.

Dikatakan, dalam pertemuan itu, pak Kades sudah tahu siapa yang mengambil sawit, tapi ada yang disembunyikan nelayan tanpa memberi tahu namanya.

" Jika para nelayan dapat informasi atas maling sawit tersebut cepat dilaporkan ke perusahaan, untuk memutus mata rantai. Karena, bukan milik perusahaan saja yang diambil, milik masyarakat sekitar juga," katanya

" Untuk alat berat kita yang mengeruk tanah di sungai itu tidak ada masalah, karena pak Kades mengatakan tidak berhak pihak manapun melarang aktivitas itu. Karena kita berinventasi, untuk normalisasi air sungai satu jalur, sampai ke hulu. Lagian alat berat beko itu tidak selamanya di sungai, apalagi sekarang musim kemarau", katanya.

Saat ditanya, mengenai alat tangkap ikan nelayan seperti jaring dan bubu yang rusak, akibat pengerukan tanah di areal sungai umum mata pencarian nelayan, dikatakan, sebelumnya, sudah diganti kepada para nelayan. (*)
Penulis
: Jepri Nainggolan
Editor
: Robert
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com