Asisten Personalia PTPN III Kebun Bangun Berharap Orang-orang yang Memperjualbelikan Tanah Negara Harus Ditindak


232 view
Asisten Personalia PTPN III Kebun Bangun Berharap Orang-orang yang Memperjualbelikan Tanah Negara Harus Ditindak
Foto : Indonesia.go.id
Ilustrasi

Pematangsiantar (SIB)


Asisten Personalia PT Perkebunan Nusantara III Kebun Bangun, Doni Freddy Manurung SH berharap, orang-orang yang berkedok sebagai petani, kelompok tani dan memperjualbelikan tanah negara di Kota Pematangsiantar harus ditindak tegas.

"Tuntutan mahasiswa itu juga menjadi harapan kami, supaya, orang-orang yang berkedok sebagai petani, kelompok tani, lantas memperjualbelikan tanah negara, ya harus ditindak," katanya saat disinggung terkait aksi demo Aliansi Mahasiswa Sumatera Utara yang menuntut Polda Sumut untuk menangkap mafia tanah di Pematangsiantar, Selasa (1/11)

Doni mengaku, orang orang yang sudah memperjualbelikan lahan HGU PTPN III Kebun Bangun di Kelurahan Bah Sorma dan Gurilla telah dilaporkan ke Polda Sumut. "Iya, itulah yang diproses di Polda Sumut, informasi sudah naik sidik dan sudah ada TSK nya, untuk kasus jual beli lahan," ujar Doni sembari mengklaim ada mafia tanah yang menggarap HGU PTPN III Kebun Bangun di Kelurahan Bah Sorma dan Gurilla.

"Sebenarnya, itulah praktek di sini, hanya saja dibungkus dengan bahasa tolak cangkul. Secara itikad, itu itikad jual beli sebenarnya.

Tapi mereka bungkus dengan narasi tolak cangkul, maka kita berharap di sini kepolisian lebih jeli. Kalaupun dibungkus dengan narasi seperti itu. Tapi, ketika itikad itu bisa menunjukkan bahwa itu memang transaksi jual beli, tidak perlu merujuk pada narasi. Kalau tolak cangkul, logis gak orang beli Rp 20 juta satu rante," cecar Doni.

Selain itu, Doni juga menegaskan, dalam beberapa kesempatan, warga penggarap mengklaim, Kelompok Tani Futasi menguasai 126 hektar HGU PTPN Kebun Bangun di Kelurahan Bah Sorma dan Gurilla. "Artinya, total keseluruhan HGU itu mereka klaim. Faktanya, yang mereka duduki hanya 91,53 hektar. Tapi mereka mengklaim (dengan spanduk) 126 hektar. Sisanya kemana, sisa itu, saat ini kami usahain dengan tanaman kelapa sawit. Jadi, kalau mereka katakan sudah kami kuasai dari dulu, itu kan gak logis," terang Doni.

Doni mengaku, dari 91 hektar yang sebelumnya dikuasai warga penggarap, saat ini, pihaknya telah mengambilalih seluruh lahan secara luasan. "Penguasaan pisik sudah semua, tapi penguasaan keamanan tidak. Kenapa tidak, karena jantung-jantung mereka masih di dalam. Artinya, di samping rumah warga itu, sudah kita tanami pohon kelapa sawit, semua sudah kita kuasai keliling," tegasnya.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com