Analisis Pemerhati Lingkungan Jaya Arjuna:

Banjir Bandang Akibat Rusaknya Lingkungan Hutan di Daerah Hulu


197 view
Banjir Bandang Akibat Rusaknya Lingkungan Hutan di Daerah Hulu
Foto: Ist/harianSIB.com
Pemerhati Lingkungan Sumatera Utara, Jaya Arjuna 
Samosir (SIB)
Pemerhati Lingkungan Sumatera Utara, Jaya Arjuna menganalisa penyebab banjir bandang di Sumatera Utara, karena rusaknya kondisi humus dan hutan, terutama yang berada di kawasan daerah tangkapan air dan bukan karena kondisi alam melalui hujan.
“Lebih separuh luas hutan di Daerah Tangkapan Air (DTA) pada kondisi kritis dan curah hujan pada saat kejadian katagori rendah yaitu 41 mm. Kondisi keberadaan humus dan tegakan kayu menjadi faktor yang sangat besar dalam menahan air tekan air hujan. Hujan yang turun ke bumi sebagian meresap ke tanah dan keluar sebagai mata air dan mengalir ke sungai,” katanya.
Jaya Arjuna menjelaskan kepada SIB, Kamis (7/12) melalui selulernya, ketebalan humus di kawasan hutan dapat mencapai 25-50 cm dan mampu menyerap air hingga 200 liter permeter persegi.
Humus terbentuk secara alami melalui penumpukan dedaunan dan ranting yang jatuh di sekitar pepohonan. Proses alami inilah menurut Jaya Arjuna yang banyak rusak akibat aktivitas manusia di kawasan hutan seperti penebangan kayu.
“Proses banjir bandang ini akibat tidak tertahannya lagi air oleh tanah. Air dapat mencongkel permukaan tanah (tergerus) dan membawa seluruh material tanah termasuk kayu dan daun bekas sisa penebangan dan bebatuan yang berada di sekitar”, katanya lagi.
Pohon di kawasan pegunungan dan lereng perbukitan tidak boleh asal ditebang dan dimanfaatkan, meskipun individu atupun perusahaan yang telah mengantongi izin Hak Guna Usaha (HGU).
Selain itu, perusahaan pemilik izin usaha industri kehutanan, wajib mempertimbangkan kondisi lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) nya, sebelum melakukan penebangan.
Ketika SIB mempertanyakan terkait banjir bandang di Kabupaten Samosir dan Humbang Hasundutan melalui selulernya, Jaya Arjuna juga mengatakan penyebab banjir bandang di kawasan Danau Toba, juga dilihat dari letak topografi dan kondisi tanah bebatuan.
Di Kabupaten Samosir dan Humbang Hasundutan tekstur tanahnya terbentuk dari bekas aktivitas letusan gunung berapi.
Kalau dia terbentuk karena aktivitas vulkanik dari gunung yg masih aktif, maka sering terjadi getaran kecil (tremor) yang dapat merusak ikatan tanah dan bebatuan yang bila dimasuki air menyebabkan banjir bandang. Batuan akan menyembur dari perut bumi.
Hal penting lainnya yang jadi perhatian adalah bencana itu telah mengakibatkan Desa Simangulampe tertutup batuan besar.(**)
Penulis
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com