BKKBN Optimis Percepatan Penurunan Angka Stunting di Sumut


147 view
BKKBN Optimis Percepatan Penurunan Angka Stunting di Sumut
(foto:SIB/A03)
Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Mhd Irzal memberikan keterangan pers kepada wartawan pada Forum Koordinasi Jurnalis dan sekaligus buka puasa bersama di  Medan, Kamis  (21/4/2022).

Medan (SIB)

Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Mhd Irzal SE ME menegaskan Sumut berusaha maksimal dan merasa optimis percepatan penurunan angka stunting di Sumut 14 persen akan tercapai sesuai target di 2024.


Hal itu disampaikannya, di hadapan sejumlah wartawan saat buka puasa bersama Forum Koordinasi Jurnalis di Medan, Kamis sore (21/4).


Lebih lanjut ditegaskannya, ini sesuai amanah Presiden RI dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Makanya persoalan stunting menjadi prioritas utama sebagai upaya mempersiapkan generasi penerus yang lebih baik.


“Persoalan stunting bukan hanya soal gizi, tapi lingkungan atau sanitasi juga harus diperhatikan. Persoalan stunting saat ini menjadi prioritas. Jadi diperlukan kerjasama semua pihak dan stakeholder untuk sama-sama bekerja untuk menurunkan angka stunting sesuai dengan yang kita harapkan,” kata Mhd Irzal.


Dikatakannya, sesuai data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dikeluarkan Kemenkes RI, angka stunting di Sumut mencapai 25,8%. Meski ada beberapa kabupaten/kota di Sumut yang terdapat kasus stuntingnya tinggi.


“Sesuai data SSGI tahun 2021 di Sumut sebesar 25,8%. Artinya apa? yaitu dalam 100 balita yang lahir berarti 25 sudah stunting. Oleh karena itu pemerintah menargetkan bahwa tahun 2024 angka stunting menjadi 14% . Sekarang di Sumut 25,8% tahun 2021. Jadi diturunkan menjadi 14% tahun 2024. Berarti ada 2 tahun lagi waktunya. Makanya kita lakukan strategi BKKBN, Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI),” terangnya.


“Upaya yang terus dilakukan Perwakilan BKKBN Sumut, pendataan keluarga, karena kita punya data keluarga berisiko stunting. Beda keluarga yang berisiko stunting dengan stunting, itu jelas sangat beda. Misalnya anak tersebut sanitasinya belum baik, gizinya juga belum baik. Jadi itu berisiko terkena stunting dan masih bisa dilakukan pendampingan supaya anak tersebut pada umur 2 tahun bisa tumbuh sehat,” jelas Irzal.


Sehingga katanya, Perwakilam BKKBN Sumut telah menyiapkan sebanyak 10.323 Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Sumut atau setara dengan 30.969 orang penggerak pendamping keluarga yang akan disebar di seluruh Kabupaten/Kota di Sumut.


Menurutnya selain memberikan sosialisasi dan pendampingan, para tim pendamping akan melakukan koneksi data ke aplikasi sebagai upaya mendeteksi lebih awal terhadap potensi bayi yang akan dilahirkan dengan melihat kodisi calon pasangan pengantin. (A03/a)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com