Bantu Warga Hendak Melahirkan, Parlindungan Manurung Anggota DPRD Asahan Bantah Bersikap Arogan di RS Bunda Mulia

* RS Bunda Mulia: Arogan dan Pukul Meja 2 Kali

211 view
Bantu Warga Hendak Melahirkan, Parlindungan Manurung Anggota DPRD Asahan Bantah Bersikap Arogan di RS Bunda Mulia
(Foto: SIB/Mangihut Simamora)
KONFERENSI PERS : Parlindungan Manurung (tengah), didampingi Handi Afran Sitorus dan Jansen Hutasoit ketika memberikan keterangan kepada wartawan dalam konferensi pers, Sabtu (9/4). 

Kisaran (SIB)

Parlindungan Manurung, anggota DPRD Asahan dari Fraksi PDI-Perjuangan membantah bersikap arogan di RS Bunda Mulia Kisaran seperti diberitakan di salah satu media online berdasarkan keterangan dr Binsar Sitanggang SpOG, pemilik RS Bunda Mulia.


"Tidak benar saya bersikap arogan, apalagi sampai memukul meja. Hanya intonasi bahasa saya tinggi karena emosi," kata Parlindungan Manurung, didampingi Ketua F-PDIP Asahan Handi Afran Sitorus dan Jansen Hutasoit anggota F-PDIP lainnya dalam konferensi pers, Sabtu (9/4).


Dijelaskan Parlindungan, emosinya tersulut ketika pihak RS Bunda Mulia disinyalir lamban menangani pasien Nelfi Br Simbolon, warga Sei Nadoras istri seorang anggota TNI yang sedang bertugas ke Papua hendak melahirkan. Nelfi pecah ketuban dan dibawa ke RS Bunda Mulia tanggal 4 April 2022 sampai tanggal 7 April 2022 terkesan tidak ditangani.


"Konstituen kita mendatangi RS Bunda Mulia untuk menanyakan hal ini ke receptionis, setelah memperkenalkan diri," ujarnya.


Lanjutnya, Nelfi yang semakin mengkhawatirkan kesehatannya dengan kondisi air ketuban merembes di kain, pihak keluarga Nelfi berinisiatif mencari rumah sakit lain. Di RS Adam Malik, NICU (inkubator) serta ruang persalinan penuh dan akhirnya ke RS Grand Medistra Lubuk Pakam.


"Nah di sini setelah semuanya (menelepon rumah sakit), rujukan yang awalnya RS Adam Malik, malah dikeluarkan ke RS Pirngadi Medan. Ini yang membuat intonasi bahasa kita tinggi, namun itu tidak lama karena kita terus pergi ke luar RS Bunda Mulia menenangkan diri ke luar," ucapnya.


Masih keterangan Parlindungan, karena menyangkut nyawa, Nelfi "dilarikan" ke RS Grand Medistra. Tak lama tiba, Nelfi ditangani dan melahirkan seorang bayi perempuan."Puji Tuhan, ibu dan bayi dalam kondisi sehat. Menurut tenaga kesehatan RS Grand Medistra, terlambat sedikit lagi aja kami sampai, bisa membahayakan jiwa pasien beserta bayinya," ungkap Parlindungan menirukan perkataan tenaga kesehatan tersebut.


Ditambahkan Parlindungan, dirinya menyesalkan perkataan dr Binsar Sitanggang ke adik Nelfi yakni Mia Simbolon dan ibunya yang menyebutkan, "Tak tahu diri, pasien BPJS aja pun". "Ini tentu kita sayangkan, karena BPJS itu program Presiden Jokowi," katanya.


Sementara, Handi Afran dan Jansen Hutasoit mengatakan permasalahan ini sebenarnya bukanlah masalah besar. Namun karena ada pemberitaan di media online dan menyebutkan anggota DPRD Asahan dari Fraksi PDI-Perjuangan serta pihak RS Bunda Mulia akan membawa ke ranah hukum, mau tidak mau pihaknya mengambil sikap.


"Melihat narasi diberita seakan anggota kita bersalah padahal belum tentu. Karena itu kita siap melakukan pendampingan, jika kasus ini berlanjut. Tindakan Parlindungan Manurung membantu masyarakat demi menyelamatkan nyawa tentu hal yang patut kita apresiasi, dan itu sesuai instruksi Ibu Megawati Ketum PDIP," tegas mereka.


Terpisah, dr Binsar Sitanggang ketika dikonfirmasi SIB, Senin (10/4) mengatakan Parlindungan Manurung, anggota DPRD Asahan itu bersikap arogansi dan memukul meja di ruang tunggu perawat (Nurse Station). Menurutnya ada 2 kali pemukulan meja dan itu menyebabkan para perawat yang bertugas syok.


Ditanya, sikap Parlindungan Manurung dikarenakan lambannya penanganan terhadap Nelfi, Binsar membantah hal ini.


Menurutnya, kondisi bayi Nelfi adalah prematur atau kurang umur sehingga penanganannya tidak sama dengan kandungan bayi cukup umur.


"Kalau memang ada pelayanan yang merugikan pasien silahkan keluarga melaporkan ke Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK), itu mekanismenya. Jika hendak konfirmasi juga silahkan, kedepankan sopan santun bukan marah-marah apalagi pukul meja. Kita kesalkan perilaku seperti ini,” ujarnya.


Ditanya lagi, ada ucapan tak tau diri pasien BPJS aja pun, dengan tegas dr Binsar Sitanggang membantahnya. “Tidak mungkin saya ada mengucapkan itu,” katanya sembari mengatakan penyelesaian permasalahan ini telah diserahkan ke Ketua DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Asahan. (SS17/f)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com