BMKG: Waspada Curah Hujan Tinggi Akhir Tahun Akibat La Nina


185 view
BMKG: Waspada Curah Hujan Tinggi Akhir Tahun Akibat La Nina
(Rengga Sancaya/detikcom)
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati
Jakarta (SIB)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan prakiraan curah hujan akibat fenomena La Nina. BMKG menyebut, fenomena La Nina pada level moderate sering dimulai pada musim hujan sampai Februari 2022.

"Demikian juga pusat layanan iklim dunia lainnya, seperti di Amerika oleh NOAA, di Australia oleh BoM dan di Jepang oleh Japan Meteorological Agency memperkirakan bahwa La Nina ini setidaknya akan terjadi hingga level moderate hingga Februari 2022," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam Rakornas Antisipasi La Nina yang disiarkan di kanal YouTube BMKG, Jumat (29/10).

Dwikorita mengatakan, dari data BMKG, fenomena La Nina ini menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan bulanan di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pada November mendatang. Akumulasi curah hujan bulanan dapat meningkat 70 persen.

"Berdasarkan data tahun lalu, yang diprediksi akan terulang kembali dengan intensitas yang serupa bahwa di bulan November ini terutama yang warna hijau tua, hijau tua di sini akan mengakibatkan peningkatan curah hujan bulanan sebesar 70 persen, bahkan dapat mencapai 100 persen di bulan November, terlihat merata di di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan cukup merata di Nusa Tenggara Timur, tapi terutama di Jawa, seluruh wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat," jelasnya.

"Ini mohon perhatian intensitas curah hujan intensitas curah hujan dapat mencapai lebih dari 70 persen dari normalnya, kurang-lebih seperti tahun lalu," sambungnya.

Dwikorita menyampaikan, curah hujan di Indonesia pada Desember bisa meningkat sampai 100 persen dari normalnya. Namun, kata Dwikorita, di Pulau Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Barat, intensitas hujan menurun sehingga dapat berpotensi terjadi kekeringan.

"Di bulan Desember, curah hujan meningkat warna hijau terutama 70-100 persen di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun sebagian daerah lainnya warnanya oranye, artinya itu justru kekurangan air, jadi intensitas hujannya menurun. Yang kuning ini di Sumatera ini sporadis, kemudian di Kalimantan juga terutama Kalimantan Barat ini potensi kekeringan," ungkapnya.

Dwi mengatakan, apa yang dia sampaikan ini merupakan pemaparan secara umum. Dwi meminta kementerian/lembaga terkait mengefektifkan koordinasi sinergi antara kementerian dan lembaga.

"Tujuan Rakornas ini memberikan informasi kondisi iklim terkini dan kehadiran La Nina di tahun ini hingga awal tahun depan, dan mengidentifikasi dampak La Nina terhadap kegiatan multi-sektoral serta mengevaluasi efektivitas koordinasi sinergi, koneksitas, dan komunikasi dalam aksi mitigasi La Nina tahun lalu," ucapnya.

Antisipasi
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinasi Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan instruksi kepada seluruh pimpinan daerah terkait dampak yang akan terjadi akibat La Nina. Luhut menyebut kementerian atau lembaga terkait harus bersinergi.

"70 persen di Indonesia itu harus segera diantisipasi dan disiapsiagakan upaya mitigasi dini oleh semua pihak dan kementerian/lembaga terkait terutama Kementerian PUPR, Kementerian ESDM, Badan Geologi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sosial, Kementerian Pertanian, Kementerian Perhubungan, dan BNPB harus segera berkoordinasi dan bersinergi untuk melakukan langkah-langkah pencegahan bencana hidrometeorologi dan dari hulu hingga hilir. Saya kira sangat penting untuk kita lakukan sehingga kita nanti tidak terdadak," kata Luhut.

Luhut menyampaikan, perlu adanya matriks rencana aksi agar sinergi antarlembaga dapat berjalan efektif dan cepat. Luhut juga meminta ada simulasi atau tactical floor game untuk mengecek langkah-langkah yang terlewatkan.

"Lakukan siapkan semua matriks rencana aksi agar sinergi dapat terlaksana secara efektif, cepat, dan tepat, lakukan juga simulasi kesiapan kesiagaan atau tactical floor game yang sudah berkali-kali kita lakukan untuk mengecek apabila ada ada hal atau langkah yang harus disiapkan namun masih terlewatkan," tuturnya.

"Siapkan jalur komunikasi yang terintegrasi antar-kementerian/lembaga terkait untuk mengefektifkan dan mempercepat koordinasi dan sinergi serta memonitor dan update perkembangan informasi terkait La Nina cuaca ekstrem dari sumber resmi BMKG. Dan ini saya minta sekali lagi, kita semua harus hati-hati, sudah ada peringatan dini dan akurasi dari BMKG dari waktu ke waktu. Saya lihat makin ke hebat," imbuhnya. (detikcom/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com