BPN Pematangsiantar Tegaskan Lahan 126,59 Hektare yang Digarap Hak Mutlak PTPN III


92 view
BPN Pematangsiantar Tegaskan Lahan 126,59 Hektare yang Digarap Hak Mutlak PTPN III
(Foto: Dok/Ramces Pandiangan)
PERTEMUAN:  Dalam pertemuan dengan para penggrap di Kantor Camat Siantar Sitalasari, Kamis (11/11/2021), BPN Pematangsiantar menegaskan  lahan seluas 126,59 hektare yang digarap merupakan HGU aktif sampai 2029  hak penuh PTPN III. 
Pematangsiantar (harianSIB.com)
Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pematangsiantar menegaskan lahan seluas 126,59 hektare di Kelurahan Gurilla dan Kelurahan Bah Sorma, Kecamatan Siantar Sitalasari, Pematangsiantar, yang selama ini digarap merupakan hak mutlak PTPN III. Hak Guna Usaha (HGU) lahan tersebut aktif sampai 2029.

Hal itu dikatakan perwakilan BPN Pematangsiantar Eko dan Afrijal dalam pertemuan dengan para penggarap lahan PTPN III unit Bangun, di Kantor Camat Siantar Sitalasari, Kamis (11/11/2021).

Pertemuan itu dihadiri Kabag Ops Polres Pematangsiantar Kompol Lamin, Kasat Intel AKP Basri Lubis, Kanit 2 Ekonomi Ipda Fitra, Kapolsek Siantar Martoba AKP Amir Mahmud, Danramil Siantar Barat Kapten Inf Suheri, Camat Siantar Sitalasari Abdi Riadi Siregar dan Konsultan hukum PTPN III Ramces Pandiangan MH.

Dalam pertemuan itu, BPN Pematangsiantar secara gamblang memberikan penegasan lahan yang digarap tersebut merupakan HGU aktif PTPN III, sehingga PTPN III memiliki kewenangan penuh untuk mengelola.

"Sekalipun HGU-nya tidak aktif, yang memiliki hak atas lahan tersebut adalah PTPN III. Apalagi lahan yang luasnya 126,59 hektare itu masih aktif dan masih lama sampai 2029, tentu merekalah yang berhak atas tanah itu, " tegas Eko didampingi rekannya Afrijal.

Sementara itu, para penggarap yang mendengar penjelasan tersebut tetap tidak berterima. Mereka tetap menyalahkan dan menuding konsultan hukum PTPN III sebagai pengganggu dan merupakan bagian dari mafia tanah.

Dengan berteriak para penggarap mengatakan kenyamanan mereka terusik setelah kedatangan konsultan hukum PTPN III Ramces Pandiangan ke lokasi garapan. Mereka juga menuding sugu hati yang diberikan kepada penggarap yang mau meninggalkan lokasi adalah uang pribadi Ramces Pandiangan yang tidak ada kaitannya dengan PTPN III.

"Ramces Pandiangan ini mengganggu kami di garapan. Selama ini kami sudah nyaman kenapa lah datang konsultan PTPN III itu membuat kami tidak aman. Mengapa kami dibiarkan sampai selama ini di garapan ini. Saat kami sudah bangun rumah kami mau digusur si Ramces konsultan ini," ujar penggarap dengan nada keras.

"Hebat kali rupanya Ramces itu. Kami bermohon sama Bapak-bapak agar Ramces Pandiangan dilarang datang ke garapan. Semua kami diobrak abrik, dipecah-pecah. Dibongkar rumah yang menerima uang dari Ramces. Memang banyak kalilah uang si ramces itu. Kami merasa tidak merdeka, karena kehadiran belanda-belanda hitam di garapan. Ramces si belanda hitam," teriak para penggarap yang tetap ngotot dan tidak terima dengan kenyataan yang disampaikan BPN Pematangsiantar.

Setelah lelah berteriak-teriak tanpa respon, akhirnya para penggarap yang didominasi ibu-ibu itu pulang meninggalkan lokasi pertemuan. (*)

Penulis
: Putra Nainggolan
Editor
: Donna Hutagalung
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com